Kelelahan dan Main HP di Jalan Bisa Picu Kecelakaan, Teknologi AI Kini Bisa Mendeteksinya
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Kamera di kendaraan selama ini lebih sering berfungsi sebagai saksi setelah kecelakaan terjadi. Rekaman dashcam dapat membantu melihat kronologi tabrakan, mencari penyebab insiden, hingga menjadi bukti ketika terjadi perselisihan di jalan.
Namun, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah fungsi tersebut. Kamera kendaraan kini dapat digunakan untuk mengenali perilaku berisiko ketika kendaraan masih berjalan.
Kelelahan, perhatian yang teralihkan, penggunaan ponsel, hingga jarak terlalu dekat dengan kendaraan di depan menjadi sejumlah perilaku yang dapat dideteksi secara real-time.
Ketika risiko muncul, sistem dapat memberikan peringatan langsung kepada pengemudi. Pada saat yang sama, informasi mengenai kejadian tersebut dapat diteruskan kepada pengelola armada sehingga tindakan korektif bisa dilakukan lebih cepat.
Perubahan ini penting terutama bagi perusahaan yang mengoperasikan kendaraan dalam jumlah besar. Pengemudi dapat berada di jalan selama berjam-jam, sementara manajer armada tidak mungkin mengawasi langsung kondisi setiap kendaraan.
Teknologi kemudian berperan bukan hanya sebagai alat dokumentasi, tetapi sebagai lapisan pemantauan tambahan yang membantu mengidentifikasi potensi masalah sebelum berkembang menjadi kecelakaan.
Faktor Manusia Masih Menjadi Persoalan Besar di Jalan
Data kecelakaan di sejumlah negara menunjukkan bahwa perilaku manusia merupakan bagian penting dalam keselamatan jalan. Di Indonesia, data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri yang dikutip Databoks mencatat 148.798 kecelakaan lalu lintas sepanjang 2023. Sebanyak 140.812 kasus atau 94,63 persen dikaitkan dengan faktor manusia. Dari seluruh kecelakaan tersebut, tercatat 22.190 korban meninggal dunia.
Gambaran serupa juga terlihat di negara dengan sistem keselamatan jalan yang telah berkembang. Di Amerika Serikat, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) mencatat 3.208 orang meninggal dalam kecelakaan yang melibatkan pengemudi terdistraksi pada 2024. Pada tahun yang sama, lebih dari 315.000 orang dilaporkan mengalami cedera dalam kecelakaan terkait distraksi. ([NHTSA][2])
Di Inggris, data Department for Transport menunjukkan bahwa pada 2025 faktor perilaku atau kurangnya pengalaman tercatat pada 74 persen kecelakaan yang memiliki setidaknya satu *Road Safety Factor*. Untuk kecelakaan fatal, faktor distraksi atau gangguan tercatat pada 44 persen kasus yang memiliki faktor keselamatan tersebut. Data Inggris juga menunjukkan bahwa satu kecelakaan dapat memiliki lebih dari satu faktor penyebab.
Sementara di Jerman, Statistik Federal Jerman mencatat bahwa pada 2024 terdapat 338.705 kecelakaan yang melibatkan korban luka. Di antara faktor kesalahan pengemudi yang dicatat polisi terdapat tidak menjaga jarak, tidak memberikan prioritas, kesalahan saat berbelok atau bermanuver, serta kecepatan yang tidak sesuai.
Angka-angka tersebut tidak berarti seluruh kecelakaan semata-mata disebabkan pengemudi. Kondisi jalan, kendaraan, cuaca, desain lalu lintas, dan faktor lain juga berpengaruh. Namun, data tersebut memperlihatkan mengapa pemantauan perilaku pengemudi menjadi bagian penting dari strategi keselamatan.
Dari Merekam Kejadian Menjadi Memberi Peringatan Real-Time
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu konteks peluncuran AI Dash Pro oleh Cartrack di Indonesia. Berbeda dari dashcam konvensional yang terutama digunakan untuk merekam kejadian, sistem ini dirancang untuk mendeteksi sejumlah perilaku berisiko ketika kendaraan sedang beroperasi.
Sistem tersebut mencakup deteksi kelelahan, distraksi, penggunaan ponsel, serta jarak yang tidak aman dengan kendaraan lain. Ketika risiko teridentifikasi, pengemudi mendapatkan peringatan audio dan getaran pada kursi. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada pengemudi untuk segera melakukan koreksi.
Manajer armada juga menerima notifikasi pada saat kejadian berlangsung. Dengan demikian, perusahaan dapat mengambil tindakan sesuai situasi, misalnya meminta pengemudi yang mengalami kelelahan untuk berhenti dan beristirahat.
Pendekatan ini juga menciptakan tiga tahap pemantauan. Pertama, intervensi langsung ketika perilaku berisiko terjadi. Kedua, penyimpanan rekaman kejadian sehingga manajer dapat meninjau kronologi. Ketiga, penggunaan data tersebut dalam *driver scorecard* untuk melihat pola perilaku dan menentukan kebutuhan pembinaan.
Rekaman video dalam konteks ini bukan sekadar alat untuk mencari siapa yang salah. Bukti visual dapat digunakan sebagai bahan pembicaraan antara manajer dan pengemudi mengenai kejadian yang sebenarnya berlangsung di jalan. Dengan data yang sama, proses evaluasi dapat diarahkan pada perubahan perilaku dan pelatihan.
Keselamatan Armada Berkaitan dengan Biaya Operasional
Bagi perusahaan logistik, kecelakaan tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang rusak. Satu insiden dapat menyebabkan kendaraan berhenti beroperasi, pengiriman terlambat, muatan rusak, hingga munculnya biaya tambahan. Karena itu, pencegahan memiliki dimensi operasional selain keselamatan.
AI Dash Pro juga dapat mendukung hingga tiga kamera, termasuk kamera tambahan untuk memantau area muatan, pintu kargo, atau bagian lain kendaraan. Dalam materi, Indonesian Logistics and Forwarders Association memperkirakan bahan bakar dapat menyumbang sekitar 40–60 persen biaya logistik, sehingga pemantauan kendaraan dan komponen operasional menjadi perhatian tersendiri.
Penerapan teknologi AI Vision yang dipadukan dengan pembinaan pengemudi telah menghasilkan sejumlah hasil pada pelanggannya.
Salah satu operator logistik di kawasan tersebut mencatat penurunan insiden terkait keselamatan sebesar 31 persen, sementara Lintas Shuttle disebut mengalami penurunan kecelakaan sebesar 60 persen melalui pembinaan pengemudi berbasis data. Angka tersebut merupakan klaim hasil yang disampaikan dan perlu dipahami dalam konteks penerapan pada pelanggan masing-masing.
"Dalam pasar seperti Indonesia yang kompetitif dan sensitif terhadap harga, keselamatan tidak lagi hanya menjadi isu kepatuhan. Keselamatan secara langsung memengaruhi biaya perusahaan, reputasinya, dan kemampuannya mempertahankan pelanggan," ujar Carmen Calisto, Chief Strategy & Marketing Officer di Cartrack.
"Namun, di balik setiap statistik kecelakaan terdapat pengemudi atau pengguna jalan yang tidak sampai kembali ke rumah, dan begitu banyak kecelakaan tersebut sebenarnya dapat dicegah. Operator armada dan penyedia teknologi memiliki tanggung jawab bersama untuk mengambil tindakan.
- Antara
AI Dash Pro mengidentifikasi risiko seperti kelelahan dan distraksi saat risiko tersebut terjadi, sehingga pengemudi dapat bertindak sebelum risiko berkembang menjadi kecelakaan, sementara manajer akhirnya memiliki bukti yang jelas untuk membina tim mereka. AI Dash Pro membantu fleet beralih dari sekadar merekam apa yang salah menjadi mencegahnya."
Pada akhirnya, penggunaan AI dalam dashcam memperlihatkan perubahan cara perusahaan memandang keselamatan kendaraan. Kamera tidak lagi hanya diposisikan sebagai "kotak hitam" setelah kecelakaan, tetapi dapat menjadi alat untuk mengenali pola perilaku, memberikan peringatan, dan menyediakan bahan evaluasi.
Tantangannya kemudian bukan hanya seberapa canggih sistem tersebut mendeteksi risiko, melainkan bagaimana perusahaan menggunakan data itu secara konsisten untuk membangun kebiasaan berkendara yang lebih aman. (udn)
Load more