Masjid Besar Kauman Semarang, Tempat Ulama dan Umaro Umumkan Hari Pertama Bulan Ramadhan
- Teguh Joko Sutrisno/tvOne
Pengaruh Jawa juga sangat kuat mempengaruhi gaya arsitektur Masjid Kauman Semarang. Bentuk atapnya menyiratkan bangunan gaya Majapahit.
Bagian tajug paling bawah menaungi ruangan ibadah. Tajug kedua lebih kecil, sedangkan tajug tertinggi berbentuk limasan.
Atap Masjid ditopang 36 soko atau pilar yang kokoh.
Bentuk atap limasan yang diberi hiasan mustaka, sementara pintunya berbentuk rangkaian daun waru, melambangkan arsitektur Persia atau Arab.
Di teras masjid terdapat dua bedug dan kentongan. Secara tradisional, bunyi bedug kentongan ini dipakai untuk penanda masuknya waktu sholat.
Di ruangan masjid, terdapat mihrab yang terlihat runcing dengan langit-langit dari beton.
Ada juga mimbar imam yang terbuat dari kayu jati dilengkapi ornamen ukir yang indah.
Konon pada jaman dahulu mimbar ini dibuat sepasang, salah satunya untuk tempat sholat bupati Semarang.
Pada bagian utama masjid, yaitu ruang salat, hanya diperbolehkan bagi muslim laki-laki.
Di pojok terdapat pula jam bandul kuno yang masih digunakan. Atap asli berupa seng masih dipertahankan hingga kini.
Sebuah menara yang cukup tinggi juga sudah menjadi pelengkap bagi Masjid Agung Semarang ini.
Tampakan depannya sudah jauh lebih modern tanpa kehilangan keaslian bangunan aslinya.
Setiap hari, Masjid Agung Kauman Semarang sangat ramai.
Apalagi saat bulan Ramadhan, banyak pendatang dari luar daerah yang sengaja datang kesini untuk mengikuti semaan Alqur'an.
Juga ceramah agama yang disampaikan oleh para kyai sepuh yang menjadi panutan dalam menjalankan ibadah.(tjs/muu)
Load more