Meneladani Rasulullah SAW dalam Berbusana di Hari Raya Idul Fitri, Baju Lebaran Sunnah atau Sekedar Tradisi?
- Tangkapan Layar YouTube Al-Bahjah TV
tvOnenews.com - Hari Raya Idul Fitri identik dengan berbagai tradisi, salah satunya adalah mengenakan baju baru. Di tengah euforia menyambut Lebaran, banyak umat Muslim yang berlomba-lomba membeli pakaian baru agar tampil lebih baik saat hari kemenangan. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai kebiasaan ini? Apakah memakai baju baru di Hari Raya merupakan sebuah keharusan? Berikut pesan mendalam dari Buya Yahya.
Dalam salah satu ceramahnya, Buya Yahya menjelaskan bahwa memang memakai pakaian terbaik di Hari Raya Idul Fitri dianjurkan dan tidak dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Namun ada hal-hal yang harus diingat oleh seluruh umat Islam.
Buya Yahya mengatakan meski sunnah yang artinya dilakukan oleh Rasulullah SAW. Namun baju terbaik itu sifatnya anjuran.
“Anjuran menggunakan gunakan baju baru dan baju bagus memang ada, itu bukan anjuran tapi kebiasaan saat berhari raya, bagus bukan baru,” kata Buya Yahya sebagaimana dikutip oleh tvOnenews melalui Kanal YouTube Buya Yahya pada Minggu (31/3/2025).
Kemudian Buya menjelaskan bahwa dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tak pernah melarang umatnya menggunakan baju bagus namun yang dilarang jika memakai bahan dari sutra.
“Ada hadis yang menceritakan Sayyidina umar, ia beli jubah dari sutra, lalu berkata kepada Nabi, beli ini dan pakailah untuk hari raya dan menyambut tamu, Nabi berkata Ini adalah bajunya orang yang tidak mendapatkan baju di akhirat, tidak boleh laki-laki pakai baju sutra, tap Nabi tidak melarang menggunakan baju bagus,” kata Buya Yahya.
Oleh karena itu, para ulama sepakat untuk tidak melarang umat Islam untuk menggunakan baju baru saat Lebaran.
“Para ulama mengatakan sunnahnya pakai baju bagus atau baru. tapi kalau punya uang, jangan utang,” tandas Buya Yahya.
Maka yang dimaksud adalah jangan memaksakan jika memang tak sanggup untuk membeli baju baru saat Lebaran tiba.
“Jadi kalau ada uang boleh beli, tapi harus diingat yang diingkari Nabi SAW adalah jika pakai sutra. Sehingga para ulama mengatakan dalam kita, fiqih kita sunnah kita pake baju baju,” jelas Buya Yahya.
Namun Buya Yahya menegaskan bahwa Hari Raya Idul Fitri bukanlah mengenai baju baru saja, namun haruslah dibarengi dengan iman yang bertambah setelah Ramadhan usai.
“Ingat hari raya bukan bajunya yang baru, tapi orang yang berhari raya itu yang imannya bertambah,” tegas Buya Yahya.
Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan, termasuk dalam berpakaian. Dalam hadis di atas menunjukkan bahwa dianjurkan bagi seorang Muslim untuk tampil rapi dan bersih ketika merayakan Idul Fitri maupun Idul Adha.
Namun, penting untuk diingat bahwa Islam tidak mewajibkan umatnya untuk membeli baju baru. Yang dianjurkan adalah mengenakan pakaian terbaik yang sudah dimiliki, selama masih dalam keadaan bersih dan layak. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan." (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa berpenampilan baik di Hari Raya adalah sesuatu yang disukai dalam Islam, tetapi bukan berarti harus memaksakan diri membeli pakaian baru, apalagi jika sampai berutang atau berlebihan dalam berbelanja.
Idul Fitri adalah momen untuk bersyukur atas segala nikmat Allah dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Namun, esensi dari hari raya ini bukanlah pada pakaian baru atau kemewahan, melainkan pada peningkatan iman dan ketakwaan.
Rasulullah SAW sendiri menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau tidak pernah berlebih-lebihan dalam berpakaian maupun dalam urusan dunia lainnya. Jika memiliki pakaian yang bagus, beliau akan memakainya, tetapi tidak menjadikannya sebagai keharusan.
Mengenakan pakaian terbaik di Hari Raya adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam, tetapi bukan berarti harus membeli yang baru. Yang lebih penting adalah menata niat, tidak berlebihan dalam berbelanja, dan tetap menjaga kesopanan dalam berpakaian sesuai syariat. Idul Fitri adalah momen kemenangan, bukan ajang pamer kemewahan.
Wallahu’alam bishawab
(put)
Load more