News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Reza Indragiri Nilai Pelaku Kasus Pelecehan di Tanjungbalai Diduga Menggunakan Grooming Behavior

Reza Indragiri menilai pelaku Kasus Pelecehan Siswa di Tanjungbalai diduga menggunakan grooming behavior untuk memanipulasi korban sebelum beraksi.
Jumat, 31 Juli 2026 - 11:43 WIB
Reza Indragiri soal Kasus Pelecehan Siswa di Tanjungbalai
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com

tvOnenews.com - Reza Indragiri menilai pelaku Kasus Pelecehan Siswa di Tanjungbalai diduga menggunakan grooming behavior sebagai modus untuk mendekati korban. Menurut psikolog forensik tersebut, manipulasi psikologis kerap menjadi cara pelaku menguasai anak sebelum melakukan tindak kekerasan seksual.

Kasus Pelecehan Siswa di Tanjungbalai masih menjadi sorotan publik setelah seorang siswa sekolah dasar berusia 12 tahun diduga menjadi korban tindakan asusila. Menanggapi kasus tersebut, Reza Indragiri menjelaskan bahwa pola pendekatan pelaku patut didalami karena diduga mengandung unsur grooming behavior.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam pembahasan di program Apa Kabar Indonesia Malam tvOne, Reza Indragiri mengulas bahwa grooming behavior merupakan modus yang umum digunakan pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Modus ini dilakukan dengan membangun rasa percaya korban melalui perhatian atau pemberian fasilitas sebelum melakukan tindakan kekerasan.

Kasus Pelecehan di Tanjungbalai juga menyoroti dugaan keterlibatan lingkungan sekolah karena istri tersangka diketahui berprofesi sebagai guru. Menurut Reza, relasi kuasa antara pendidik dan murid menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam proses penyelidikan.

Menjelaskan pandangannya, Reza Indragiri menilai tindakan yang tampak biasa dapat menjadi bagian dari proses manipulasi psikologis terhadap anak.

"Tadi saya simak pemberitaannya bahwa sang guru, berarti istri dari tersangka, mengajak anak ke rumah kemudian meminjamkan handphone dan sejenisnya. Sepintas seolah kita tidak menangkap ada tanda-tanda kejahatan di situ. Tapi jangan salah, modus yang paling sering digunakan oleh pelaku kejahatan seksual terhadap anak bukanlah modus kekerasan, tetapi grooming behavior," jelas Reza Indragiri dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam tvOne.

Menurutnya, grooming behavior merupakan proses membangun kedekatan dengan korban agar pelaku lebih mudah menguasai anak tanpa menimbulkan kecurigaan.

"Perilaku yang seolah-olah saya adalah sosok yang bisa dipercaya. Saya ingin memberikan kehangatan. Saya ingin membangun pertemanan. Mari ke rumah karena di rumah menyenangkan. Iming-iming yang membahagiakan semacam itu sesungguhnya merupakan sebuah manipulasi psikologis agar kemudian anak bisa dikuasai tanpa harus meninggalkan jejak-jejak kekerasan di tubuh si anak itu sendiri. Ini yang dinamakan sebagai grooming behavior," ujar Reza Indragiri.

Reza kemudian mempertanyakan apakah rangkaian tindakan yang dilakukan sebelum dugaan pencabulan dapat dikategorikan sebagai bagian dari grooming behavior.

"Nah, pertanyaan bagi pihak polisi. Ketika guru ini mengajak anak sedemikian rupa ke rumah, pakai handphone dan seterusnya, bisa tidak kita maknai itu sesungguhnya merupakan sebuah bentuk grooming behavior?" tanya Reza Indragiri.

Ia juga menilai, apabila dugaan tersebut terbukti, maka lokasi terjadinya kejahatan tidak hanya berada di rumah pelaku, melainkan bisa saja telah dimulai sejak korban berada di lingkungan sekolah.

"Kalau ya, apalagi sang oknum guru sudah mengincar, sudah memonitor, memasang radar untuk memilih siapa yang bisa saya jahati, maka TKP-nya jadi dua. Bukan hanya di rumah tempat di mana kabarnya pencabulan itu berlangsung, tetapi sesungguhnya aksi kejahatan ini boleh jadi sudah bermula di sekolah," tegas Reza Indragiri.

Karena itu, menurut Reza, tanggung jawab pencegahan tidak hanya berada pada individu pelaku, tetapi juga lembaga pendidikan untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap peserta didik.

"Karena bermula di sekolah, maka memang menurut saya pertanggungjawabannya tidak cukup hanya terhadap guru yang bersangkutan, tetapi juga otoritas sekolah, terhadap otoritas pendidikan. Tentu saja pertanggungjawaban yang saya maksud bukan berarti pidana, tapi barangkali berupa penguatan-penguatan yang bisa dilakukan agar kemudian guru tidak melakukan kejahatan dan agar anak tidak mudah untuk dijahati," lanjutnya.

Reza juga menjelaskan bahwa anak usia 12 tahun umumnya telah memiliki pemahaman bahwa tindakan yang dialaminya merupakan sesuatu yang tidak wajar. Namun, keterbatasan pada berbagai aspek membuat mereka tetap rentan menjadi korban manipulasi.

"Kalau bicara tentang anak umur 12 tahun dengan asumsi kecerdasan yang normal, maka saya bayangkan anak itu sudah cukup memiliki pemahaman bahwa yang dia alami, yang tubuh dia rasakan adalah suatu kejanggalan, suatu ketidaklaziman yang bisa saja dia maknai juga sebagai entah itu kenakalan, kejahatan, suatu hal yang menakutkan dan seterusnya," kata Reza Indragiri.

Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kemampuan anak mengenali situasi, melainkan pada rendahnya daya tahan mereka dalam menghadapi tekanan dari pelaku.

"Tapi persoalannya adalah kenapa anak seolah tidak memiliki resiliensi, tidak bisa menolak itu dan seakan butuh waktu berbulan-bulan sampai kemudian anak bisa bergeser ke posisi terlindungi. Ini tidak terlepas karena anak pada dasarnya kelompok usia yang memiliki kelemahan multidimensi," lanjut Reza Indragiri.

Ia menambahkan bahwa kelemahan tersebut mencakup aspek fisik, psikologis, hingga sosial sehingga anak lebih mudah menjadi sasaran grooming behavior.

"Secara fisik dia tidak punya kesanggupan untuk melakukan perlawanan secara frontal terhadap orang yang menjahatinya. Secara psikis dia gampang diintimidasi dan juga gampang dimanipulasi lewat grooming behavior yang tadi saya katakan," terangnya.

Selain itu, kondisi sosial korban juga dinilai dapat memengaruhi tingkat kerentanannya terhadap pelaku.

"Secara sosial, maaf kabarnya anak ini adalah anak yatim piatu yang barangkali masih butuh waktu untuk membangun kepercayaan terhadap orang-orang atau keluarga barunya. Saya yakin keluarga barunya memberikan kehangatan, perlindungan kepada anak," ujar Reza Indragiri.

Karena itu, ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun rasa aman sekaligus kepercayaan anak agar berani menyampaikan apabila mengalami tindakan yang tidak semestinya.

"Tapi sekali lagi barangkali dibutuhkan upaya ekstra untuk membangun kepercayaan sepenuhnya bahwa keluarga baru memang pihak yang bisa dipercaya dan akan memberikan perlindungan," imbuhnya.

Di akhir penjelasannya, Reza berharap penanganan perkara dilakukan secara tegas sehingga dapat memberikan efek jera bagi pelaku maupun mencegah munculnya tindakan serupa di masa mendatang.

"Yang ingin saya katakan ini masalah pelik. Tetapi mudah-mudahan otoritas kepolisian ketika bekerja secara gagah, berani dalam menangani kasus-kasus macam ini, mengingat ini kekerasan seksual terhadap anak dan boleh jadi ini merupakan satu ilustrasi yang menakutkan tentang bahaya budaya LGBT, maka kerja-kerja yang gagah perkasa perlu dipertontonkan kepada publik agar mudah-mudahan muncul efek jera. Efek jera secara langsung agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya. Dan efek jera tidak langsung adalah agar masyarakat tidak meniru perbuatan bejat serupa," pungkas Reza Indragiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kasus Pelecehan Siswa di Tanjungbalai hingga kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian. Sejumlah pihak berharap pengungkapan perkara dilakukan secara menyeluruh, termasuk menelusuri dugaan adanya grooming behavior, sekaligus memperkuat upaya perlindungan anak agar kasus serupa tidak kembali terulang di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.

(anf)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Bongkar Sisi Gelap Ferdy Sambo Cs, Film 'Skenario Sang Jenderal' Hadirkan Kesaksian Eksklusif Tokoh Kunci

Bongkar Sisi Gelap Ferdy Sambo Cs, Film 'Skenario Sang Jenderal' Hadirkan Kesaksian Eksklusif Tokoh Kunci

Kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat yang melibatkan mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo resmi diangkat ke ..
KPK Temukan Amplop Berisi Uang saat Geledah Kantor BPN Mojokerto

KPK Temukan Amplop Berisi Uang saat Geledah Kantor BPN Mojokerto

KPK menemukan sejumlah amplop berisi uang saat menggeledah Kantor BPN Kota Mojokerto terkait dugaan suap pengurusan HGB lahan Summarecon
Sempat Dibuang AC Milan, Fikayo Tomori Kini Berpeluang Comeback dan Buktikan Diri

Sempat Dibuang AC Milan, Fikayo Tomori Kini Berpeluang Comeback dan Buktikan Diri

Fikayo Tomori sempat berada di ambang pintu keluar AC Milan pada musim panas lalu. Kini, bek asal Inggris itu justru berpeluang kembali mendapat menit bermain.
Intip Perbandingan Gaji Megawati Hangestri di Red Sparks vs Hyundai Hillstate, Melonjak Tembus Rp3,1 Miliar

Intip Perbandingan Gaji Megawati Hangestri di Red Sparks vs Hyundai Hillstate, Melonjak Tembus Rp3,1 Miliar

Rincian nilai kontrak pevoli andalan Indonesia Megawati Hangestri Pertiwi kembali menjadi bahan perbincangan hangat jelang bergulirnya V-League 2026/2027. Pevol
Keuangan Libra Makin Bersinar, Ramalan Zodiak Oktober 2026

Keuangan Libra Makin Bersinar, Ramalan Zodiak Oktober 2026

Keuangan Libra makin bersinar dalam ramalan zodiak Oktober 2026. Ada peluang kenaikan pendapatan, kabar baik, cinta bergairah, dan lima tanggal hoki.
Comeback Atas China di Final! Tim Bulu Tangkis Putra Indonesia Akhiri Dahaga 28 Tahun Medali Emas di Asian Games

Comeback Atas China di Final! Tim Bulu Tangkis Putra Indonesia Akhiri Dahaga 28 Tahun Medali Emas di Asian Games

Tim Bulu Tangkis Putra Indonesia berhasil meraih medali emas Asian Games 2026 setelah menaklukan China di partai final yang berlangsung pada Kamis 24 September.

Trending

Pertama Kali Berlatih dengan Megawati Hangestri, Pemain Hyundai Hillstate Tak Habis Pikir dengan Hal Ini

Pertama Kali Berlatih dengan Megawati Hangestri, Pemain Hyundai Hillstate Tak Habis Pikir dengan Hal Ini

Pertama kali berlatih dengan Megawati Hangestri, Kim Hee-jin mengungkap hal yang membuatnya terkesan. Simak proses adaptasi Mega di Hyundai Hillstate.
Lupakan Megawati Hangestri, Red Sparks Sambut Musim Baru dengan Trio Bukilic, Yeum Hye-seon dan Zhong Hui

Lupakan Megawati Hangestri, Red Sparks Sambut Musim Baru dengan Trio Bukilic, Yeum Hye-seon dan Zhong Hui

Move on dari Megawati Hangestri, Red Sparks sambut musim baru V-League dengan trio Yeum Hye-seon, Vanja Bukilic dan Zhong Hui yang belum lama gelar photo shoot.
4 Fakta Terbaru dari Video Mesum A Day in My Life yang Viral di Media Sosial

4 Fakta Terbaru dari Video Mesum A Day in My Life yang Viral di Media Sosial

Media sosial dihebohkan dengan video berjudul A Day in My Life. Ternyata ada beberapa fakta yang baru disampaikan pihak Kepolisian.
Sebanyak 2.054 Lowongan Kerja Diinformasikan KDM dalam Bursa Kerja Online, Disiarkan Langsung di Tiktok

Sebanyak 2.054 Lowongan Kerja Diinformasikan KDM dalam Bursa Kerja Online, Disiarkan Langsung di Tiktok

Bursa Kerja Online yang ditayangkan live melalui akun TikTok @dedimulyadiofficial dan dipandu langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Fakta Terbaru Savanna Azzahra yang Ngaku Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak: Ternyata Rekayasa AI

Fakta Terbaru Savanna Azzahra yang Ngaku Calon Suaminya Selingkuh dengan Sang Kakak: Ternyata Rekayasa AI

Kisah Savanna Azzahra, gadis yang curhat di TikTok kalau calon suaminya selingkuh dengan sang kakak hingga hamil tiga bulan ternyata merupakan rekayasa dari AI.
‎Pelatih Thailand Akui FIFA ASEAN Cup 2026 Lebih Berat dari Piala AFF, Timnas Indonesia Jadi Salah Satu Ancaman

‎Pelatih Thailand Akui FIFA ASEAN Cup 2026 Lebih Berat dari Piala AFF, Timnas Indonesia Jadi Salah Satu Ancaman

Pelatih Timnas Thailand, Anthony Hudson, langsung memasang target tinggi setelah tiba di Indonesia untuk mengikuti FIFA ASEAN Cup 2026. Juru taktik asal Inggris itu menegaskan Gajah Perang datang dengan ambisi membawa pulang gelar juara.
Polisi Minta Video Mesum Berkedok "A Day in My Life" Tidak Disebarluaskan Lagi

Polisi Minta Video Mesum Berkedok "A Day in My Life" Tidak Disebarluaskan Lagi

Pihak kepolisian meminta agar video mesum berkedok “A Day in My Life” tidak disebarluaskan lagi.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT