Menjadi Tradisi, Inilah Sejarah Menyalakan Petasan di Indonesia
- tim tvOne
Jakarta - Perayaan Lebaran Lebaran dan Tahun Baru takkan lengkap jika tanpa petasan. Anak-anak sudah tidak sabar menggunakan uang saku dari orang tuanya untuk membeli petasan.
Meski sudah menjadi tradisi, namun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap melarang warga menyalakan petasan saat malam takbiran hingga Hari Raya Idul Fitri karena dinilai mengganggu ketertiban umum.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta Arifin meminta masyarakat untuk tidak menyalakan petasan karena bisa membahayakan keselamatan.
Bagaimana sebenarnya sejarah petasan di Indonesia?
Petasan adalah peledak berupa bubuk yang sudah dikemas ke dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk merayakan berbagai peristiwa, seperti Lebaran, tahun baru, perkawinan. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive.
Pertama Kali Ditemukan di China
Sejarah petasan pertama kali ditemukan pada tahun 200 SM di Dinasti Han, Tiongkok, China.
China mulai mengenal bazhou, peledak yang berasal dari bambu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat China, bazhou tidak sengaja ditemukan oleh juru masak. Saat itu ia memasak menggunakan bambu dengan campuran berbagai bahan termasuk batu bara, sulfur, dan potasium nitrat.
Ketika dibakar di tungku, tiba-tiba terjadi ledakan hebat.
Kemudian petasan berkembang dengan penemuan bubuk mesiu pada era Dinasti Sung (960-1279) oleh seorang pendeta bernama Li Tian yang tinggal dekat provinsi Hunan.
Pada saat itu pula didirikan pabrik petasan yang menjadi dasar pembuatan kembang api, yang akan memancarkan warni-warni dan pijar-pijar api diangkasa.
Petasan di Indonesia
Petasan masuk ke Indonesia, awalnya dibawa oleh para pedagang Cina yang berniaga sejak zaman kerajaan-kerajaan dulu kala.
Bahaya petasan membuat penguasa VOC pada 1650 mengeluarkan larangan membakar petasan terutama pada saat cuaca kemarau pada bulan Desember, Januari, dan Februari.
Petasan dianggap memicu kebakaran di kebun-kebun milik tuan tanah dan pemerintah, juga rumah penduduk yang umumnya masih terbuat dari bambu dan atap rumbia.
Alasan lain dilarangnya membakar petasan yaitu karena faktor keamanan, penguasa VOC sulit membedakan bunyi ledakan petasan dengan letusan api.
Load more