Dedi Mulyadi Tak Habis Pikir, SMK Pertanian di Subang Tapi Sistem Kelola Sampah Mandiri Terhenti
- YouTube Kang Dedi Mulyadi
Ia bertanya, “Saya nanya, ini kan SMK 2, Bapak punya sistem pengelolaan sampah?”
“Ada, Pak, di belakang,” terang Inan.
Dedi memperjelas maksudnya, “Sistem pengelolaan sampah organik dan anorganik Bapak punya?”
Inan mengakui, “Ada, tapi sekarang sudah enggak.”
Jawaban tersebut langsung memicu reaksi Dedi Mulyadi, “Lah, ini kan SMK, harus mulai mandiri dong. Artinya anak-anak sudah bisa membuat pupuk organik. Kan ada jurusan pertanian. Masa jurusan sekolah pertanian enggak ada sistem pengelolaan pupuk organik?”
Meski pihak sekolah sempat mencoba menjelaskan, Dedi tetap menegaskan pentingnya sistem tersebut, “Ya enggak, ya. Saya enggak mau lihat, harus ada.”
Ia menilai, pengelolaan sampah organik seharusnya menjadi bagian utama dari praktik pembelajaran di sekolah pertanian.
“Harus dong, masa sih tidak mahal. Bisa secara alamiah. Ya kan, Pak? Karena saya tukang bikin, jadi saya tahu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi juga menggambarkan konsep ideal yang seharusnya diterapkan di sekolah tersebut.
“Ya kan sekolah SMK ini, Pak. SMK harus penuh dengan pohon. Jurusan pertanian, pupuknya pakai organik, diciptakan sendiri. Bahan bakarnya diciptakan dari plastik, dikelola, kan bisa begitu. Nanti babat rumput enggak perlu beli di SPBU, dihasilkan dari minyak. Minyaknya dihasilkan dari plastik yang dipungut, beuh, maju bangsa ini,” tegasnya.
Sebagai informasi, SMK Negeri 2 Subang merupakan sekolah dengan kelompok keahlian pertanian dan kehutanan.
Sejak tahun 2000, sekolah ini memiliki berbagai kompetensi keahlian, mulai dari agribisnis tanaman, ternak, hingga rekayasa perangkat lunak dan teknik lainnya.
Dengan latar belakang tersebut, sorotan Dedi Mulyadi terhadap sistem pengelolaan sampah menjadi perhatian serius, terutama karena dinilai bertolak belakang dengan identitas sekolah sebagai sekolah pertanian.
(anf)
Load more