News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Kesaksian dr. Sumy Hastry soal Detik-detik Mencekam Eksekusi Mati Freddy Budiman: 9 Penembak Disiapkan

Dokter forensik Polri Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti mengungkap detik-detik eksekusi mati Freddy Budiman di Nusakambangan pada 2016, termasuk persiapan.
Rabu, 2 September 2026 - 07:34 WIB
dr Sumy Hastry ceritakan saat terakhir Freddy Budiman sebelum dieksekusi
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com

tvOnenews.com - Eksekusi mati Freddy Budiman pada 29 Juli 2016 di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan menjadi salah satu peristiwa yang masih membekas dalam perhatian publik.

Satu dekade berlalu, detail mengenai pelaksanaan hukuman mati tersebut kembali terungkap melalui kesaksian dokter forensik Polri Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M., Sp.F.M., yang menjabat sebagai Karolabdekkes Pusdokkes Polri, pernah menjadi bagian dari tim medis dalam sejumlah pelaksanaan hukuman mati di Indonesia.

Freddy Budiman.
Freddy Budiman.
Sumber :
  • Tangkapan layar

Dalam perbincangan bersama Andy F. Noya di kanal YouTube Kick Andy Show, dr. Sumy Hastry menceritakan pengalamannya ketika ditugaskan sebagai dokter dalam proses eksekusi mati di Jawa Tengah. Salah satu pelaksanaan yang pernah ditanganinya adalah eksekusi Freddy Budiman bersama sejumlah terpidana lainnya di Nusakambangan.

Andy F. Noya terlebih dahulu menyinggung metode hukuman mati yang dikenal di Indonesia. Menurutnya, masyarakat lebih familiar dengan eksekusi menggunakan regu tembak dibandingkan metode seperti kursi listrik, hukuman gantung, atau suntik mati.

Andy juga menyinggung anggapan mengenai mekanisme penggunaan peluru dalam regu tembak, di mana sebagian penembak tidak mengetahui senjata mana yang berisi peluru tajam.

"Tetapi hanya satu katanya peluru yang betul-betul berisi, sehingga mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang mengakhiri hidup dari terpidana."

Andy kemudian meminta dr. Sumy Hastry menceritakan pengalamannya ketika menjadi bagian dari tim pelaksana eksekusi.

Dokter forensik tersebut mengakui bahwa tugas itu sempat menghadirkan dilema karena bertolak belakang dengan prinsip dasar profesi kedokteran yang berorientasi pada penyelamatan kehidupan.

"Saya pernah jadi tim eksekusi istilahnya, saya sebagai dokternya, karena saya dinas di Jawa Tengah jadi secara perintah untuk melakukan nih, kadang kan dokter nggak mau, dokter kan menolong, melihat kehidupan, kok ini melihat kematian."

Meski demikian, ia tetap menjalankan tugas tersebut karena penugasan itu merupakan bagian dari kewajibannya sebagai anggota Polri.

Terpidana Diperiksa Sebelum Eksekusi

Sebelum pelaksanaan hukuman mati, para terpidana terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah dinyatakan siap, mereka kemudian dibawa menuju lokasi eksekusi.

Menurut dr. Sumy Hastry, para terpidana biasanya dibawa ke lokasi pada tengah malam dan mengenakan pakaian berwarna putih.

"Ketemu mereka, dan mereka dibawa dan mereka memang kita biasa tengah malam, dan dikasih baju putih, diikat ke belakang tiang itu, sehingga datar dan saya sebagai tim dokternya memang menaruh atau titik tempel di titik yang benar-benar kena tembak langsung meninggal."

Sebagai bagian dari tim medis, ia bertugas memastikan titik penembakan berada pada lokasi yang ditentukan sesuai prosedur.

Ia juga mengetahui bagaimana regu tembak dipersiapkan sebelum pelaksanaan eksekusi.

"Jadi tidak lama menunggunya, ditembak langsung meninggal, karena kita tim jadi tahu kalau memang tim Brimob ya karena dari kepolisian, penembak-penembaknya ini senjatanya sudah ada di depan."

Sembilan Penembak untuk Satu Terpidana

Dr. Sumy Hastry kemudian menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan tersebut setiap terpidana ditempatkan di hadapan sembilan penembak.

"Di depan satu orang ini ada sembilan (penembak), dari sembilan ini ada tiga yang berisi peluru, tapi tidak tahu mana yang berisi."

Sebelum pelaksanaan dimulai, senjata laras panjang telah disiapkan di lokasi. Para anggota regu tembak kemudian mengambil senjata masing-masing dan menunggu aba-aba dari komandan regu.

Andy kembali memastikan mekanisme tersebut.

"Satu napi, sembilan penembak, sembilan senjata, di antara tiga berisi peluru yang mematikan," jelas Andy F. Noya.

Dr. Sumy Hastry menjelaskan bahwa para penembak telah mendapatkan pelatihan sehingga tidak mengetahui senjata mana yang menggunakan peluru tajam.

"Begitu diaba-aba komandan regu, siap, terus istilahnya komandan regunya ngasih tanda aba-aba, terus langsung lampu sorot naik, langsung tembak, karena kan gelap, makanya saya ngasih spotlight tertentu warnanya, begitu disorot lampu, langsung tembak."

Menurutnya, dalam kondisi tersebut para anggota regu tembak tidak lagi memikirkan apakah senjata yang mereka pegang berisi peluru atau tidak.

"Jadi sudah tidak tahu, saya pikir anggota pun sudah tidak pikir bisa merasakan ini senjata ada (peluru) atau tidak."

Dokter Memastikan Terpidana Telah Meninggal

Setelah penembakan dilakukan, regu tembak kemudian kembali meletakkan senjata. Tim medis selanjutnya menunggu sekitar 30 menit sebelum melakukan pemeriksaan terhadap para terpidana.

"Setelah itu maju didampingi komandan regu untuk memastikan bahwa para napi ini sudah meninggal dunia," tuturnya.

Dr. Sumy Hastry juga mengungkapkan bahwa dalam salah satu pelaksanaan eksekusi terakhir yang ditanganinya, terdapat empat terpidana yang dieksekusi secara bersamaan, termasuk Freddy Budiman.

Andy kemudian kembali memastikan jumlah penembak yang terlibat.

"Itu empat sekaligus? Jadi penembaknya ada berapa orang?"

Dr. Sumy Hastry menjawab singkat.

"Banyak."

Dengan sembilan penembak untuk setiap terpidana, pelaksanaan eksekusi dilakukan secara serentak di lokasi yang telah disiapkan.

Lokasi Eksekusi Mengalami Perubahan

dr Sumy Hastry ceritakan saat terakhir Freddy Budiman sebelum dieksekusi
dr Sumy Hastry ceritakan saat terakhir Freddy Budiman sebelum dieksekusi
Sumber :
  • Kolase tvOnenews.com

Dr. Sumy Hastry juga menceritakan adanya perubahan dalam penataan lokasi eksekusi mati di Nusakambangan.

"Tapi setelah itu, Bali Nine mungkin ingat, Mary Jane itu nggak jadi akhirnya, udah bagus, lapangannya jadi satu, terakhirnya yang Freddy Budiman menjadi satu."

Ia menjelaskan bahwa pada pelaksanaan sebelumnya, lokasi eksekusi untuk masing-masing terpidana dapat berada di tempat yang berbeda. Namun, kemudian dibuat satu area khusus yang lebih representatif dan dilengkapi fasilitas untuk penanganan jenazah.

"Kalau dulu pisah nih, satu (terpidana) di sini, satu di sinilah. Mungkin karena dianggap perlu jadi dibuat lapangan yang bagus, dan memang ada tempat pemulasaran jenazah. Jadi itu penting sekali," pungkasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tugas dr. Sumy Hastry sebagai dokter forensik tidak berhenti setelah proses penembakan. Ia juga harus memastikan kematian para terpidana melalui pemeriksaan medis sebelum jenazah diserahkan untuk menjalani proses pemulasaraan.

Sebagai informasi, Freddy Budiman merupakan salah satu terpidana yang dieksekusi di Nusakambangan pada 29 Juli 2016. Pada periode sebelumnya, pelaksanaan eksekusi juga sempat menjadi sorotan dalam kasus Mary Jane Fiesta Veloso. Eksekusi terhadap Mary Jane yang semula dijadwalkan pada April 2015 akhirnya ditunda pada menit-menit terakhir.

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Titik Demo di Jakarta Pusat Hari Ini 2 September 2026, Ratusan Polisi Siaga

Titik Demo di Jakarta Pusat Hari Ini 2 September 2026, Ratusan Polisi Siaga

Sejumlah elemen massa menggelar aksi demo di wilayah Jakarta Pusat hari ini 2 September 2026.
Peduli Dampak Karhutla, Polwan Polda Sumsel Bagikan 1.000 Masker dan Bunga

Peduli Dampak Karhutla, Polwan Polda Sumsel Bagikan 1.000 Masker dan Bunga

Polwan Polda Sumatera Selatan menggelar aksi humanis dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita (Polwan) Republik Indonesia, dengan membagikan ribuan masker dan bunga kepada masyarakat, Selasa (1/9/2026).
Timnas Anggar Indonesia Dibantu 2 Pelatih Jepang Jelang Asian Games 2026, Bidik Medali Perunggu

Timnas Anggar Indonesia Dibantu 2 Pelatih Jepang Jelang Asian Games 2026, Bidik Medali Perunggu

PB IKASI mendatangkan dua pelatih asal Jepang, Ryohei Noguchi dan Takamasa Wada, untuk membantu mematangkan persiapan Timnas Anggar Indonesia jelang tampil di Asian Games 2026.
Acara Pernikahan di Iran Diserang Amerika, Korban Tewas Bertambah Jadi Empat Orang

Acara Pernikahan di Iran Diserang Amerika, Korban Tewas Bertambah Jadi Empat Orang

Laporan media sebelumnya menyebutkan jumlah korban tewas akibat serangan AS yang menghantam sebuah acara pernikahan di Iran bertambah menjadi empat orang,  pada Selasa (1/9).
Belum Debut Bersama Hyundai Hillstate, Megawati Hangestri Sudah Punya Rencana Main Abroad ke Eropa

Belum Debut Bersama Hyundai Hillstate, Megawati Hangestri Sudah Punya Rencana Main Abroad ke Eropa

Megawati Hangestri memang belum menjalani debut resmi bersama Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea 2026-2027. Namun, pevoli berjuluk Megatron itu sudah memiliki rencana untuk mencoba peruntungan di kompetisi Eropa.
Karier Makin Bersinar! 6 Zodiak Ini Diprediksi Paling Beruntung Besok 3 September 2026

Karier Makin Bersinar! 6 Zodiak Ini Diprediksi Paling Beruntung Besok 3 September 2026

Ramalan zodiak karier besok 3 September 2026 mengungkap 6 zodiak yang diprediksi paling beruntung. Siapa yang bakal dapat peluang dan apresiasi?

Trending

Top 3 Voli: Megawati Hangestri Buka Peluang Main di Eropa dan Siap Digeser Jadi Outside, hingga Omongan Legenda Hyundai Hillstate soal Megatron

Top 3 Voli: Megawati Hangestri Buka Peluang Main di Eropa dan Siap Digeser Jadi Outside, hingga Omongan Legenda Hyundai Hillstate soal Megatron

Redaksi tvOnenews.com mencatat tiga artikel terpopuler yang paling banyak dibaca seputar perkembangan terbaru atlet berjuluk Megatron ini. Berikut rangkumannya.
Kesaksian dr. Sumy Hastry soal Detik-detik Mencekam Eksekusi Mati Freddy Budiman: 9 Penembak Disiapkan

Kesaksian dr. Sumy Hastry soal Detik-detik Mencekam Eksekusi Mati Freddy Budiman: 9 Penembak Disiapkan

Dokter forensik Polri Brigjen Pol dr. Sumy Hastry Purwanti mengungkap detik-detik eksekusi mati Freddy Budiman di Nusakambangan pada 2016, termasuk persiapan.
Kabar Baik untuk Timnas Indonesia, Emil Audero Resmi Gabung Rayo Vallecano dengan Status Pinjaman dari Como

Kabar Baik untuk Timnas Indonesia, Emil Audero Resmi Gabung Rayo Vallecano dengan Status Pinjaman dari Como

Kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, sudah resmi bergabung dengan Rayo Vallecano dengan status pinjaman dari Como. Hal ini bisa berdampak baik untuk skuad Garuda.
Rangkuman Deadline Day Bursa Transfer Musim Panas 2026: Enzo Fernandez ke Man City, Nick Woltemade Gabung Juventus

Rangkuman Deadline Day Bursa Transfer Musim Panas 2026: Enzo Fernandez ke Man City, Nick Woltemade Gabung Juventus

Sejumlah transfer besar terselesaikan di hari terakhir alias deadline day bursa transfer musim panas 2026. Enzo Fernandez dan Nick Woltemade menemukan klub baru, yaitu Manchester City dan Juventus.
Tampang Pelaku Pembunuhan Wanita Terbungkus Kardus di Bandung, Hendak Kabur ke Palembang

Tampang Pelaku Pembunuhan Wanita Terbungkus Kardus di Bandung, Hendak Kabur ke Palembang

Tersangka pembunuhan wanita terbungkus kardus berinisial SDS telah ditahan di tahanan Mapolrestabes Bandung, guna penyelidikan motif pelaku habisi nyawa korban.
Presiden Gelar 4 Ratas, Panggil Panglima TNI-Kapolri Minta Laporan Penanggulangan Karhutla

Presiden Gelar 4 Ratas, Panggil Panglima TNI-Kapolri Minta Laporan Penanggulangan Karhutla

Presiden Prabowo ingin mendengar laporan terbaru dari keduanya mengenai penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra.
Prabowo Terbang ke Rusia Hadiri EEF Didampingi Seskab Teddy Indra Wijaya

Prabowo Terbang ke Rusia Hadiri EEF Didampingi Seskab Teddy Indra Wijaya

Keberangkatan Prabowo ke Rusia untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) Ke-11 di Vladivostok yang berlangsung pada 1–4 September 2026.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT