Bukan Serba Kekurangan, Pihak Denada Sebut Gaya Hidup Ressa di Banyuwangi Hedon
- Kolase YouTube/CURHAT BANG Denny Sumargo - Instagram/denadaindonesia
tvOnenews.com - Polemik antara penyanyi Denada Tambunan dan Ressa Rizky Rossano masih terus menyita perhatian publik.
Setelah kabar bahwa Ressa menggugat Denada mencuat, kini pihak Denada melalui kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal, mulai membuka fakta baru.
Salah satunya adalah soal gaya hidup Ressa yang disebut cukup berlebihan selama berada di Banyuwangi.
Dalam keterangannya, Iqbal menyebut bahwa Ressa sebenarnya sudah lama diakui sebagai anak oleh Denada.
Tidak hanya diakui, Ressa juga disebut mendapat dukungan penuh dari segi pendidikan dan kebutuhan hidup sejak kecil.
“Masalah mengakui atau tidak itu gini. Saya garis bawah, ya. Masalah anak ini Mbak Denada bukan sekadar diakui atau nggak. Ressa ini bahkan dibiayai, difasilitasi, disekolahkan. Namun kok tiba-tiba ada gugatan ini juga aneh,” ujar Muhammad Iqbal, kuasa hukum Denada.
Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa Denada menelantarkan Ressa atau tidak mengakui hubungan darah di antara keduanya.

- Kolase tvOnenews.com / YouTube MNCTVRumahnyaDangdut / CURHAT BANG Denny Sumargo
Iqbal menegaskan bahwa sejak kecil, baik Denada maupun almarhumah ibundanya, Emilia Contessa telah ikut serta dalam proses tumbuh kembang Ressa.
Namun belakangan, muncul kabar bahwa Ressa sempat bekerja sebagai sopir pribadi almarhumah sang nenek di Banyuwangi.
Banyak yang menilai hal itu menunjukkan bahwa Ressa tidak mendapatkan perlakuan istimewa sebagai anak Denada. Tapi Iqbal kembali meluruskan.
“Jadi gini saya luruskan ya, kita ambil segi positif ya itu pendidikan untuk anak supaya anak ini tidak manja. Gaji Rp 2,5 juta di Banyuwangi besar itu. Orang tua ini ngasih pendidikan kayak gitu ke anak ya apa salahnya supaya dia tidak manja cuma minta ke orang tua,” jelas Iqbal.
Menurutnya, pengalaman Ressa bekerja sebagai sopir bukanlah bentuk eksploitasi, melainkan pendidikan karakter.
Perihal publik mempertanyakan mengapa Ressa tinggal di Banyuwangi, bukan bersama Denada, Iqbal menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan pertimbangan orang tua.
“Tujuan orang tua kan beda-beda, kalau segi spesifiknya saya kurang tahu kenapa dia diasuh di Banyuwangi. Cuma kalau segi umum kan kita juga ada kekhawatiran mungkin orang tua kalau di Jakarta mungkin gaya hidup apa gitu kan. Kalau di Banyuwangi kan landai-landai orangnya, santai-santai, sopan gitu,” ungkapnya.
Meski tinggal jauh dari ibunya, Ressa tetap disebut mendapatkan perhatian dan fasilitas yang memadai.
Bahkan, menurut Iqbal, gaya hidup Ressa di Banyuwangi tergolong cukup mewah jika dibandingkan dengan standar masyarakat setempat.
Iqbal menegaskan bahwa Ressa bukanlah anak yang hidup susah sebagaimana banyak diberitakan.
“Sudah di jelaskan Ressa ini bukan hanya sekedar diakui. Dia dibiayai, disekolahkan, difasilitasi. Sampean kalau tinggal di Banyuwangi mungkin sampean tahu hidupnya hedon untuk kelas Banyuwangi,” ujar Iqbal.
Pernyataan ini menjadi sorotan karena menggambarkan situasi yang berbeda dengan narasi yang sebelumnya beredar di publik.
Meskipun demikian, konflik antara Ressa dan Denada belum menemui titik akhir.
Setelah mediasi dinyatakan gagal, kasus ini kini berlanjut ke tahap pemeriksaan di pengadilan.
Pihak Denada mengaku siap menghadapi proses hukum sambil tetap berharap semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik tanpa perlu memperpanjang polemik di ruang publik. (adk)
Load more