Beda Nasib dengan Indonesia, BYD Malaysia Batal Bangun Pabrik Sendiri dan Pilih Gandeng Perusahaan Lokal
- REUTERS/Benoit Tessier
Jakarta, tvOnenews.com - Produsen mobil listrik asal China, BYD, mengambil langkah berbeda dalam mengembangkan industri kendaraan listrik di Malaysia dan Indonesia. Jika di Tanah Air perusahaan tersebut membangun pabrik sendiri dengan investasi mencapai Rp11,6 triliun, BYD justru memilih menggandeng perusahaan lokal untuk merakit kendaraan di Negeri Jiran.
BYD Malaysia resmi menunjuk Inokom Corporation, anak perusahaan Sime Motors, sebagai mitra perakitan kendaraan dengan skema completely knocked down (CKD). Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperkuat kehadirannya di pasar otomotif Malaysia melalui fasilitas manufaktur yang sudah tersedia.
Kesepakatan antara kedua perusahaan dituangkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang ditandatangani di kantor pusat global BYD di Shenzhen, China. Inokom sendiri memiliki fasilitas produksi di Kulim, Kedah, dan telah berpengalaman melakukan perakitan kendaraan untuk sejumlah produsen otomotif global.
Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, menjelaskan bahwa kerja sama dengan Inokom merupakan langkah penting dalam memperkuat komitmen jangka panjang perusahaan. Menurutnya, pemanfaatan fasilitas perakitan yang sudah beroperasi memungkinkan BYD mengembangkan produksi lokal tanpa harus membangun pabrik baru.
"Perakitan lokal adalah bagian penting dari komitmen jangka panjang BYD terhadap Malaysia. Bermitra dengan Sime untuk merakit di Inokom memungkinkan kami membangun di atas kapabilitas manufaktur otomotif yang sudah mapan seiring kami memajukan rencana perakitan lokal," ujar Jacob Ma, Managing Director BYD Malaysia, dikutip Just Auto, Selasa (20/10/2026).
Keputusan tersebut diambil di tengah perubahan kebijakan pemerintah Malaysia terhadap kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU). Sejak 1 Juli 2026, Malaysia mewajibkan mobil listrik impor memiliki nilai cost, insurance, and freight (CIF) minimal 200.000 ringgit atau sekitar Rp883 juta, dengan tenaga motor listrik sekurang-kurangnya 180 kW.
Berdasarkan laporan Nikkei Asia pada Jumat (16/10/2026), sejumlah model mobil listrik terlaris BYD di Malaysia dipasarkan dengan harga di bawah ambang batas tersebut. Kondisi ini membuat strategi perakitan lokal menjadi semakin penting bagi BYD untuk mempertahankan daya saing produknya di pasar Malaysia.
Menariknya, BYD sebelumnya sempat mengumumkan rencana pembangunan pabrik sendiri di Tanjung Malim, Perak, pada Agustus 2025. Namun, rencana tersebut akhirnya dikesampingkan dan perusahaan memilih menjalin kerja sama perakitan dengan Inokom.
Laporan The Edge yang dikutip Nikkei Asia menyebut rencana pembangunan pabrik tersebut menghadapi kendala setelah BYD tidak mencapai kesepakatan dengan Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia atau MITI. Salah satu persoalan yang dilaporkan adalah persyaratan untuk mengekspor hingga 80 persen kendaraan hasil perakitan lokal, meskipun BYD belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan perubahan rencananya.
Di sisi lain, persaingan pasar kendaraan listrik Malaysia juga semakin ketat bagi BYD yang sebelumnya menjadi pemimpin penjualan pada 2025. Perusahaan asal China tersebut tercatat menjual 14.407 unit mobil listrik sepanjang tahun lalu, tetapi kini menghadapi tekanan dari produsen otomotif nasional Malaysia, Proton.
Berdasarkan data Departemen Transportasi Jalan Malaysia yang dihimpun paultan.org, sebanyak 24.857 mobil listrik Proton terdaftar sepanjang Januari hingga September 2026. Pada periode yang sama, jumlah kendaraan listrik BYD yang terdaftar mencapai 8.087 unit sehingga menunjukkan perbedaan cukup besar antara kedua merek tersebut.
Berbeda dengan Malaysia, BYD memilih membangun fasilitas manufaktur milik sendiri di Indonesia yang berlokasi di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Pabrik tersebut diresmikan pada 3 September 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp11,6 triliun, berdiri di atas lahan seluas 126 hektare, dan memiliki kapasitas produksi maksimal 150 ribu kendaraan per tahun.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, produksi kendaraan BYD di Indonesia telah berlangsung sejak April 2026. Hingga September 2026, total kendaraan yang diproduksi secara lokal mencapai 32.040 unit, sementara impor kendaraan utuh BYD sepanjang Januari hingga September turun menjadi 1.108 unit dibandingkan 27.795 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, BYD Malaysia hingga kini belum mengumumkan model kendaraan listrik yang akan dirakit melalui fasilitas Inokom. Perusahaan juga belum memberikan kepastian mengenai jadwal dimulainya produksi kendaraan dengan skema CKD tersebut.
"Kami bertujuan mendekatkan keahlian BYD di bidang kendaraan energi baru dan teknologi baterai ke pasar Malaysia, sembari berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan industri otomotif lokal," pungkasnya.
(igp/rda)
Load more