Gelagat Kiai Ashari Sudah Dicurigai Sejak Awal Pendirian Ponpes Ndholo Kusumo: Santriwati Selalu Diajak Pergi Malam
- X @neVerAl0nely___
tvOnenews.com - Gerak-gerik Ashari bin Karsana atau Kiai Ashari selaku pendiri dan pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo memang sudah dicurigai sejak awal.
Hal ini dikatakan oleh Pak Di, saksi mata yang pernah bekerja dengan Kiai Ashari di Ponpes Ndholo Kusumo, Tlogowungu, Pati sejak tahun 2015 silam.
Ashari bin Karsana atau Kiai Ashari atau AS (51), pendiri sekaligus pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Pati belakangan ini membuat masyarakat luas kesal bukan main.
Ini karena status Kiai Ashari sebagai orang yang paham agama malah dipergunakan untuk melakukan tindakan tidak pantas yaitu pencabulan terhadap santriwati.
Sejauh ini ada 50 santriwati menurut kuasa hukum Ali Yusron yang sudah terdata sebagai korban nafsu sesaat Kiai Ashari. Kepolisian langsung bergerak mendapati laporan itu.
Jakarta dan Bogor sempat menjadi titik pelarian Kiai Ashari sebelum diringkus pihak berwajib di Kecamatan Purwantoro, Wonogiri, tempat persembunyian terakhirnya.
Tim gabungan Polresta Pati dan Jatanras Polda Jateng langsung mengamankan Kiai Ashari yang saat itu hendak pergi ke suatu tempat pakai motor bebeknya.
Gelagat Mencurigakan Kiai Ashari
- YouTube Curhat Bang Denny Sumargo
Pak Di, saksi yang pernah bekerja di Ponpes Ndholo Kusumo bersama Ashari bin Karsana menceritakan bagaimana kecurigaannya terhadap sang pemuka agama.
Lebih dari satu dekade mengabdi di sana, Pak Di sebetulnya sudah curiga terhadap Kiai Ashari sejak awal pendirian Ponpes Ndholo Kusumo pada 2015.
Menurut kesaksian Pak Di, pria cabul berusia 51 tahun tersebut selalu mengajak santriwati untuk keluar pergi malam-malam dengan alasan ziarah atau sholawatan.
“Di situ tuh saya juga gerak-geriknya pak kiai-nya kurang, menurut saya kurang pas,“ ucap Pak Di.
“Contohnya begini, dia tuh selalu yang diajak pergi malam, entah kegiatan sholawatan, entah ziarah itu kebanyakan santriwati atau wanita, ada di situ yang udah berkeluarga diajak,“ lanjutnya.
Tabir kecurigaan Pak Di berlanjut setelah dia menyadari bahwa Kiai Ashari tak pernah sekalipun menyuruh santri laki-laki untuk memijatnya.
“Kejanggalan-kejanggalan di situ, dia tuh selalu kenapa ya yang disuruh mijit ketika sudah banyak santri itu ya kok gak pernah dia nyuruh anak laki-laki untuk mijit,“ ungkapnya.
Tak jarang, Kiai Ashari kerap gonta-ganti santriwati untuk memijatnya dengan alasan jika korban lain tangannya gatal atau pijatnya kurang enak.
“Setiap kali kan sering jagong (berkunjung) ya sama saya terus kalo saya begadang malam ya ikut jagong di situ,“ katanya.
“Ketika dianya gak cocok sama yang satu, itu alasannya 'wah tangannya gatal', dalam arti kurang enak mijitnya,“ cerita Pak Di.
Awal Mula Didirikan Ponpes Ndholo Kusumo
- Tim tvOne - Abdul Rohim
Sebelum menceritakan kecurigaannya, Pak Di merincikan bagaimana situasi lingkungan sekitar sebelum akhirnya Ashari bin Karsana membentuk Ponpes Ndholo Kusumo di Tlogowungu, Pati.
“Saya mulai disitu dari 2015 atau 2016 ya. Di situ, mula-mula jadi temen, ngaji lah disitu, banyak orang-orang tua yang ngaji disitu saya nimbrung,“ beber Pak Di.
Kata Pak Di, tempat yang sekarang menjadi Ponpes Ndholo Kusumo merupakan tempat untuk jemaah thoriqoh dari Jawa Timur berkumpul membentuk pengajian.
Pria paruh baya tersebut bahkan sampai dengan sukarela membantu Kiai Ashari untuk berkeliling mencari santri sebelum jumlahnya sebanyak sekarang.
“Sebelumnya belum bikin pondok itu, belum ada. Disitu dikumpulin orang tuh untuk jemaah thoriqoh di Jawa Timur,” tuturnya.
“Disitu mulai bikin pondok, terus saya bantulah, bantu cari santri, untuk bantu bangun pondok, bangun sekolahan jadi saya mulai disitu pembangunan gedung MI,“ tutup Pak Di.
(han)
Load more