Shalat Tahajud Berjamaah, Memangnya Boleh? Ini Kata Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Abdul Somad, Ternyata Lebih Baik...
- Kolase foto YouTube Adi Hidayat Official dan Ustadz Abdul Somad Official
"Yang menarik, saat Ibnu Abbas diminta shalat disamping Nabi, sudah takbir, pindah ke belakang. Anak usia 4-5 tahun pindah ke belakang, lalu ketika rakaat pertama selesai, Rasulullah berbalik, ditanya kenapa pindah ke belakang," kata Ustaz Adi Hidayat.
"Kata Ibnu Abbas, saya malu shalat di samping orang yang sangat dicintai Allah. Seakan-akan anak kecil ini sangat peka sekali, imam saya sedang mendekat kepada Tuhan yang sangat dicintainya, saya nggak mau ganggu, jadi di belakang aja," tambahnya.
Dari cerita Ibnu Abbas tersebut, dapat diketahui bahwa shalat tahajud boleh dilakukan secara berjamaah dengan tujuan untuk mengajarkan atau membimbing.
"Jadi intinya, tahajud boleh dilakukan berjamaah kalau tujuannya untuk mengajarkan, membimbing," ujar Ustaz Adi Hidayat.
Sebaliknya, jika sudah tahu cara shalat malam, sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri agar bisa lebih khusyuk dalam menyampaikan hajat pribadi.
"Kalau kita sudah tahu mendekat kepada Allah, maka sunnah terbaiknya lakukan dengan masing-masing. Karena tahajud terkait dengan kebutuhan kita," kata Ustaz Adi Hidayat.
Menurut penjelasan Ustaz Abdul Somad, shalat tahajud boleh dilakukan secara berjamaah berturut-turut selama bulan Ramadhan.
"Shalat tahajud di bulan Ramadhan tak ada ikhtilaf, boleh. Majidil Haram 30 malam, Masjid Nabawi 30 malam. Shalat tahajud di malam Ramadhan," ujar Ustaz Abdul Somad.
Sementara, shalat tahajud di luar bulan Ramadhan boleh dilakukan hanya sekali-kali, tidak berturut-turut dan terus-menerus.
"Yang ada ikhtilaf, bagaimana kalau orang shalat tahajud di luar Ramadhan. Sekali-kali boleh. Dalilnya, Nabi shalat, tiba-tiba datang Anas bin Malik di belakang. Tidak ada larangan. Seandainya tidak boleh pasti Nabi larang," kata Ustaz Abdul Somad.
"Tapi kalau dibuat tiap malam, beda. Kalau dibuat sekali-kali boleh," sambungnya.
(gwn)
Load more