Momen Tak Terlupakan Sherly Tjoanda di Obi dan Taliabu: Saksi Bisu Tragedi Benny Laos dan Titik Balik Jadi Gubernur
- Kolase tvOnenews.com/ Instagram @s_tjo
tvOnenews.com - Pulau Obi dan Taliabu menjadi wilayah kunjungan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda saat hendak memimpin warganya.
Kedua pulau di Maluku Utara itu menjadi saksi bisu insiden kecelakaan mendiang suaminya, Benny Laos sekaligus titik balik hidupnya yang mantap menjadi seorang Gubernur.
Sherly Tjoanda selalu mengatakan awalnya menjadi Gubernur Maluku Utara bukanlah tujuan dan mimpinya, tetapi itu mimpi dari Benny Laos.
Sebagai seorang istri, dirinya selalu mendukung dan menemani suami apapun yang menjadi impian Benny Laos.
Setelah adanya tragedi kecelakaan kapal yang membuat Benny Laos meninggal dunia, momen ini menjadi titik balik Sherly Tjoanda untuk maju ke kursi Gubernur.
Kemudian, ia menceritakan pengalaman tak terlupakan baginya hingga berpikir untuk mewujudkan cita-cita suaminya.
Kunjungan Benny Laos dan Sherly Tjoanda di Pulau Obi
- TikTok @bennyla0s
Saat melakukan perjalanan 12 hari untuk kampanye di sejumlah daerah di Maluku Utara, Sherly dan Benny bertemu dengan ibu-ibu di Pulau Obi.
Pulau Obi memiliki luas sebesar sekitar 3.000 Km tanpa ada jalan lingkar. Sehingga untuk mengelilingi desa, warga membutuhkan sebuah speedboat.
Para warga kesulitan untuk berobat ke rumah sakit, karena di pulau itu hanya ada rumah sakit tipe D.
Sedangkan untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih baik, mereka harus menyeberang lautan ke Pulau Bacan.
Sayangnya, warga Pulau Obi terkendala dengan biaya menyewa speedboat yang mahal, sekitar 7 hingga 15 juta.
“Rumah sakit di situ baru rumah sakit tipe D. Jadi mereka harus menyeberang ke Pulau Bacan. Nah itu harus sewa speedboat sekitar 7 sampai 15 juta. Jadi kalau mau melahirkan, mau operasi, kecelakaan, mereka tuh harus sewa speed sekitar 7 sampai 15 juta. Which is itu angka yang sangat besar,” ungkap Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda pada tayangan YouTube Kementerian Hukum RI.
“Kalau nggak ada uang, meninggal. Kalaupun ada yang pinjam, buat mereka tuh 7 sampai 15 juta itu ganti baliknya juga mahal. Sampai di Rumah Sakit Bacan pun dengan segala keterbatasan yang ada, pun terkadang tidak menyelesaikan masalah,” sambungnya menjelaskan.
Meski begitu, warga mengungkapkan keluhan mereka terkesan menjadi suatu hal yang biasa dihadapi. Namun, bagi Sherly hal tersebut sangat tidak wajar untuk diterima warganya.
Bahkan, ibu-ibu sudah tidak menangis saat menceritakan kesulitan ini.
Tragedi Kecelakaan Benny Laos dan Sherly Tjoanda
- Instagram @s_tjo
Selain kunjungan ke Pulau Obi, pengalaman di Pulau Taliabu juga tidak akan terlupakan bagi Sherly Tjoanda.
Sebab, Pulau Taliabu menjadi saksi bisu meninggalnya Benny Laos saat kampanye untuk menjadi Gubernur Maluku Utara.
Minimnya fasilitas kesehatan di Taliabu kini dialami oleh Sherly dan Benny. Tak hanya itu, infrastruktur yang kurang memadai juga menjadi kesulitan warga.
Hal ini sangat dirasakan ibu anak tiga ini saat akan menyelamatkan nyawa suaminya.
“Kemudian aku kecelakaan lah di Bobong, Taliabu. Tidak ada apapun disitu, saya bisa mendatangkan SOS, saya bisa mendatangkan apapun. Tetapi kemudian tidak bisa karena tidak ada airport,” terang Sherly.
“Saya waktu lihat Almarhum itu Almarhum masih bernapas. Dengan segala keterbatasan, nggak punya oksigen, pakai alat pompa yang warnanya sudah cokelat. Para dokternya itu berbaik hati di push sampai 3-4 jam. Ketika Almarhum sudah tidak ada pun mereka tetap push, karena saya menolak untuk menerima (meninggal). Pokoknya push saja terus. There is nothing that I can do,” lanjutnya.
Tak hanya itu, istri Mantan Bupati Morotai ini juga tidak mendapatkan painkiller ketika menjadi korban luka dalam kecelakaan tersebut.
“Saya tidak punya painkiller, 24 jam saya menunggu sampai besok dijemput Helikopter dalam kebakar level 2, 18 persen terbakar dari lutut sampai kaki tidak ada painkiller. Dia hanya menyuci lukaku dengan NaCl, Panadol pun tidak ada. Staf-ku dijahit tanpa dibius pakai tali senar. Itu di alami sama mereka setiap hari selama bertahun-tahun. Kabupaten itu sudah (berdiri) 10 tahun,” pungkasnya.
Pengalaman ini yang membuatnya untuk memberanikan diri melangkah menuju kursi Gubernur Malut.
Dirinya merasa bahwa ia berani untuk bersuara demi kesejahteraan warga di kampung halaman suaminya.
Kini Kementerian Kesehatan sedang membangun rumah sakit Tipe C di Bobong, Taliabu dengan fasilitas yang lengkap dan memadai.
(kmr)
Load more