Masuk Bulan Sya’ban, Buya Yahya Ingatkan Luruskan Niat Shalat Malam Nisfu Sya'ban
- Pexels/Mohammed Alim
tvOnenews.com - Memasuki bulan Sya’ban, pembahasan seputar amalan malam Nisfu Sya’ban kembali mengemuka di tengah masyarakat.
Menanggapi hal ini, Buya Yahya memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus mengajak umat bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat para ulama.
Buya Yahya menjelaskan bahwa amalan shalat Nisfu Sya’ban memang pernah ditulis oleh Imam Ghazali, sehingga masyarakat yang mengamalkannya sejatinya sedang mengikuti pendapat seorang ulama besar.
Namun, di sisi lain, ada pula ulama yang meneliti amalan tersebut dan berkesimpulan berbeda.
Beberapa di antaranya adalah Ibnu Hajar al Haitami yang pandangannya kemudian diikuti oleh Syekh Zainuddin al Malibari, yang menyatakan bahwa shalat khusus Nisfu Sya’ban tersebut tidak memiliki dasar.

- Pexels/Eslam Mohammed Abdelmaksoud
Menghadapi perbedaan itu, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak saling menyalahkan.
Ia menyarankan agar mengambil sikap moderat, tidak mencela mereka yang mengamalkan, serta mengarahkan pada perbaikan niat.
“Hadirkan hajat Anda yang banyak,” ujar Buya Yahya.
Menurutnya, niat shalat malam Nisfu Sya’ban dapat diarahkan menjadi rangkaian shalat sunnah yang jelas dasarnya, seperti witir, awwabin, shalat hajat, dan shalat istikharah.
Dengan demikian, malam tersebut diisi dengan ibadah yang sarat permohonan dan istighfar kepada Allah SWT.
“Kan hajat kita banyak ya, mungkin malamnya witir ambil yang 11 rakaat. Ada awwabin 6 rakaat, hajatnya, istikharah,” kata Buya Yahya.

- Pexels/michael burrows
Ia menekankan bahwa inti dari anjuran tersebut adalah memperbaiki niat, bukan memutus kebiasaan baik yang telah tumbuh di masyarakat.
“Jadi kita ubah niatnya saja, karena kebiasaan baik di satu kampung itu jangan dibatalkan tapi disempurnakan,” ujarnya.
Lebih jauh, Buya Yahya mengingatkan agar umat tidak mudah melabeli amalan orang lain sebagai bid’ah atau menuduh ulama terdahulu sesat.
Menurutnya, para ulama memiliki niat baik dalam berdakwah, terlebih jika yang dilakukan adalah ibadah shalat.
“Ulama kita dulu para walisongo, perkumpulan kemungkaran pun tetap dibiarkan, cuma isinya diubah,” kata Buya Yahya.
Ia mencontohkan bahwa tradisi shalat malam Nisfu Sya’ban bisa diisi dengan amalan yang selaras dengan hadits Nabi SAW, terutama memperbanyak istighfar dan memohon ampunan Allah.

- freepik
“Kita mengadakan shalat Nisfu Sya’ban, cuma di dalamnya kita ajak beristighfar sesuai dengan hadits Nabi, Allah akan mengampuni, kita minta ampun kepada Allah sebanyak-banyaknya,” lanjutnya.
Buya Yahya juga menganjurkan, jika waktu memungkinkan, rangkaian ibadah bisa diawali dengan shalat witir 11 rakaat, dilanjutkan shalat hajat, shalat istikharah, dan ibadah lainnya, lalu ditutup dengan doa yang panjang.
Doa tersebut dianjurkan mencakup permohonan untuk diri sendiri, orang tua, serta sanak keluarga.
Ia menegaskan bahwa kemuliaan malam Nisfu Sya’ban tidak bisa diingkari.
“Kita mengadakan karena memang Nabi menyebutkan malam Nisfu Sya’ban, jangan seperti sebagian orang yang mengatakan, ‘Nggak ada kelebihannya, bid’ah,...’,*” tegas Buya Yahya.
Menurutnya, yang diperdebatkan oleh Ibnu Hajar bukanlah kemuliaan malam Nisfu Sya’bannya, melainkan bentuk amalan shalat tertentu yang dilakukan.
Malam Nisfu Sya’ban sendiri tetap memiliki keutamaan.

- Unsplash/Masjid Pogung Dalangan
“Makanya kalau sudah punya kebiasaan, jangan dibatalkan. Itu kampung yang suka ibadah, tinggal perlu disempurnakan dengan niat-niat yang baik,” kata Buya Yahya.
Dengan pendekatan ini, Buya Yahya berharap masyarakat dapat terus menjaga semangat ibadah di bulan Sya’ban, tanpa terjebak pada perdebatan yang justru memecah persatuan. (gwn)
Load more