Tol Cipali yang Diidamkan sejak Zaman Soeharto terus Merenggut Nyawa, Batu Bleneng jadi Saksinya
- Instagram/@cctvcirebon185
Terbaru, Minggu (3/7/2022), dua orang tewas dalam kecelakaan yang melibatkan bus Primajasa dan sebuah truk pengangkut ayam. Kasat Lantas Polres Subang, AKP Lucky Martono menyebut kecelakaan berawal dari truk ayam yang melaju dari arah Cirebon menuju Jakarta mengalami hilang kendali atau oleng hingga berpindah ke jalur yang berlawanan.
Kisah Mistis di Tol Cipali

Meski semua kasus kecelakaan di Tol Cipali bisa dijelaskan secara ilmiah akibat keteledoran manusia, tidak sedikit dari warga yang mengaitkan rentetan peristiwa kecelakaan dengan kisah mistis yang menyelimuti tol terpanjang ketiga di Indonesia ini.
Pusat kemistikan itu berada di kilometer 182, pengendara yang melintas akan melihat jelas penampakan batu raksasa bernama Batu Blemeng. Sekilas ukuran batu ini memang tak lazim, bentuknya yang bulat tidak sempurna condong ke arah jalan tol seakan-akan bersiap jatuh menggelinding.
Juru Kunci Batu Geneng Sukadi menjelaskan keberadaan batu tersebut sempat akan dihancurkan saat proses pembangunan Tol Cipali.
“Jadi katanya pemborong (jalan tol) itu udah batunya dipecah aja. Sama orang sini nggak boleh karena sebelum ada orang di sini batu itu sudah ada,” katanya.
Masyarakat setempat percaya batu tersebut berjasa menyelamatkan tanah sekitar menjadi tanah yang bisa dihuni. Diyakini ratusan tahun lalu di bawah Batu Blemeng ada sumber lumpur yang terus menyembur hingga membanjiri kawasan tersebut.
Hal itu diperkuat dengan nama desa di sana yakni Desa Walahar yang berarti kewalahan dengan lahar lumpur yang terus menyembur, layaknya kejadian Lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Kemudian seorang tokoh pada zaman itu diceritakan mendapat wangsit untuk mengambil sebuah batu dari puncak Gunung Ceremai, lokasi gunung berada 20 kilometer ke arah selatan dari titik Batu Bleneng berada. Singkat cerita batu tersebutlah yang digunakan sebagai penyumbat sumber lumpur Desa Walahar.
Hingga kini, Batu Bleneng tetap berada di tempatnya dan tidak boleh dipindahkan agar tetap menutup lubang lumpur yang menjadi penyebab musibah masa lalu. Adanya pembangunan Tol Cipali pun tidak mengusik keberadaan batu tersebut.
Load more