Jangan Keliru Lagi, Lebih Penting Mana Shalat Berjamaah atau Kerja? Buya Yahya Jelaskan Sebaiknya...
- Tangkapan Layar YouTube Buya Yahya
Kedua hal ini telah membuktikan kebutuhan yang penting, tetapi harus bisa memenuhinya agar hidup selalu damai dan diselimuti keberkahan.
Sebagai pendakwah, Buya Yahya mendengar di tengah pelaksanaan shalat lima waktu dalam sehari, beberapa pertanyaan muncul terkait seorang mukmin harus memilih salah satunya.
Sebab, bekerja rentan meninggalkan shalat berjamaah. Padahal shalat bersifat wajib sebagaimana tiang agama dan amalan ibadah pertama kali dihisab di akhirat kelak.
Ia pun menyinggung orang yang sibuk bekerja tidak sempat shalat. Bahwasanya beribadah hanya membutuhkan minimal 17 rakaat dalam sehari.
"Mencari nafkah tidak bertentangan dengan shalat. Shalat itu tidak memakan waktu lama. Mungkin hanya sekitar 10 menit," terangnya.
Buya Yahya sebenarnya memahami sibuk bekerja dan pekerjaan menumpuk rentan shalat terlupakan. Namun, hal itu tidak bisa menjadi alasan kuat sengaja tidak beribadah kepada Allah SWT.
Ia menjelaskan hal ini karena salah satu jemaah bertanya terkait shalat berjamaah butuh waktu lama.
"Apa shalat berjamaah itu berlangsung berjam-jam?," tanya Buya Yahya sembari heran kepada jemaahnya.
Seyogyanya umat Muslim bergegas shalat berjamaah jika dengar muadzin mengumandangkan adzan dari pengeras suara masjid.
Sebagai solusinya, pengasuh LPD Al Bahjah itu berharap tempat kerja sarana mencari nafkah dan rezeki seluas samudera, memiliki jarak yang dekat dengan masjid.
Menurutnya, tempat kerja dekat masjid tidak perlu butuh waktu yang lama dalam perjalananannya. Sebab, jaraknya telah dekat dan tak menjadi alasan tidak mengerjakan shalat berjamaah.
"Bekerja untuk memenuhi kebutuhan adalah penting, namun tetaplah istiqomah dalam menjalankan shalat berjamaah," tuturnya.
Lantas, bagaimana orang mukmin sibuk shalat berjamaah tanpa bekerja?
"Kalau hanya fokus pada shalat berjamaah tapi keluarga lapar, itu juga dosa," tandasnya.
(hap)
Load more