Tafsir Juz Amma Surat Al-Balad, Penjelasan Ustaz Firanda Andirja
- Unsplash/Lexi T
tvOnenews.com — Ustadz Dr. Firanda Andirja melanjutkan kajian Tafsir Juz Amma dengan membahas Surat Al-Balad, surat ke-90 dalam Al-Qur’an.
Dalam penjelasannya, beliau menguraikan makna sumpah Allah, hakikat kehidupan manusia yang penuh kepayahan, serta jalan keselamatan yang harus ditempuh seorang mukmin.
Allah Bersumpah dengan Kota Mekah
- Tangkapan/Ustaz Firanda Andirja Official
Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka Surat Al-Balad dengan firman-Nya:
“La uqsimu bihadzal balad”
“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini.”
Yang dimaksud adalah Kota Mekah, kota paling mulia dan paling dicintai Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah dengan Mekah lebih dari satu kali, menunjukkan kemuliaan dan keagungan kota tersebut.
Ustadz Firanda menegaskan bahwa kota suci dalam Islam hanya dua, yaitu:
- Mekah
- Madinah
Adapun Masjid Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi, namun bukan tanah haram seperti Mekah dan Madinah. Status tanah haram memiliki hukum khusus, seperti larangan berburu dan merusak tumbuhan.
“Dan Engkau Halal di Kota Ini”
Firman Allah:
“Wa anta hillun bihadzal balad”
Menurut para ulama tafsir, ayat ini memiliki beberapa makna, di antaranya:
Nabi Muhammad ﷺ tinggal di Kota Mekah
Darah Nabi ﷺ dihalalkan oleh kaum Quraisy (ketika mereka menghalalkan pembunuhan beliau)
Kota Mekah dihalalkan bagi Nabi ﷺ untuk ditaklukkan sementara waktu saat Fathu Mekah
Semua makna ini menunjukkan kezaliman Quraisy dan sekaligus kemuliaan Rasulullah ﷺ.
Manusia Diciptakan dalam Kepayahan
Allah berfirman:
“Laqad khalaqnal insaana fii kabad”
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam kepayahan.”
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa sejak lahir hingga wafat, manusia selalu berada dalam ujian dan kesulitan:
- Saat lahir
- Tumbuh dewasa
- Mencari nafkah
- Sakit dan sakaratul maut
- Hingga hisab di hari kiamat
Ketenangan sejati baru akan dirasakan ketika seseorang masuk surga.
Kesombongan Harta dan Pengawasan Allah
Surat Al-Balad juga menyinggung manusia yang sombong dengan hartanya:
“Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
Allah membantah anggapan bahwa tidak ada yang mengawasi. Allah Maha Melihat dan akan menghisab seluruh nikmat, termasuk:
- Pandangan mata
- Ucapan lisan
- Harta yang dibelanjakan
Dua Jalan yang Jelas: Baik dan Buruk
Allah menegaskan bahwa manusia telah ditunjukkan dua jalan: Jalan kebaikan dan jalan keburukan.
Namun banyak manusia enggan menempuh jalan terjal (al-‘aqabah), yaitu jalan ketaatan yang berat namun menyelamatkan.
Jalan Terjal Menuju Surga
Allah menjelaskan apa itu al-‘aqabah, di antaranya:
- Memerdekakan budak
- Memberi makan di saat kelaparan
- Menyantuni anak yatim, terutama kerabat
- Membantu fakir miskin yang sangat papa
Amal-amal ini berat karena melawan hawa nafsu, cinta harta, dan ego.
Syarat Diterimanya Amal: Iman
Semua amal tersebut tidak bernilai tanpa iman. Amal hanya diterima jika dilakukan dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Namun, bagi orang kafir yang kemudian masuk Islam, kebaikan yang dilakukan sebelum Islam tetap dicatat sebagai pahala, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang Hakim bin Hizam.
Ciri Orang Beriman: Sabar dan Kasih Sayang
Allah menutup Surat Al-Balad dengan ciri orang beriman:
- Saling menasihati dalam kesabaran
- Saling menasihati dalam kasih sayang
Merekalah golongan kanan (ashabul yamin), penghuni surga. Adapun orang kafir adalah golongan kiri, penghuni neraka yang tertutup rapat.
Ustadz Firanda menekankan bahwa kehidupan dunia adalah ujian penuh kepayahan, namun jalan keselamatan telah dijelaskan dengan jelas oleh Allah.
Kesabaran, iman, dan amal saleh adalah kunci agar kepayahan dunia berakhir dengan kebahagiaan abadi di akhirat.
Load more