Ada di Condet, Gang Goa Monyet Jejak Kampung Terakhir Jakarta yang Menjaga Suasana Jadul di Tengah Urbanisasi
- Tangkapan layar YouTube Stefano Sanjaya
Penamaan Gang Goa Monyet lebih menggunakan nama warisan lokal. Apalagi dulunya memang ada sebuah Goa Monyet, walaupun saat ini masih sulit menemukan lokasinya akibat peningkatan urbanisasi, gedung pencakar langit, hingga erosi Ciliwung.
Saat menyusuri kawasan tersebut, ternyata masih ada pelestarian kebun salak. Hal ini berkaitan dengan catatan sejarah Condet di zaman dulu.
Ribuan kebun salak Condet memenuhi sepanjang pinggiran Kali Ciliwung. Alhasil, buah salak dari kebun ini menjadi ciri khas asli dari Condet yang paling populer.
Selain kebun salak, terdapat kebun duku dan kecapi. Agar tetap lestari, Pemda sejak era Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, Fauzi Wibowo, memegang kendali urusan pengelolaan sehingga dijadikan Cagar Buah Condet.
Sementara, luas area kebun buah Condet yang menjadi Cagar Buah Condet, kini hanya bertahan sekitar 3,3 hingga 3,7 hektare.
Di balik luas 3 hektare, sering kali muncul pertanyaan, "Kenapa area kebun buah tidak selebar dulu?". Alih-alih bertahan, kebun buah Condet perlahan mulai punah sejak akhir abad ke-20.Â
Selain menjadi pemukiman padat, faktor luapan air dan erosi Ciliwung semakin menggerus sehingga hanya tinggal nama dan bertahan beberapa saja.
Warga setempat lainnya, Gimin Santoso menjelaskan, faktor banjir dari luapan Ciliwung menghantui pemukiman warga di Goa Monyet.
"Sering banjir. Paling parah banjir 5 tahunan (masuk ke atas sampai pemukiman warga)," terangnya.
Di era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, padahal kawasan Condet berstatus sebagai cagar budaya Betawi. Apalagi untuk urusan kebun buah Condet yang menjadi identitasnya.
Tetapi, cagar budaya Betawi di Condet hanya bertahan sampai tahun 2004. Lantaran pemerintah mengalihkan ke Setu Babakan.
Jika mengacu pada data lahan yang digunakan, sekitar 71,31 persen di kawasan Condet telah berbentuk pemukiman. Sisanya sekitar 9,13 persen masih menjadi area lahan pertanian.
Kenapa Dijuluki Kampung Terakhir Jakarta?
Isu penjulukan Kampung Terakhir Jakarta berangkat dari berbagai nilai berita yang merebak ke ruang publik. Hal ini memantik para peneliti tertarik mengunjungi kawasan tersebut.
Hanya saja isu "kampung terakhir" melekat pada Condet. Bagi warga dan pengamat lokal, istilah ini mengacu pada kondisi Condet yang dulunya terpilih salah satu sedikitnya permukiman mempertahankan karakter tradisional Betawi di tengah pesatnya urbanisasi Jakarta.
Load more