Orang Muslim Mengucapkan Selamat Imlek Bagaimana Hukumnya? Begini Penjelasan Tegas Ustaz Adi Hidayat
- tvOnenews.com - anf
tvOnenews.com - Dalam kehidupan sosial yang majemuk seperti di Indonesia, interaksi antarumat beragama adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Ucapan selamat pada hari raya agama lain kerap menjadi perbincangan, terlebih saat momen besar seperti Imlek.
Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk toleransi dan sopan santun, sementara yang lain merasa perlu berhati-hati agar tidak melanggar batasan akidah.
Lalu, bagaimana pandangan Islam terkait hal ini?
Isu ini pernah dijelaskan secara lugas oleh Ustaz Adi Hidayat.

- tim tvone - syamsul huda
Dalam ceramahnya, beliau menyoroti aspek mendasar yang sering luput dari perhatian, yakni wilayah keyakinan (akidah) dalam Islam.
Penegasan tentang Ucapan Selamat dalam Perspektif Akidah
Menurut Ustaz Adi Hidayat, persoalan mengucapkan selamat pada perayaan agama lain bukan semata soal etika sosial, tetapi menyangkut ranah keimanan.
“Mengucapkan selamat pada agama lain di luar keyakinan kita dalam keimanan kita sebagai muslim, itu tidak diperkenankan,” terang Ustaz Adi Hidayat.
Penjelasan ini berangkat dari prinsip bahwa setiap Muslim memiliki batasan akidah yang tidak boleh dicampuradukkan.
Dalam pandangannya, ucapan selamat yang terkait ritual atau perayaan agama lain dapat mengandung konsekuensi teologis.
“Haram hukumnya mengucapkan selamat A, selamat B, yang dalam ucapan selamat itu ada unsur pengakuan, ada agama yang dibenarkan selain Islam,” tegasnya.
Di sini, fokusnya bukan pada hubungan sosial, melainkan pada kemungkinan adanya unsur pengakuan kebenaran teologis di luar Islam.
Menurut Ustaz Adi Hidayat, hal itu termasuk wilayah keyakinan yang bersifat prinsipil.
Wilayah Keyakinan Tidak Bisa Dikompromikan
Ustaz Adi Hidayat juga menjelaskan bahwa setiap pemeluk agama secara alami meyakini ajarannya sebagai yang paling benar. Hal itu adalah sesuatu yang wajar dan menjadi standar dalam beragama.
“Sebenarnya sama aja, yang non muslim juga meyakini kepercayaan mereka yang paling benar. Itu sebenarnya keyakinan standar setiap pemeluk agama,” ujarnya.
Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara toleransi sosial dan keteguhan akidah.
“Itu indah dalam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Kita tidak boleh paksa orang. Tapi kita pun tidak boleh mengikutkan keyakinan kita pada keyakinan orang lain,” lanjutnya.
Artinya, menghormati keberagaman tidak identik dengan mencampuradukkan keyakinan.
Toleransi tetap dijaga, tetapi batasan iman juga harus dipelihara.
Landasan Al-Quran sebagai Dasar Keyakinan
Sebagai penguat argumentasi, Ustaz Adi Hidayat merujuk pada firman Allah dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 19:
“Allah sudah mengatakan yang Saya ridhai, yang Saya tetapkan hanya Islam, tidak ada yang lain,” ujar UAH.
Ayat ini menjadi fondasi bahwa dalam ranah akidah, seorang Muslim meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar di sisi Allah.
Keyakinan ini, bukan sekadar pandangan personal, melainkan perintah yang bersumber dari wahyu.
“Sebagai seorang muslim kita meyakini hanya Islam yang benar, seperti non muslim meyakini kepercayaan dia yang paling benar. Itu urusan masing-masing,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Dengan demikian, ketegasan akidah tidak berarti merendahkan pihak lain, tetapi merupakan konsekuensi logis dari iman yang dianut.
Perbedaan pendapat dalam isu sosial-keagamaan memang selalu ada.
Namun, bagi yang merujuk pada penjelasan Ustaz Adi Hidayat, inti persoalan terletak pada menjaga kemurnian keyakinan.
Islam mengajarkan hidup berdampingan secara damai, tanpa harus mengorbankan prinsip iman.
Pada akhirnya, setiap Muslim perlu memahami landasan yang diyakininya, agar sikap yang diambil tidak sekadar mengikuti arus, tetapi didasari ilmu dan kesadaran beragama. (gwn)
Load more