Pejabat BNPB Viral Wawancara soal Gempa NTT dari Kafe, Warganet Kini Berbondong-bondong Beri Pembelaan
- Instagram @gedflip
tvOnenews.com - Potongan video wawancara langsung seorang pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat membahas penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat memicu kritik di media sosial.
Pasalnya, pejabat yang diketahui bernama Berton SP Panjaitan itu terlihat melakukan wawancara televisi dari sebuah rumah makan atau kafe di sekitar Labuan Bajo.
Kondisi tersebut membuat sejumlah warganet mempertanyakan mengapa wawancara mengenai bencana dilakukan dari tempat yang dianggap tidak menggambarkan situasi tanggap darurat.
Namun, setelah penjelasan dari pihak BNPB muncul, sebagian warganet justru berbalik memberikan pembelaan.
Mereka menilai potongan video yang beredar sebelumnya tidak menunjukkan konteks secara utuh.
Video tersebut memperlihatkan seorang pejabat BNPB mengenakan rompi saat mengikuti siaran langsung program Apa Kabar Indonesia Malam tvOne.
Dalam tayangan, ia membahas perkembangan penanganan gempa yang mengguncang wilayah Flores, NTT. Namun, latar tempat wawancara yang terlihat seperti rumah makan atau kafe menjadi perhatian.
Potongan tayangan kemudian beredar di media sosial dan memunculkan beragam komentar.
Sebagian warganet mempertanyakan keputusan melakukan wawancara dari tempat tersebut, terlebih saat masyarakat di sejumlah wilayah NTT masih menghadapi dampak gempa.
Bahkan, ada yang menyindir lokasi tersebut sebagai angkringan dan menganggap suasana wawancara tidak mencerminkan kondisi tanggap darurat.
Setelah video menjadi viral, muncul pula warganet yang memberikan penjelasan berbeda.
Salah satunya mengaku mengenal pejabat BNPB yang berada dalam video tersebut. Ia menjelaskan bahwa yang bersangkutan disebut belum makan sejak siang dan memilih lokasi yang relatif tenang serta memiliki jaringan internet stabil untuk menjalankan tugas komunikasi publik.
"Salam teman2, saya kenal baik dengan salah satu pimpinan kami ini. Beliau menyampaikan pada kondisi tersebut, bapaknya belum makan dari siang. Lalu berhenti di tempat yang hening dengan sinya wifi yang cukup stabil untuk dapat fokus menyampaikan berita kepada rekan media karena memiliki pengalaman jika berada di lokasi bencana/perjalanan konferensi pers/zoom akan sulit dilakukan. Semoga teman2 dapat memahami dan memaklumi kondisinya," tulis salah satu warganet.
Penjelasan lain bahkan menyebut lokasi tersebut berada di Labuan Bajo, yang menjadi salah satu titik penting dalam operasi penanganan bencana dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat.
"Untuk posisi cafe trsbt, Labuan Bajo pd saat ini salah satu lokasi posko operasi BNPB, sebagai titik akses penerimaan dan distribusi logistik wilayah Flores bagian barat. Sehingga, keberadaan bapaknya di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan ybs sedang tidak bekerja atau tidak berada dalam rangkaian operasi penanganan bencana. Demikian teman2, izin hanya sekedar menjelaskan utas ini. Kiranya negeri ini selalu dalam perlindungan Allah SWT," komentar warganet lainnya.
Komentar-komentar tersebut membuat perdebatan di media sosial bergeser. Jika sebelumnya publik mempertanyakan keberadaan pejabat BNPB di tempat makan, sebagian warganet kemudian menilai bahwa bekerja dari kafe atau rumah makan tidak otomatis berarti seseorang sedang bersantai.
Belakangan, pihak BNPB memberikan penjelasan mengenai video yang beredar.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, membenarkan bahwa dirinya merupakan sosok yang terlihat dalam video tersebut.
Menurut Berton, saat itu dirinya memang sedang menjalankan tugas komunikasi publik dengan memberikan wawancara langsung kepada televisi nasional terkait perkembangan penanganan gempa NTT.
"Kami memahami adanya video yang beredar dan persepsi yang kemudian muncul di media sosial. Namun perlu kami luruskan konteksnya. Pada saat video tersebut dilakukan, pejabat BNPB yang bersangkutan sedang menjalankan tugas komunikasi publik, yaitu memberikan wawancara secara langsung kepada salah satu televisi swasta nasional mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari, di luar jam kerja kantor," kata Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Dengan demikian, keberadaan Berton di rumah makan bukan karena meninggalkan tugas penanganan bencana. Wawancara dilakukan sebagai bagian dari fungsi komunikasi BNPB kepada masyarakat.
Penjelasan mengenai lokasi juga menjadi bagian penting dalam memahami video tersebut.
Berton mengatakan kawasan Labuan Bajo saat itu bukan sekadar tempat persinggahan. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik pendukung dalam operasi penanganan gempa Flores, khususnya untuk distribusi bantuan dan logistik.
"Kita perlu melihat konteks lokasi tersebut. Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk penerimaan dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat," ujar Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Pernyataan tersebut sejalan dengan informasi resmi BNPB mengenai operasi bantuan gempa NTT. Distribusi logistik memang dilakukan melalui Labuan Bajo dan Maumere sebelum bantuan diteruskan menuju wilayah terdampak.
Bahkan, pada 20 Agustus 2026 BNPB menyebut operasi distribusi bantuan dikendalikan secara terpusat melalui Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma untuk kemudian dikirim ke Labuan Bajo dan Maumere.
Berton juga menegaskan bahwa keberadaan seorang petugas di rumah makan tidak bisa langsung dimaknai sebagai aktivitas bersantai.
"Jadi, keberadaan seseorang di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa yang bersangkutan sedang tidak bekerja atau tidak berada dalam rangkaian operasi penanganan bencana," sambung Berton SP Panjaitan, Plt Kapusdatin BNPB.
Dalam operasi kebencanaan, tidak semua personel harus selalu berada di lokasi terdampak secara fisik. Ada pihak yang bertugas melakukan asesmen, koordinasi, pengelolaan logistik, komunikasi publik, hingga pemantauan perkembangan situasi.
(tsy
Load more