Kisah Kelam John Kei: Dari Hidup Miskin hingga Dijuluki “The Godfather”
- Kolase tvOnenews.com
tvOnenews.com - Publik dikejutkan oleh kasus pembunuhan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora alias Nus Kei.
Polisi kemudian mengungkap sejumlah fakta terbaru, termasuk motif di balik aksi penikaman yang dilakukan Hendrikus Rahayaan dan Finansius Ulukyanan (36) terhadap korban.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, aksi tersebut dilatarbelakangi oleh dendam pribadi.
- Instagram @golkar_maluku_tenggara
"Berdasarkan pengakuan pelaku, motif pelaku adalah balas dendam," ujar Rositah kepada awak media, Senin (20/4/2026).
Rositah menambahkan bahwa kedua pelaku menyimpan dendam terhadap Nus Kei karena korban diduga sebagai otak di balik pembunuhan saudara mereka.
"Kedua pelaku dendam karena korban Nus Kei adalah otak di balik pembunuhan saudara kedua pelaku," terang Rositah.
Peristiwa yang memicu dendam tersebut terjadi pada 2020, dengan korban bernama Fenansius Wadanubun alias Dani Holat. Lokasi kejadian disebut berada di sekitar Apartemen Metro Galaxy Kalimalang, Bekasi.
Saat ini, Hendrikus dan Finansius telah resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik Polda Maluku melakukan gelar perkara berdasarkan hasil pemeriksaan intensif.
Di sisi lain, perhatian publik juga tertuju pada sosok John Kei, paman dari Nus Kei, yang dikenal sebagai mantan preman dengan reputasi besar.
Kisah John Kei
Nama John Kei kerap disandingkan dengan Hercules sebagai dua figur preman legendaris di Indonesia. Keduanya dikenal memiliki rekam jejak kelam dan citra sebagai sosok yang ditakuti serta berani.
Sosok John Refra alias John Kei dikenal luas sebagai figur yang disegani di dunia kriminal. Reputasinya tidak main-main, bahkan banyak orang memilih menghindari konflik dengannya. Julukan “The Godfather” pun melekat padanya karena pengaruh dan ketegasannya.
Namun, perubahan terlihat saat ia menjalani masa hukuman di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dalam wawancara bersama Andy F Noya di acara Kick Andy, John Kei menceritakan perjalanan hidupnya, termasuk masa kecilnya yang penuh keterbatasan.
"Saya lahir dari keluarga yang merupakan petani, bapak saya petani, ibu saya petani, miskin. Masa kecil saya setiap pulang sekolah, senior-senior kita adu kita untuk berantem (bully), kalau berantem, kalau satu kalah, udah jadi dua lawan satu, jadi dari kecil saya sebenarnya sudah hobi berantem," kata John Kei seperti dilansir dari tayangan Kick Andy Metro TV, (13/4/2019).
- tangkapan layar youtube kick andy
Ia menggambarkan masa kecilnya sebagai periode yang sulit karena kemiskinan dan perundungan.
"Pahit masa kecil saya, miskin dan sering berkelahi," ujar John Kei.
Dalam wawancara tersebut, Andy F Noya juga menanyakan latar belakang pendidikan John Kei.
"Anda pendidikannya sampai di mana?," tanya Andy F Noya.
John Kei kemudian menjelaskan bahwa pendidikannya terhenti di bangku SMEA karena faktor ekonomi dan ketidaksesuaian minat.
"Saya di SMEA, seharusnya di STM, dan sebetulnya ini bertentangan dengan keinginan saya, tapi karena orang tua miskin, maka saya sekolah di SMEA, dari situ saya merasa sangat tidak sesuai, makannya saya jadi malah suka berantem-berantem di sekolah, akhirnya sekolahnya putus di SMEA waktu mau naik ke kelas dua," kata John Kei.
Meski demikian, ia tetap memperoleh ijazah melalui jalur ujian persamaan setelah merantau ke Jakarta.
"Saya ke Jakarta, akhirnya di sana saya dapat ijazah persamaan (selevel SMA)," kata John Kei.
Perjalanan hidupnya dimulai ketika ia memutuskan meninggalkan kampung halaman menuju Surabaya pada usia 18 tahun, dengan tekad mengubah nasib.
"Saya punya tekad, karena hidup di kampung itu miskin, kalau miskin, kan, dilihat orang, kan, hina (direndahkan). Di situ saya punya tekad, saya harus keluar dari kampung, saya harus berhasil (di luar) dan nanti balik ke kampung," kata John Kei.
Tanpa bekal uang, ia nekat menumpang kapal menuju Surabaya dan akhirnya harus bekerja membersihkan kapal sebagai pengganti tiket.
"Saya sama sekali tidak punya uang, akhirnya saya loncat masuk ke kapal tujuan Surabaya, kemudian saat ditagih tiket, saya jelaskan pada petugasnya, bahwa saya tidak punya uang, tidak punya tiket, dan akhirnya saya diminta untuk bekerja membersihkan kapal," kata John Kei.
Setibanya di Surabaya, ia sempat tinggal bersama kerabat selama beberapa bulan sebelum akhirnya memilih hidup di jalanan karena ketidakcocokan.
"Mungkin 2, 3 bulan tinggal bersama, dan enggak cocok, akhirnya keluar dan tidur di emperan jalan, menggelandang di jalanan Surabaya," kata John Kei.
Selanjutnya, ia pindah ke Jakarta dan memulai pekerjaan sebagai petugas keamanan di tempat hiburan malam sekitar tahun 1992. Dari sinilah titik awal keterlibatannya dalam aksi kekerasan serius.
"Saya jadi security di sana, tempatnya banyak bule-bule, waktu itu ada yang ribut (berantem), saya pisahin, terus saya dipukul dari belakang. Akhirnya sempat berantem, polisi datang menyelesaikan, saya kemudian pulang ke rumah, masih penasaran, balik lagi ambil golok, niat saya tadinya, saya enggak mau bunuh dia, cuma mau kasih besutan, ternyata diluar dugaan, parang pas kena leher, dan dia mati," ujar John Kei.
Ia bahkan mengaku sempat mengejar pihak lain yang terlibat dalam perkelahian tersebut.
"Yang lain-lain saya kejar, balik lagi, potong lagi kakinya, mereka ada banyak, sekitar 5 sampai 6 orang," katanya.
Saat ditanya mengenai usia saat pertama kali melakukan pembunuhan, John Kei mengungkapkan bahwa hal itu terjadi saat ia masih muda.
"Berapa umur Anda saat pertama kali membunuh orang?" kata Andy F Noya.
"Saya sekitar umur 22 tahun," jawab John Kei.
Ia juga mengakui bahwa pada saat itu dirinya tidak merasa menyesal.
"Waktu itu saya tidak menyesal bunuh orang, saya merasa jago kalau bunuh orang," kata John Kei.
Setelah kejadian tersebut, ia sempat menjadi buronan sebelum akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian.
"Waktu itu saya buron, tapi waktu tanggal 24 Mei saya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya," kata John Kei.
Meski telah dipenjara, keterlibatannya dalam konflik tidak sepenuhnya berhenti, bahkan ia mengaku masih sering terlibat perkelahian di dalam lapas.
"Ribut satu penjara, keroyok saya sama teman saya, ribut terus," kata John Kei.
Load more