Buat Merinding! Kisah Bos Bank Maspion Herman Halim Jadi Mualaf, Sempat Ditentang Keluarga
- istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Buat merinding, begitu anggapan netizen setelah mengetahui cerita kesaksian Bos Bank Maspion Herman Halim yang memeluk agama Islam atau menjadi mualaf.
Pasalnya, kisah Herman Halim memeluk agama Islam begitu panjang dan sempat mendapat pertentangan berbentuk kritik dari pihak keluarga.
Lantas, bagaimana kisah perjalanan Herman Halim yang sebelumnya bernama Lim Xiao Ming?
Dilansir dari berbagai sumber, Herman Halim awalnya belum terketuk pintu hatinya untuk masuk ke agama Islam, atau menjadi mualaf, atau yang kerap disebut-sebut kalangan Gen Z 'log in'
Diketahui juga, sebelum Herman Halim masuk Islam, ia sudah beberapa kali pindah agama.
Namun, Herman Halim akui, dirinya tertarik terhadap agama Islam, berawal dari perenungan panjang dan terpengaruh oleh anak keduanya, Andrew yang deluan memeluk agama Islam.
Bahkan, ia akui dirinya kaget dan bertanya tentang keinginan anak keduanya memeluk agama Islam.
Tetapi, anakn keduanya itu bisa meyakinkan ayahnya (Herman Halim) dan keluarganya tentang niatnya menjadi Muslim.
Dari perenungan panjang hingga terpengaruh oleh sikap anaknya, Herman Halim mulai memutuskan mebuka hatinya untuk menerima ajaran Islam secara kaffah.
"Jadi, saya masuk Islam itu pada tanggal 27 Agustus. Lebih dahsyatnya lagi, saat saya bersyahadat di Masjid Ceng Hoo Surabaya, itu disaksikan oleh banyak orang," cerita Herman Halim beberapa waktu lalu sebelum meninggal dunia.
Bahkan, saat bersyahadat, ia tidak ditemani keluarga besarnya.
"Saya itu berangkat ke sana (Masjid Ceng Hoo) itu sendiri. Alhamduillahnya, teman saya di PITI Masjid Ceng Hoo banyak. Jadi, sudah dipersiapkan. Bahkan, Pak Ali Markus, memberikan selamat ketika saya sudah bersyahadat,” katanya sambil tersenyum lepas.
Memang, ia akui sebelum masuk Islam dan ketika dirinya memberitahu keluarga ingin masuk Islam. Ia malah ditentang dan mendapat kritikan serta sindiran.
Akan tetapi, kritik dan sindiran yang diberikan keluarganya tidak secara frontal.
"Ya, pada saat itu mereka hanya berani mengkritik atau menyindir saja. Namun, mereka tidak berani bertanya secara frontal. Barangkali karena saya saudara terteua. JAdi, mereka segan dengan saya," kata Herman Halim.
Memang, ia katakan, dirinya sudah mengenal Islam selam enam tahun lalu. Itu, katanya, berangkat mulai suka membaca buku-buku agama.
"Saya ini kan memang gemar membaca, segala buku agama saya baca, mulai buku Budha, Kong Hucu, Kristen dan Islam," ungkapnya.
Nah, kata ayah dua anak ini, dari kesukaannya membaca buku-buku agama, ia mulai menyerap intisari dari agama.
"Dari perenungan inti sari agama yang saya serap itu, bahwa semua agama itu benar dan mengajarkan kebaikan. Cuma pernyampaiannya bermacam-macam kan," jelasnya.
"Jadi, saya pun melihat di sini, bahwa ISlam adalah agam terakhir, dan saya ambil dari semua intisari agama yang telah ada, sehingga saya menemukan bahwa ajaran agama Islam begitu lugas dan mudah diserap secara kaidah," ujarnya.
Di samping itu, ia ceritakan, dalam keluarganya memang tidak ada yang fanatik dalam agama, bahkan dalam keluarganya memeluk beberapa agama.
"Saya dulu agamanya Kristen. Sedangkan saudara saya ada yang Budha ada juga yang Kong Hucu. Malah, istri saya beragama Budha,” ucap Herman Halim.
Bahkan, dia akui, soal menganut agama di keluarganya, dirinya tidak pernah memaksakan kepada kedua anaknya.
“Anak saya bebaskan dalam memilih agama. Saya tidak pernah melarang hal itu,” ujarnya.
Apalagi, katanya dengan anak keduanya Andrew, yang ia bebaskan untuk memeluk agama apa saja dan pada akhirnya memilih untuk memeluk agama Islam.
Bahkan, ia kaget dengan jawaban anak keduanya ingin masuk Islam. Hal itu terjadi, saat ia mempertanyakan sikap anaknya ingin memeluk agama Islam.
“Apa perbedaannya dengan agama yang kamu yakini selama ini ?” Tanya Herman Halim kepada Andrew saat itu.
“Saya pernah mencoba memeluk beberapa agama. Namun, Islamlah yang membuat saya lebih tenang dan pas. Dan saya bisa lebih gampang menangkap ajaran Islam dari pada yang lain,” ujar Herman yang menirukan pendapat Andrew (anak keduanya).
Nah, dari diskusi antara dia dan anaknya itu, yang membuat Herman Halim penasaran hingga terus mencari-cari jawaban atas argumen yang dikemukan anaknya.
"Saya mengenal Islam lebih banyak setelah Andrew menerangkan kepada saya dan keluarga tentang ajaran Islam sesungguhnya,” pungkasnya,
Bahkan, ia heran dengan anaknya, karena sejak kecil di Australia. Akan tetapi, ia katakan, mengapa anaknya begitu kuat menerangkan tentang bagaimana ajaran Islam.
Tak sampai di situ saja, katanya, dalam menjelaskan agama Islam, Andrew Halim membawa Al Quran dan Injil.
“Pada saat itu, Andrew membandingkan antara ayat per ayat. Bahkan, beberapa dari paman dan bibinya tidak bisa menyela dan menjawab pertanyaan Andrew,” katanya.
Nah, kata dia, dari pertemuan antara Andrew dan keluarga yang juga dihadiri Herman Halim itulah akhirnya wacana tentang kebenaran Islam mulai terungkap.
“Sejak itu saya jadi tekun belajar Islam. Saya baca Al Quran yang terjemahan dari Bahasa Inggris dan Tionghoa. Saya terus mencari apa yang dikatakan Andrew,” ceritanya.
Selain itu, ia juga menjelaskan, bahwa anak keduanya itu bukan tipikal orang yang mudah percaya dengan sesuatu.
Maka dari kejadian itu, dirinya yakin bahwa apa yang diyakini anaknya adalah suatu kebenaran yang pasti.
“Saat saya beritahu saya menjadi Muslim, ia begitu senang. Ia menyebut lafal Allahu Akbar berulang-ulang. Ia begitu senang saya masuk Islam,” katanya sambil mengatakan, bahwa mata anaknya berkaca-kaca.
- Herman Halim Menemukan Ketengan Hati dan Pikiran
Setelah dirinya memeluk agama Islam, dia katakan, dirinya lebih tenang, bahkan batinnya juga lebih tenang setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Bahkan, pertama kali saya melaksanakan salat, hati saya rasanya tenteram dan damai. Tidak pernah saya merasakan hal seperti ini sebelumnya. Meski saya tidak fasih cara melafalkan Arabnya, namun saya tahu arti Bahasa Indonesianya,” paparnya sembari memejamkan mata. “Saat shalat hati saya damai, sehingga bisa melepas kejenuhan dan stres saat bekerja. Saya lebih mantap dalam mengerjakan tugas-tugas kerja,” ujarnya.
- Herman Halim Meninggal Dunia
Kamis, 11 Agustus 2022 media massa ramai memberitakan soal kabar duka, yakni telah meninggalnya Direktur Utama PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) Herman Halim.
Kabar itu juuga disampaikan manajemen bank dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (15/8/2024).
“Bersama ini kami sampaikan bahwa Bapak Herman Halim, yang menjabat sebagai Direktur Utama perseroan sejak tahun 1991, telah meninggal dunia pada hari Kamis tanggal 11 Agustus 2022,” kabar manajemen Bank Maspion.
Untuk diketahui, Herman Halim merupakan warga negara Indonesia atau WNI.
Semasa hidupnya, Herman menjabat sebagai Direktur Utama di Bank Maspion Indonesia sesuai hasil RUPSLB tanggal 21 Desember 1991 setelah sebelumnya menjabat sebagai Direktur sejak tahun 1989.
Adapun, jabatan lain yang pernah dipegang adalah sebagai Direktur Utama PT Maspion Securities Trading pada tahun 1990 – 2011. Kemudian, dia juga sempat menjabat sebagai Direktur Trading/Operation PT Paramitra Artha Pertiwi pada tahun 1988 – 1990, dan sebagai Asisten Direktur Finance/Accounting Maspion Group pada tahun 1977 – 1987.
Dari sisi jenjang pendidikan, Herman memperoleh Master of Business Administration dari Indonesian European University (IEU) pada tahun 1991. (aag)
Load more