Peran Keluarga dan Sekolah dalam Memutus Rantai Kekerasan Terhadap Anak
- Ilustrasi AI
Berbagai negara maju seperti Swedia bahkan telah lama melarang hukuman fisik terhadap anak dan mengembangkan program pendidikan pengasuhan bagi orang tua.
Sekolah juga harus menjadi ruang aman bagi peserta didik. Pencegahan perundungan, edukasi kesehatan mental, serta mekanisme pelaporan yang mudah perlu diperkuat. Di era digital, perlindungan anak juga mencakup pengawasan terhadap aktivitas daring untuk mencegah eksploitasi dan kekerasan berbasis internet.
Masyarakat pun memiliki peran penting sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Organisasi kemasyarakatan, lembaga pendidikan, media massa, hingga dunia usaha dapat berkontribusi menciptakan lingkungan yang ramah anak.
Perlindungan Anak Adalah Investasi Masa Depan Bangsa
Kekerasan terhadap anak bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman terhadap masa depan bangsa. Data terbaru hingga 2026 menunjukkan bahwa kasus kekerasan masih tinggi dan memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak.
Memutus rantai kekerasan tidak cukup hanya dengan menghukum pelaku. Upaya pencegahan harus dimulai dari keluarga, diperkuat oleh sekolah, didukung masyarakat, dan dijamin oleh negara melalui sistem perlindungan yang efektif.
Semakin banyak anak yang tumbuh dalam lingkungan aman dan penuh kasih sayang, semakin besar peluang Indonesia melahirkan generasi yang sehat, produktif, dan mampu membawa bangsa menuju masa depan yang lebih baik. (udn)
Load more