News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Tiga Menguak NU

Tanpa disengaja, bulan April-Juni 2024 ini terbit tiga buku tentang tiga tokoh NU, yakni Rais Akbar PBNU KHM Hasyim Asy'ari, pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah, dan ketua umum pertama PBNU H Hasan Gipo, yang diterbitkan oleh tiga lembaga berbeda.
Rabu, 24 Juli 2024 - 04:51 WIB
Tiga buku tentang pendiri NU, KHM Hasyim Asy'ari, KH Ridlwan Abdullah, dan H Hasan Gipo
Sumber :
  • ANTARA

Surabaya, tvOnenews.com- Tanpa disengaja, bulan April-Juni 2024 ini terbit tiga buku tentang tiga tokoh NU, yakni Rais Akbar PBNU KHM Hasyim Asy'ari, pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah, dan ketua umum pertama PBNU H Hasan Gipo, yang diterbitkan oleh tiga lembaga berbeda.

Seakan kebetulan, terbitnya tiga buku tentang tokoh penting dalam pertumbuhan Ormas NU itu pun menjawabĀ framingĀ (pembelokan) "sejarah" NU yang beredar pada sejumlah akun media sosial (medsos) sejak awal hingga pertengahan 2024, mengingat mereka justru dikenal pemersatu umat.

Pertama, buku tentang Rais Akbar PBNU KHM Hasyim Asy'ari itu berjudul "Hadratussyeikh KHM Hasyim Asy'ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia (Percik Pemikiran Reflektif Socio-Religious KH Abdul Hakim Mahfudz)" oleh Penerbit Pustaka Tebuireng, Jombang, April 2024. Buku itu ditulis oleh tim "Tebuireng Institute for Islamic Studies".

Kedua, buku tentang pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah ditulis oleh cucu KH Ridlwan Abdullah, M Ibnu Agusriyadi dengan judul "Sang Kreator KH Ridlwan Abdullah Pencipta Lambang NU" (Penerbit Litnus, Malang, Juni 2024). Ketiga, buku tentang H Hasan Gipo diterbitkan oleh Yayasan Insan Keturunan SagipoddinĀ (IKSA) Surabaya, Juni 2024.

Buku "Hadratussyeikh KHM Hasyim Asy'ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia (Percik Pemikiran Reflektif)" yang tebalnya 214 halaman itu merupakan buku yang lengkap yang mengupas, mulai dari Hadratussyeikh lahir pada 14 Februasi 1871, lalu mondok ke Bangkalan, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, Kediri, hingga ke Mekkah (halaman 1-10).

Selain itu, pernikahan Hadratussyeikh, lalu mendirikan Pesantren Tebuireng (1899), hingga mengarang 21 kitab dan dua kitab belum diterbitkan (1937-1947), lalu aktivitas di pergerakan, seperti SI, Komite Hijaz, NU, dan MIAI/Masyumi, lalu turun berjuang dalam Pertempuran 10 November 1945, hingga wafat pada 25 Juli 1947 (halaman 11-42).

tvonenews

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA



Hal menarik yang ditulis dalam buku itu menyebut dua peran penting dari pendiri NU tersebut, yakni Hadratussyeikh merupakan figur ulama atau ilmuwan plus aktivis yang mau turun ke masyarakat. Jadi,Ā Hadratussyeikh bukan intelektual menara gading
.
Buktinya, Hadratussyeikh meliburkan ngaji pada setiap Selasa dan Jumat untuk bercocok tanam di sawah sambil bertemu dengan petani di desanya
untuk membahas pengairan, pertanian, dan sebagainya, sehingga Hadratussyeikh pun memiliki kharisma yang dekat dengan semua kalangan dan di situlah peran pemersatu mulai terlihat. (halaman 13-15).

Sebagai aktivis, Hadratussyeikh juga bukan hanya beraktivitas di dunia pergerakan (SI, Komite Hijaz, NU, dan MIAI/Masyumi), namun juga terjun di medan juang, hingga pernah ditahan Jepang (April-Agustus 1942), dan terlibat dalam Pertempuran 10 November 1945 lewat fatwa/resolusi, serta mengatur strategi dan memimpin laskar hingga wafat (halaman 27-42).

Satu lagi pelajaran penting, selain sosok ilmuwan plus aktivis, adalah Hadratussyeikh mendapatkan ilmu dari Timur Tengah dan dipadu dengan ilmu pesantren khas Jawa/Walisongo sehingga terejawantahkan dalam pesan-pesan dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Bahkan, persatuan yang dimaksud mencakup tiga lingkup, yakni persatuan kebangsaan, persatuan keagamaan, dan persatuan ber-mazhab. Persatuan kebangsaan dilandasi dengan kesamaan kebangsaan (satu bangsa), sedang persatuan keagamaan dilandasi kesamaan agama. Satu lagi, persatuan ber-mazhab dilandasi kesamaan mengikuti empat mazhab.


Global dan NU-Muhammadiyah

Pesan persatuan yang memosisikan Hadratussyeikh sebagai pemersatu itu tidak bermakna lokal, tapi juga nasional dan bahkan internasional. Maknanya, persatuan bangsa itu membuat bangsa bisa merdeka, persatuan agama itu membuat Islam bisa diperhitungkan, dan persatuan dalam perbedaan mazhab itu membuat Islam tidak terpecah belah.

Nah, persatuan agama dan mazhab itu justru memosisikan Hadratussyeikh dan NU/Komite Hijaz dalam peran-peran yang global atau internasional. NU terlahir dari cikal bakal bernama Komite Hijaz, sebuah komite yang ditugasi membawa pesan para kiai pesantren kepada Raja Sa'udĀ di Arab Saudi agar menghentikan tindakan-tindakan anti-kebebasan bermazhab (halaman 91-100).

Akhirnya, Raja Sa'ud atau pemerintah Arab Saudi pun menerima imbauan KHM Hasyim Asy'ari agar umat Islam mengikuti empat mazhab yang telah jelas keautentikannya, bukan hanya WahabiĀ dan Syiah. Nah, Islam moderat kini pun berkembang di dunia, termasuk Arab Saudi.

Buktinya, Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab SaudiĀ Syaikh Dr Abdullatif bin Abdulaziz Al-Syaikh ketika berkunjung ke Indonesia, justru mengajak seluruh umat Islam untuk menjalani ajaran agama dengan pemahaman moderat. Tidak ekstrem kanan dan ekstrem kiri.

Pesan dan pemikiran Hadratussyeikh KHM Hasyim Asy'ari tentang persatuan itu banyak didapat dalam kitab karyanya yang berjudul "Al Muqaddimah Al Qanun Al Asasi Li Jam'iyyah Nahdlatul Ulama'" yang mengupas persatuan kebangsaan, persatuan keagamaan, kebutuhan akan mazhab, pelurusan beberapa fenomena keagamaan (paham anti-mazhab).

Semangat persatuan dari Hadratussyeikh KHM Hasyim Asy'ari itu mendapat apresiasi dari Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim Prof Bianto, saat dia menghadiri bedah buku itu di Surabaya (16/7/2024). Bagi Muhammadiyah, KHM Hasyim Asy'ari, NU, dan Tebuireng memiliki banyak perjumpaan (titik temu) dengan Muhammadiyah.

Perjumpaan NU-Muhammadiyah dari Hadratussyeikh itu disebut Prof Bianto, antara lain dari guruĀ KHM Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) di Makkah yang sama, yakni Syaikh Khatib Al-Minangkabawi. Ada juga Syaikh Nawawi Al-Bantani. Itulah perjumpaan atau persatuan NU-Muhammadiyah.

Tidak hanya itu, H Hasan Gipo (ketua umum pertama PBNU) dan KH Mas Mansur (pendiri Muhammadiyah Jatim) juga masih saudara/sepupu. Selain itu, pemimpin Muhammadiyah Jatim juga banyak yang alumni Pesantren Tebuireng, seperti mantan Ketua PWM Jatim Ustadz Abdurrahim Noer dan beberapa pimpinan daerah. Itulah perjumpaan NU-Muhammadiyah, masa kini.

Inspirasi lain juga datang dari pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah yang ditulis dalam buku "Sang Kreator KH Ridlwan Abdullah Pencipta Lambang NU". Kiai multitalenta itu mahir menggambar dan melukis ketika menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda, lalu menjadi santri Syaikhona Cholil, Bangkalan, Madura (halaman 12-13).

Sang kiai kreator itu membuat lambang NU saat Kongres/Muktamar ke-2 NU di Peneleh, Surabaya (1927), juga arsitektur Masjid Kemayoran Surabaya merupakan hasil desain rancangan KH Ridlwan Abdullah. Walau tidak memiliki pesantren, KH Ridlwan dikenal sebagai "kiai keliling" yang berdakwah dari kampung ke kampung di kawasan kota (halaman 16-20).

Selain pendakwah, KH Ridlwan Abdullah juga pengajar dan organisatoris. Ia mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan (1916) dan mendirikan koperasi Nahdlatut Tujjar (1918). Rumahnya di Jalan Bubutan VI/20 Surabaya sering dipakai tempat berkumpul para kiai untuk merumuskan dan merintis berdirinya NU pada kurun 1914-1926 (halaman 21-32).

SemangatĀ ukhuwahĀ (persatuan) tergambar jelas dalam lambang NU karya KH Ridlwan Abdullah, yakni bola dunia (tempat tinggal manusia), tali tambang (persaudaraan), peta Indonesia (lokasi NU), sembilan bintang (Rasulullah, empat sahabat, empat mazhab, perlambang Walisongo), dan warna hijau (kesuburan).


Hasan Gipo

Buku terakhir yang juga penting terkait sejarah NU adalah tentang H Hasan Gipo yang berjudul "Langgar (Bani) Gipo ("Markas" Ulama-Santri/Embrio NU)". Buku ini justru menguatkan bahwa Surabaya adalah "embrio" berdirinya NU.

Halaman Selanjutnya :

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Namanya Menggema di GBK, Shin Tae-yong Pernah Ungkap Siap Comeback ke Timnas Indonesia

Namanya Menggema di GBK, Shin Tae-yong Pernah Ungkap Siap Comeback ke Timnas Indonesia

Nama Shin Tae-yong kembali mencuat setelah Timnas Indonesia ditahan Malaysia. STY pernah menegaskan dirinya terbuka kembali melatih Garuda jika ditawari PSSI.
Sekalipun Timnas Indonesia Menang Atas Bangladesh, Skuad Garuda Berpotensi Gagal ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Hal Ini

Sekalipun Timnas Indonesia Menang Atas Bangladesh, Skuad Garuda Berpotensi Gagal ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Karena Hal Ini

Timnas Indonesia belum aman untuk ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Kemenangan atas Bangladesh pada laga terakhir belum cukup mengantar Garuda ke partai puncak.
Ternyata Ini Alasan KM Virgo Belum Juga Diangkat ke Permukaan, Kemenhub Tegur Keras Pihak Asuransi P&I

Ternyata Ini Alasan KM Virgo Belum Juga Diangkat ke Permukaan, Kemenhub Tegur Keras Pihak Asuransi P&I

Media sosial beberapa waktu lalu diramaikan dengan kabar duka, atas tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Kini kabar terbarunya dari Kemenhub.
Gubernur Dedi Mulyadi Soroti Oknum Guru yang Viral Diduga Rekam Bawah Rok Siswi di Subang, Desak Pelaku Diberi Efek Jera

Gubernur Dedi Mulyadi Soroti Oknum Guru yang Viral Diduga Rekam Bawah Rok Siswi di Subang, Desak Pelaku Diberi Efek Jera

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM) murka hingga minta polisi hukum oknum guru SMPN 2 Pagaden, Subang yang viral diduga merekam bawah rok siswi SMAN 1 Pagaden.
Diharapkan Bisa Sehebat Megawati Hangestri, Zhong Hui Bicara Jujur soal Target Besarnya Bersama Red Sparks

Diharapkan Bisa Sehebat Megawati Hangestri, Zhong Hui Bicara Jujur soal Target Besarnya Bersama Red Sparks

Red Sparks memasuki musim baru Liga Voli Korea 2026/2027 dengan sosok berbeda di slot pemain kuota Asia tanpa Megawati Hangestri. Ini target besar Zhong Hui.
Kartu Merah Thom Haye saat Timnas Indonesia vs Malaysia Disorot Media Belanda

Kartu Merah Thom Haye saat Timnas Indonesia vs Malaysia Disorot Media Belanda

Media Belanda soroti kartu merah yang diterima Thom Haye ketika Timnas Indonesia ditahan imbang Malaysia dalam laga kedua fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 semalam.

Trending

Justin Hubner Bakar Semangat Penggawa Timnas Indonesia Usai Ditahan Imbang Malaysia: Masih Belum Berakhir, Ayo Kalahkan Bangladesh

Justin Hubner Bakar Semangat Penggawa Timnas Indonesia Usai Ditahan Imbang Malaysia: Masih Belum Berakhir, Ayo Kalahkan Bangladesh

Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, menegaskan perjuangan Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026 belum berakhir. Ia tetap optimistis meski gagal kalahkan Malaysia.
Gagal Manfaatkan Kartu Merah Thom Haye, Pelatih Malaysia Akui Pertahanan Timnas Indonesia Sulit Ditembus

Gagal Manfaatkan Kartu Merah Thom Haye, Pelatih Malaysia Akui Pertahanan Timnas Indonesia Sulit Ditembus

Pelatih Timnas Malaysia, Tan Cheng Hoe, mengakui ketangguhan pertahanan Timnas Indonesia setelah kedua tim bermain imbang di FIFA ASEAN Cup 2026.
Usai Jadi Tersangka, Bupati Gowa Bakal Diperiksa Bareskrim 1 Oktober 2026

Usai Jadi Tersangka, Bupati Gowa Bakal Diperiksa Bareskrim 1 Oktober 2026

Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang ditetapkan sebagai tersangka oleh Kortas Tipidkor Polri dalam kasus pemerasan dan TPPU yang terjadi di Kabupaten Gowa pada tahun 2025-2026.
Momen John Herdman Hafal Lagu 'Indonesia Raya' Jadi Sorotan Penonton

Momen John Herdman Hafal Lagu 'Indonesia Raya' Jadi Sorotan Penonton

Sebelum dikritik usai Timnas Indonesia vs Malaysia berakhir imbang tanpa gol, pelatih John Herdman sempat disorot setelah hafal nyanyikan lagu Indonesia Raya.
Humble Banget! Megawati Hangestri Ajak Sopir Taksi di Korea untuk Makan Bakso Bareng

Humble Banget! Megawati Hangestri Ajak Sopir Taksi di Korea untuk Makan Bakso Bareng

Sikap rendah hati Megawati Hangestri kembali dapat pujian dari volimania setelah mengajak seorang sopir taksi di Korea Selatan untuk ikut makan bakso bersamanya
Hanya Imbang Lawan 10 Pemain Timnas Indonesia, Pelatih Akui Malaysia Buang-buang PeluangĀ 

Hanya Imbang Lawan 10 Pemain Timnas Indonesia, Pelatih Akui Malaysia Buang-buang PeluangĀ 

Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (28/9/2026), Malaysia harus puas dengan hasil imbang 0-0 dari Timnas Indonesia.
Nasihat Bijak Ketum PSSI Erick Thohir Usai Timnas Indonesia Ditahan Imbang Malaysia: Kesempatan Masih Ada, Fokus Laga Selanjutnya

Nasihat Bijak Ketum PSSI Erick Thohir Usai Timnas Indonesia Ditahan Imbang Malaysia: Kesempatan Masih Ada, Fokus Laga Selanjutnya

Ketum PSSI Erick Thohir meminta Timnas Indonesia alihkan fokus setelah bermain imbang 0-0 melawan Malaysia. Skuad Garuda diminta bangkit demi tiket ke final.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT