Sejak Awal Ponpes Berdiri, Orangtua Korban Sudah Curiga dengan Kelakuan Kiai Cabul: yang Diajak Selalu Santriwati
- Youtube FHI Multimedia
tvOnenews.com - Kasus dugaan pelecehan seksual kembali terjadi di lingkungan pondok pesantren, oknum Kiai berinisial AS (51) atau Ashari telah ditetapkan sebagai tersangka.
Para korban merupakan santriwati dari Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah yang telah melaporkan kejadian ini.
TRIGGER WARNING: Artikel ini mengandung konten eksplisit pelecehan seksual yang dapat memicu kondisi emosi dan mental pembaca. Kami menyarankan Anda tidak meneruskan membacanya jika mengalami kecemasan dan meminta bantuan profesional.
Perlahan kasus dugaan pelecehan seksual ini mulai terbongkar, aksi bejat Kiai cabul ini diungkapkan oleh para korban.
Salah satu ayah korban dengan nama samaran Pak Di mengaku ia sebagai seorang jamaah yang kerap membantu kegiatan majelis, salah satunya dalam kegiatan pondok pesantren (Ponpes).
Pak Di sudah mengikuti kegiatan majelis sejak tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, majelis tersebut semakin besar dan mendirikan sebuah pondok pesantren serta sekolah tingkat SD atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Pada awal dibangunnya ponpes, ia membantu untuk mencarikan santri hingga terkumpul beberapa orang.
Lambat laun, gerak-gerik oknum Kiai tersebut mulai terbaca oleh Pak Di. Melalui tayangan YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, dirinya mengetahui bahwa santriwati kerap diajak pergi pada malam hari untuk menemaninya ke berbagai kegiatan.
“Contohnya dia yang selalu diajak pergi malam, entah kegiatan shalawat entah ziarah itu kebanyakan santriwati atau wanita,” ungkap Pak Di pada tayangan YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo.
- YouTube/CURHAT BANG Denny Sumargo
Tak hanya itu, kini santri laki-laki di ponpes tersebut sudah semakin banyak. Namun oknum Kiai itu hanya meminta santriwati untuk pijatkan tubuhnya.
“Yang disuruh mijit ketika sudah banyak santri itu kok nggak pernah suruh anak laki-laki untuk pijat. Padahal disitu banyak santri laki-laki, tapi seringnya perempuan,” ujarnya.
Pak Di sempat bertanya pada Ashari mengapa dirinya kerap berganti-ganti santri untuk memijatnya.
Tersangka mengaku beralasan karena tangan santriwati tersebut tidak enak cara pijatnya.
“Kan sering Jagong (ngobrol) dengan saya. Kadang malam saya ikut jagong di situ (ponpes). Ketika dia nggak cocok sama yang satu (santri) alasannya ‘wah tangannya gatal’ dalam arti kurang enak pijatnya,” jelas Pak Di.
Selain pada santriwati yang masih bersekolah, tak sedikit pula santriwati yang sudah dewasa masih tinggal di dalam pondok pesantren tersebut, bahkan sudah berkeluarga.
Namun, menurut Pak Di, santriwati tersebut kerap diajak oknum untuk menemaninya di kamar.
“Disitu banyak santriwati yang sudah berumah tangga tapi diakui anak angkatnya dari oknum Kiai itu,” terang orangtua korban itu.
“Di situ keakraban sama santriwati yang sudah berkeluarga banyak. Kesannya terlalu akrab, jadi dilihat negatif. Disitu punya suami, kadang dipanggil ke kamarnya untuk nemenin di kamar,” sambungnya.
Tetapi, tidak semua santriwati dipilih olehnya untuk menemani tidur. Hanya santriwati yang berparas ayu yang diminta saat akan melakukan aksinya.
(kmr)
Load more