Jangan Salah Lagi, Ternyata ini Jumlah Rakaat Shalat Witir Terbaik Sesuai Sunnah Rasulullah SAW Kata Ustaz Abdul Somad
- Instagram/Ustaz Abdul Somad Official
tvOnenews.com - Shalat Witir adalah ibadah penutup malam. Shalat sunnah ini juga memiliki jumlah rakaat terbaik seperti dari kebiasaan Nabi SAW.
Dalam suatu tausiyahnya, Ustaz Abdul Somad merincikan jumlah rakaat shalat Witir. Pembahasan ini mengingatkan masih banyak umat Muslim keliru saat ingin menerapkan sunnah Rasulullah SAW.
Terkait shalat Witir, berapa jumlah rakaat paling afdhol? Simak penjelasan Ustaz Abdul Somad (UAS) di bawah ini!
Jumlah Rakaat Shalat Witir Sunnah Rasulullah SAW

- Kemenag
"Witir dari riwayat Aisyah, istri Nabi SAW mengarahkan tiga rakaat satu salam. Macam shalat Maghrib supaya tidak sama dengan Maghrib, maka enggak ada tasyahud awal," ungkap UAS dilansir tvOnenews.com dari channel YouTube Ustadz Abdul Somad Official, Sabtu (22/3/2025).
UAS lebih dulu mengutip teka-teki jumlah rakaat yang benar ketika mengerjakan shalat Witir dari hadis riwayat Aisyah RA. Sebab, ada beragam pendapat mengenai rakaat Witir.
Jumlah rakaat Witir berdasarkan dari beberapa hadis, ada yang menerangkan dua rakaat, satu rakaat, tiga rakaat, bahkan 11 rakaat jika merujuk pada sunnah Rasulullah SAW.
Hadis riwayat Aisyah RA memiliki sedikit apabila Witir tiga rakaat satu salam, ibaratnya akan mempunyai kesamaan dengan pelaksanaan shalat Maghrib.
Dikutip dari Almanhhaj, hadis riwayat dari redaksi Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu disahihkan Syaikh Al-Albani dalam kitab Shalat Tarawih, hlm. 85, menerangkan kekhawatiran jika Witir tiga rakaat satu salam, Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” لاَ تُوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ تُشَبِّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ، وَلَكِنْ أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ ، أَوْ بِسَبْعٍِ ، أَوْ بِتِسْعٍ ، أَوْ بِإِحْدَى عَشَرَةَ”. أخرجه الحاكم.
Artinya: "Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai shalat Maghrib, namun berwitirlah dengan lima rakaaat, tujuh, sembilan atau sebelas rakaat." (HR. al-Hakim).
Kemudian, pendakwah kondang asal Sumatera itu menerangkan terkait anjuran shalat Witir dengan jumlah hitungan 2+1 rakaat berdasarkan redaksi dari hadis riwayat.
"Sedangkan Witir yang dua rakaat tambah satu, hadisnya diriwayatkan Abdullah bin Umar, anak Umar Bin Khattab," terang dia.
Menurut UAS, kedua hadis tersebut bersifat sahih. Umat Muslim boleh merujuk redaksi hadis baik dari Aisyah RA dan Abdullah bin Umar RA.
"Keduanya bisa jadi dalil. Jadi, kalau ada masjid di sini yang membuat Witir tiga rakaat satu salam, sah. Bagi yang membuat dua rakaat tambah satu, sah," jelasnya.
Meski begitu, UAS mengatakan kesempurnaan dari perbandingan dua hadis riwayat tersebut berbeda. Menurutnya, hadis mengenai jumlah rakaat Witir sesuai sunnah dari redaksi Abdullah Bin Umar.
"Mana yang afdhol? Menurut Mazhab Syafi'i yang afdhol dua rakaat tambah satu. Kenapa (Hadis Ibnu Umar) lebih afdhol? Karena takbiratul ihram dua kali, iftitahnya dua kali, tasyahudnya dua kali, salamnya dua kali," paparnya.
UAS tidak menghalangi jika ada orang mukmin bersikeras mengikuti hadis riwayat dari Sayyidah Aisyah RA, hanya perkara berbeda pandangan terkait kesempurnaan Witir.
Syaikh al-Albani dalam Irwa al-Ghalil, no. 327 mensahihkan hadis riwayat dari Ibnu Umar RA terkait shalat Witir dua rakaat salam tambah satu rakaat salam dikerjakan Rasulullah SAW, begini bunyinya:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الْوَتْرِ وَالشَّفْعِ بِتَسْلِيمَةٍ وَيُسْمِعُنَاهَا
Artinya: "Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antara yang ganjil dan genap dengan salam, dan beliau perdengarkan kepada kami." (HR. Ahmad)
Imam Bukhari meriwayatkan hadis shalat Witir dua rakaat tambah satu rakaat juga dikerjakan oleh Ibnu Umar, begini redaksinya:
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِي الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ
Artinya: "Dahulu, ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam antara satu rakaat dan dua rakaat dalam witir, hingga memerintahkan orang mangambilkan kebutuhannya." (HR. Bukhari).
(hap)
Load more