Viral Dokter di Cianjur Gunakan Sistem 'Ijab kabul', Pasien Boleh Bayar Pakai Beras hingga Botol Bekas
- Instagram @yusufnugraha81
tvOnenews.com - Kisah seorang dokter asal Cianjur, dr. Yusuf Nugraha, mendadak viral setelah diketahui memperbolehkan pasien membayar biaya pengobatan dengan apa pun yang mereka miliki.
Dokter Yusuf membolehkan pasiennya membayar dengan beras, sayuran, hasil panen, makanan rumahan, hingga botol plastik bekas.
Kebijakan yang diterapkan di Klinik Harapan Sehat itu ternyata bukan sekadar aksi mencari perhatian semata.
Selama hampir dua dekade, dr. Yusuf konsisten menjalankan sistem pembayaran yang ia sebut sebagai "ijab kabul", sebuah konsep yang mengedepankan keikhlasan dan kemampuan ekonomi pasien.
Di balik viralnya kisah tersebut, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan.
Nama dr. Yusuf kembali menjadi perbincangan setelah video pelayanan di Klinik Harapan Sehat ramai beredar di media sosial.
Dalam video tersebut terlihat pasien yang tidak membawa uang tetap memperoleh pelayanan kesehatan.
Sebagai gantinya, mereka membayar menggunakan hasil kebun, makanan buatan sendiri, barang layak pakai, hingga sampah plastik yang masih memiliki nilai daur ulang.
Sistem pembayaran tersebut berlaku setelah pasien menyampaikan kemampuan finansialnya sebelum pemeriksaan dimulai.
Nominal uang pun tidak dipatok.
Ada yang membayar Rp5.000, Rp20.000, atau nominal lain sesuai kemampuan.
Bahkan jika benar-benar tidak memiliki uang maupun barang, pasien tetap mendapatkan pelayanan tanpa dipungut biaya.
Bagi dr. Yusuf, tidak seharusnya seseorang menunda berobat hanya karena kondisi ekonomi.
"Bagi saya, mereka bukan sekadar pasien. Mereka adalah keluarga yang menitipkan harapan, kesehatan, dan kepercayaan karena merawat bukan hanya tentang mengobati, tetapi tentang peduli," ujar dr. Yusuf dikutip dari akun Instagram miliknya, @yusufnugraha81.
- Instagram @yusufnugraha81
Di Klinik Harapan Sehat, istilah "ijab kabul" bukan merujuk pada akad pernikahan, melainkan kesepakatan sederhana antara dokter dan pasien mengenai kemampuan membayar biaya pengobatan.
Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa setiap orang memiliki kondisi ekonomi yang berbeda.
Karena itu, pembayaran tidak harus selalu berupa uang tunai.
Menurut dr. Yusuf, yang terpenting bukan nilai barang tersebut, melainkan adanya rasa saling menghargai antara pasien dan tenaga kesehatan.
Meski menerapkan pembayaran fleksibel, operasional klinik tetap berlangsung secara profesional.
Rahasianya terletak pada sistem subsidi silang.
Pasien yang memiliki kemampuan ekonomi membayar tarif normal.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membantu biaya pelayanan pasien kurang mampu, sekaligus mendukung operasional klinik dan penyediaan obat-obatan.
Model seperti ini dikenal luas dalam dunia kesehatan sebagai salah satu bentuk cross-subsidy, yaitu mekanisme pembiayaan di mana kelompok yang mampu membantu menopang pelayanan bagi kelompok yang lebih rentan.
"Banyak yang sering bertanya kenapa kami masih bisa berdiri sampai dengan 17 tahun melayani pasien dengan sistem ijab kabul biaya berobat sesuai kemampuan pasien sedangkan biaya operasional klinik tidaklah sedikit,"
.
Selama ini kami membangun siklus kebaikan yaitu subsidi silang dari pasien mampu kepada pasien yang kebetulan terkendala biaya dan ibu Ijah adalah salah satu bagian dari siklus kebaikan tersebut dimana setiap kelebihan dari pasien mampu akan kami teruskan kepada pasien yang kebetulan tidak mampu,"
.
Terimakasih bu ijah telah berobat sekaligus bersedakah bagi pasien lain nya, semoga ibu selalu diberikan kesehatan dan panjang umur," tulis Klinik Harapan Sehat melalui akun Instagram mereka, @klinik.hs.
Melalui pendekatan tersebut, dr. Yusuf membuktikan bahwa pelayanan sosial dan keberlanjutan layanan kesehatan dapat berjalan beriringan.
(tsy)
Load more