Bukan Kelalaian Pesantren, Kakanwil Kemenag NTB Sebut Kasus Santri Bakar Santri Murni Ulah Oknum
- Kolase tvOnenews.com / tvOneNews
Ia mengatakan, "Tertinggallah tiga korban ini yang kemudian tidak bisa keluar sampai kemudian ada orang dari luar yang mendobrak kamar itu. Akhirnya korban bisa diselamatkan, tetapi korban mengalami luka bakar di atas 85 persen dan salah satunya akhirnya di bulan Ramadan kemarin meninggal dunia."
Lebih lanjut, Joko Jumadi juga menyoroti dugaan adanya kelalaian dalam sistem pengawasan di lingkungan pondok pesantren. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak hanya perlu dilihat dari tindakan pelaku, tetapi juga dari bagaimana pengawasan terhadap aktivitas para santri dilakukan.
Joko Jumadi mengatakan, "Iya. Kami memastikan bahwa ini pasti ada kelalaian dari pondok pesantren. Kenapa, pertama bisa ada bensin masuk ke dalam pondok. Kemudian bagaimana pengawasannya, kok tidak ada sama sekali yang kemudian melihat ada aktivitas santri di luar dari aktivitas pembelajaran di dalam pondok."
Selain itu, LPA Mataram juga masih mendalami kemungkinan adanya motif dendam yang melatarbelakangi dugaan pembakaran tersebut. Dugaan itu muncul setelah adanya laporan perundungan yang diduga dilakukan pelaku terhadap salah satu korban beberapa hari sebelum kejadian.
Menjelaskan hal itu, Joko Jumadi mengatakan, "Ini masih perlu didalami lebih lanjut. Memang sebelumnya, beberapa hari sebelum kejadian, ada perbuatan bullying yang dilakukan oleh si pelaku kepada salah satu korban. Nah, dengan cara waktu itu dia menelanjanginya. Dibuka celananya, dipeloroti celananya, dan kemudian si korban itu sempat melapor."
Ia melanjutkan, "Nah, pada saat dia melapor itu kemudian si pelaku tahu bahwa dia dilaporkan. Nah, sempat ada ungkapan bahwa, 'Ini siapa yang berani ngelaporin saya, nanti kalau ketemu saya bakar,' kira-kira begitu. Nah, tetapi kemudian terjadilah peristiwa ini," pungkas Joko Jumadi.
(anf)
Load more