H-6 Ramadhan 2026: Niat Puasa Harus Dilafalkan atau Cukup di Dalam Hati?
- Pexels/ Gül Işık
tvOnenews.com - Puasa di bulan suci Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Di balik ibadah yang tampak sederhana ini, ada unsur batin yang sangat menentukan nilai amal seseorang di sisi Allah, yaitu niat.
Tak sedikit umat Islam yang masih bertanya-tanya: apakah niat puasa harus dilafalkan, atau cukup di dalam hati?
Pertanyaan ini kerap muncul terutama menjelang Ramadhan atau saat menjalankan puasa sunnah.
Sebagian orang terbiasa melafalkan niat dengan kalimat tertentu, sementara yang lain meyakini bahwa niat cukup di dalam hati.
Lalu bagaimana sebenarnya tuntunan yang tepat?

- Pexels/Thirdman
Imam Besar Masjidil Haram, Makkah, sekaligus Presiden Urusan Dua Masjid Suci, Syekh Abdurrahman as-Sudais, memberikan penjelasan yang sangat jernih mengenai hal ini.
Beliau menegaskan bahwa niat memiliki posisi yang sangat mendasar dalam ibadah puasa.
“Niat merupakan pembeda antara puasa wajib berupa ibadah dengan sebuah kebiasaan,” ujar Syekh Abdurrahman as-Sudais.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa inti dari puasa bukan hanya aktivitas fisik menahan diri, tetapi tujuan di baliknya.
Dua orang bisa saja sama-sama tidak makan dan minum sepanjang hari, namun nilainya berbeda di sisi Allah jika niatnya tidak sama.
Syekh as-Sudais juga mengingatkan bahwa puasa tanpa niat yang benar bisa kehilangan nilai ibadahnya.
“Ketika seseorang berpuasa hanya ikut seperti orang-orang berpuasa, ia tidak memperoleh pahala,” ujarnya.
Artinya, jika seseorang berpuasa sekadar mengikuti lingkungan, tren, atau kebiasaan sosial tanpa kesadaran ibadah, maka puasanya tidak bernilai pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah.
Karena itu, niat harus benar-benar dihadirkan.

- Pexels/timur-weber
Beliau kemudian menjelaskan bagaimana niat puasa seharusnya ditetapkan.
“Maka ia perlu menetapkan niat bahwa ia menahan diri dari segala pembatal puasa, karena mengharapkan ridha Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, serta mengharapkan pahala dari Allah SWT,” terang Syekh as-Sudais.
Di sini terlihat bahwa niat bukan sekadar formalitas, melainkan kesadaran penuh bahwa puasa dilakukan karena Allah, dalam rangka ketaatan dan mengharap ganjaran-Nya.
Lalu, apakah niat tersebut harus diucapkan?
Syekh Abdurrahman as-Sudais menegaskan bahwa niat tempatnya di hati, bukan di lisan.
“Maka ketika sahur, ia berniat di dalam hatinya dan tidak perlu dilafalkan,” jelasnya.
Beliau bahkan memberikan contoh lafaz yang sering diucapkan sebagian orang, sekaligus menjelaskan bahwa hal itu tidak wajib.
“Tidak perlu mengucapkan ‘Nawaitu aku mau puasa pada hari ini Senin karena Allah SWT’,” lanjutnya.
Penjelasan ini mempertegas kaidah penting dalam ibadah: niat adalah amalan hati.
Selama seseorang sadar dan bertekad untuk berpuasa karena Allah, maka niatnya sudah sah tanpa perlu dilafalkan.
Sebagai penutup, Syekh as-Sudais menenangkan keraguan banyak orang dengan pernyataan yang sederhana namun kuat.
“Karenanya cukup dengan imsak (menahan diri dari pembatal puasa) disertai niat di dalam hati maka sudahlah cukup, InsyaAllah,” tutupnya.
Dengan demikian, yang terpenting bukanlah melafalkan niat, melainkan menghadirkan kesadaran dan keikhlasan dalam hati.
Puasa yang dilandasi niat karena Allah akan bernilai ibadah, sementara puasa tanpa niat hanyalah menahan diri secara fisik.
Pada akhirnya, memahami hakikat niat membantu kita memurnikan ibadah.
Sebab dalam Islam, amal yang tampak besar bisa menjadi ringan tanpa niat, dan amal yang tampak sederhana menjadi agung karena keikhlasan. (gwn)
Load more