Danur: The Last Chapter, Penutup Semesta Horor yang Tumbuh Bersama Risa Saraswati dan Penontonnya
- tangkapan layar instagram pakarpopcorn
tvOnenews.com - Perjalanan film Danur menandai salah satu perkembangan paling konsisten dalam sejarah film horor Indonesia modern. Berawal dari kisah personal Risa Saraswati yang diadaptasi dari novel, Danur tumbuh menjadi semesta horor dengan basis penggemar kuat dan lintas generasi.Â
Tidak hanya mengandalkan kejutan visual, film-film Danur dikenal karena relasi emosional antara karakter utama dan dunia tak kasatmata. Danur: The Last Chapter hadir sebagai bab pamungkas yang membawa tanggung jawab besar untuk menutup kisah ini secara utuh dan bermakna.
Sebagai penutup semesta, film ini otomatis memikul ekspektasi tinggi dari penonton setianya. Publik tidak hanya menunggu teror yang lebih intens, tetapi juga kedalaman cerita yang mampu merefleksikan perjalanan karakter Risa sejak awal.Â
Melansir dari YouTube Sinopsissinema, Danur: The Last Chapter mencoba menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang lebih dewasa, baik dari sisi narasi maupun skala produksinya, sekaligus berupaya keluar dari pola yang selama ini melekat pada film horor waralaba.
Risa Dewasa dan Konflik Melepaskan Masa Lalu
Cerita berfokus pada Risa yang telah tumbuh dewasa dan berusaha menjalani kehidupan normal tanpa kemampuan melihat makhluk halus. Pilihan ini menjadi titik awal konflik, karena Risa ingin menjauh dari dunia yang selama ini membentuk identitasnya.Â
Namun, ketenangan tersebut perlahan runtuh ketika teror baru muncul dan memaksanya kembali berhadapan dengan dunia gaib yang ingin ia tinggalkan.
Pendekatan ini membuat film terasa lebih reflektif dibanding pendahulunya. Horor tidak lagi hanya hadir sebagai ancaman eksternal, tetapi juga sebagai simbol beban masa lalu yang belum sepenuhnya terselesaikan.Â
Sebagai adaptasi dari novel karya Risa Saraswati, film ini diposisikan sebagai puncak dari keseluruhan semesta Danur yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Risa Saraswati sendiri menilai realisasi film ini jauh melampaui ekspektasi awalnya. Ia melihat bagaimana berbagai elemen cerita dan visual yang sebelumnya hanya ada di imajinasi akhirnya terwujud secara nyata di layar lebar, menunjukkan skala dan keseriusan produksi yang tidak main-main.
Produksi Panjang Demi Kualitas Visual Maksimal
Ambisi besar Danur: The Last Chapter tercermin dari proses produksinya yang memakan waktu panjang. Sutradara Awi Suryadi menjalani pengambilan gambar hampir selama sembilan bulan, dimulai sejak Februari hingga Oktober.Â
Proses tersebut bahkan terasa seperti menggarap dua film sekaligus karena padatnya jadwal dan banyaknya detail yang harus disempurnakan.
Lamanya produksi ditegaskan bukan karena kendala teknis, melainkan karena keinginan untuk meningkatkan kualitas visual dan penceritaan agar melampaui standar film Danur sebelumnya.Â
Setiap adegan dirancang dengan lebih teliti demi menghadirkan pengalaman sinematik yang lebih kuat, sejalan dengan rencana penayangan film ini di layar IMAX saat Lebaran 2026.
Keputusan memperpanjang proses produksi ini menjadi sinyal bahwa film penutup Danur ingin tampil lebih serius, tidak sekadar mengulang formula lama, tetapi menawarkan pengalaman horor yang lebih matang dan sinematik.
Beban Fisik dan Emosional Para Pemain
Skala produksi besar turut berdampak langsung pada para pemain. Zee Asadel, yang memerankan Riri versi dewasa, merasakan tantangan fisik yang cukup ekstrem.Â
Banyak adegan yang mengharuskannya menggunakan sling, membuat proses syuting menjadi sangat menguras tenaga dan mental. Pengalaman ini disebut sebagai salah satu proyek terberat yang pernah ia jalani, terutama karena tuntutan fisik yang berada di luar kebiasaannya.
Di sisi lain, Prilly Latuconsina memaknai film ini sebagai penutup emosional perjalanan panjangnya bersama karakter Risa.Â
Selama sekitar 10 tahun, ia secara konsisten hanya memerankan Risa Saraswati dan menolak berbagai tawaran film horor lain demi menjaga kontinuitas karakter.Â
Keputusan tersebut lahir dari kedekatan emosional dan rasa bangga terhadap karakter yang telah membesarkan namanya.
Tantangan utama Prilly justru terletak pada aspek akting, terutama dalam menyesuaikan reaksi Risa terhadap pengalaman supranatural. Sebagai karakter yang telah lama terbiasa berinteraksi dengan makhluk halus, Risa tidak bisa bereaksi dengan ketakutan berlebihan, sesuatu yang membutuhkan logika akting tersendiri bagi Prilly.
Secara keseluruhan, Danur: The Last Chapter tampil sebagai penutup yang tidak hanya mengandalkan teror, tetapi juga emosi dan refleksi perjalanan karakter. Jika ambisi visual dan kedalaman ceritanya berhasil tersampaikan, film ini berpotensi menjadi akhir yang layak bagi semesta horor Danur. (udn)
Load more