Keistimewaan 10 Hari Terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW Sangat Bersungguh-Sungguh di Waktu Ini
- Ilustrasi AI
tvOnenews.com - Bulan Ramadhan 1447 H/2026 kini telah melewati pertengahannya.
Bagi umat Islam, bulan suci ini selalu menjadi waktu yang penuh keistimewaan untuk meningkatkan ketakwaan serta memperbanyak amal ibadah.
Setelah menjalani 18 hari pertama Ramadhan, umat Muslim kemudian akan memasuki fase yang sangat dinantikan, yakni sepuluh hari terakhir.
Periode ini sering disebut sebagai waktu yang paling menentukan karena di dalamnya terbuka peluang besar untuk meraih berbagai keutamaan dan keberkahan dari Allah SWT.
Dalam salah satu ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan hanya sekadar penutup dari bulan puasa, tetapi merupakan puncak dari seluruh rangkaian ibadah yang telah dijalani sejak awal Ramadhan.
Oleh sebab itu, Rasulullah SAW memberikan teladan dengan meningkatkan kesungguhan dalam beribadah pada waktu tersebut.

- Ilustrasi AI
Nabi SAW Mengencangkan Sarungnya di 10 Hari Terakhir
Dalam ceramah tersebut, Ustaz Adi Hidayat bahwa Rasulullah SAW memiliki kebiasaan khusus ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih.
Ustaz Adi Hidayat tersebut hadis riwayat Imam Bukhari yang berasal dari Sayyidah Aisyah RA:
“Jika telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” ujar Ustaz Adi Hidayat menjelaskan.
Menurut para ulama, tiga kebiasaan Nabi SAW ini menunjukkan bahwa ada keistimewaan besar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
“Para ulama menafsirkan bahwa ketika Nabi disebut ‘mengencangkan sarungnya’, itu adalah kinayah dalam bahasa Arab yang menunjukkan beliau menyingkirkan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian, termasuk hubungan biologis dengan istri, karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin beliau kejar,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Selain itu, istilah mengencangkan sarung juga menggambarkan kesiapan untuk meningkatkan ibadah secara lebih serius, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

- Gemini AI
Menghidupkan Malam dengan Berbagai Ibadah
Kebiasaan kedua Rasulullah SAW adalah menghidupkan malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Hal ini dilakukan dengan berbagai bentuk ibadah, seperti shalat malam, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa.
Menurut penjelasan Ustaz Adi Hidayat, Rasulullah SAW juga dikenal rutin bertadarus Al-Quran selama Ramadhan bersama Malaikat Jibril.
“Hadis-hadis mengungkap bahwa Nabi setiap malam Ramadhan didatangi Malaikat Jibril untuk tadarus Al-Quran. Ini menunjukkan malam-malam Ramadhan dihidupkan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah,” ujarnya.
Kebiasaan ketiga adalah membangunkan keluarga agar ikut menghidupkan malam dengan ibadah.
Hal ini menjadi teladan bahwa kesalehan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus ditularkan kepada keluarga.

- Ilustrasi AI
Memburu Malam Lailatul Qadar
Salah satu alasan utama mengapa Rasulullah SAW begitu bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah karena adanya kemungkinan datangnya malam Lailatul Qadar.
Malam ini dikenal sebagai malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Ustaz tersebut menjelaskan bahwa jika seseorang beribadah pada malam Lailatul Qadar, pahala yang diperoleh bisa melampaui ibadah selama puluhan tahun.
“Seribu bulan jika dikonversi setidaknya sekitar 85 tahun. Jadi bayangkan, sekali membaca satu huruf Al-Quran saja nilainya bisa seperti membaca selama lebih dari 85 tahun,” jelasnya.
Karena itulah banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk memburu malam Lailatul Qadar terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

- Ilustrasi AI
Puncak Pembuktian Ibadah Selama Ramadhan
Ustaz Adi Hidayat juga menegaskan bahwa sepuluh hari terakhir merupakan puncak pembuktian dari ibadah yang telah dilakukan sejak awal Ramadhan.
Jika pada sepuluh hari pertama penuh dengan rahmat dan sepuluh hari kedua menjadi waktu untuk memohon ampunan, maka sepuluh hari terakhir menjadi kesempatan untuk meraih pembebasan dari api neraka.
“Sepuluh hari terakhir adalah puncaknya. Di sinilah kita menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah,” kata Ustaz Adi Hidayat.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan bertemu Ramadhan setiap tahun.
Karena itu, momen di penghujung Ramadhan seharusnya dimanfaatkan sebaik mungkin.

- Pixabay
Momentum Terbaik Memperbanyak Doa
Selain memperbanyak ibadah, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak doa pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Sebab waktu ini dianggap sebagai salah satu kesempatan besar untuk mendapatkan pengabulan doa.
Ustaz Adi Hiadyat menutup ceramahnya dengan harapan agar umat Islam dapat memanfaatkan sisa Ramadhan dengan maksimal.
“Semoga sepuluh hari terakhir ini kita mendapatkan keistimewaannya, meraih malam Lailatul Qadar, mendapatkan ampunan dari Allah, dan kembali kepada fitrah saat Idul Fitri,” ujarnya.
Dengan memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan, umat Islam diharapkan dapat keluar dari bulan suci ini dalam keadaan lebih baik, baik secara spiritual maupun dalam kehidupan sehari-hari. (gwn)
Load more