Mudik Lebaran Lebih Baik Dahulukan Rumah Orang Tua atau Mertua? Buya Yahya Justru Sarankan…
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
tvOnenews.com - Tanpa terasa, 10 hari pertama bulan Ramadhan telah dilalui. Sebagian besar masyarakat Indonesia telah merencanakan mudik di hari lebaran.
Terkadang, dalam merencanakan tujuan mudik terjadi perdebatan di antara suami dan istri, apakah ke rumah mertua atau orang tua.
Suami dan istri sama-sama ingin berkunjung ke rumah orang tuanya masing-masing.
Lantas, manakah yang lebih baik, apakah dahulukan lebaran di rumah mertua atau orang tua?
Tujuan Mudik Lebaran
Dilansir tvOnenews.com dari tayangan YouTube Al Bahjah TV, persoalan tujuan mudik lebaran memang terkadang dianggap sepele tapi tidak jarang menjadi pemicu keributan dalam rumah tangga.
Terkait persoalan ini, Buya Yahya mengingatkan untuk tidak mendahulukan ego dalam berumah tangga.
"Kaidahnya sederhana, jangan biasa dalam rumah tangga itu egois," pesan Buya Yahya.
"Kalau keras kepala semua, enggak akan ketemu judulnya," sambungnya.
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Dalam urusan mudik lebaran, tentu suami atau istri ada keinginan masing-masing tapi bukan berarti menjadi sebab keributan rumah tangga.
"Apalagi setiap pasangan punya orang tua, yang berantem ini enggak indah," ujar Buya Yahya.
Musyawarah Antara Suami dan Istri
Maka sebaiknya dilakukan diskusi atau musyawarah antara suami dan istri secara baik-baik.
"Tinggal sepakat saja, tahun ini lebih ke mana dulu," kata Buya Yahya.
"Ternyata mungkin kita harus sering ke Madura mudiknya, Tulungagung jadi enggak, enggak ada masalah yang penting kesepakatan yang indah karena mungkin yang di Tulungagung tidak terlalu perlu seperti yang ada di Madura, atau sebaliknya," lanjutnya.
Diskusikan dengan baik dan jangan membesarkan ego masing-masing.
"Jadi tolong lah jangan biasakan hal-hal begini jadi problem," ujar Buya Yahya.
"Mestinya suami mengerti keadaan ibu, barangkali habis ditinggal suaminya, mertua baru meninggal dunia, kan mungkin ibu kesepian, ya mungkin dengan lapang seorang suami menemani istrinya tadi untuk mudik," lanjutnya.
- Tangkapan Layar YouTube Al Bahjah TV
Sifat Keras Kepala
Persoalan tujuan mudik lebaran seperti ini tak akan menjadi masalah serius apabila diselesaikan tanpa adanya sifat keras kepala.
"Jangan biasakan keras kepala dalam rumah tangga," pesan Buya Yahya.
Bisa dicari jalan tengah untuk menentukan tujuan mudik lebaran tahun ini, atau melihat pada kondisi-kondisi tertentu.
"Atau pada akhirnya nanti suami mungkin harus di keluarga sana karena banyak hal yang harus diselesaikan, ada adek, keluarga besar, ya mungkin istri ikut sehari dua hari lalu dikembalikan kepada ibunya lagi," kata Buya Yahya.
"Jadi jangan mempersulit, jangan jadikan hidup bermasalah deh, biasanya yang menjadikan masalah egois," lanjutnya.
Contohlah bagaimana Nabi pun sering berdiskusi dengan istrinya tanpa ada rasa egois dan keras kepala sehingga dihasilkan keputusan yang adil.
"Tidak ada hidup tuh diktator, istri enggak boleh punya usulan, enggak boleh punya suara, enggak boleh, enggak ada itu semuanya, semuanya punya suara, diskusi yang baik," pesan Buya Yahya.
"Sampai baginda Nabi biasa musyawarah dengan istrinya," pungkasnya. (far/kmr)
Load more