Dari Pesantren hingga Panggung Global, Astrid Nadya Rizqita Perkenalkan Cara Indonesia Membangun Toleransi
- Istimewa
tvOnenews.com – Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita tampil memukau sebagai delegasi sekaligus pembicara dalam ajang bergengsi 9th Austria-Indonesia Interfaith and Intercultural Dialogue (IAIID) yang digelar pada 25–30 April 2026 di Graz dan Wina, Austria.
Forum strategis ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Luar Negeri RI dengan Federal Ministry for European and International Affairs (BMEIA) Austria yang telah konsisten membangun fondasi toleransi global sejak tahun 2010.
Dalam forum bilateral tersebut, Astrid memikul misi besar membawa aspirasi lebih dari 65 juta pemuda Indonesia.
- Istimewa
Ia menekankan bahwa pemuda adalah aktor kunci dalam membangun toleransi, diplomasi digital, hingga pencegahan radikalisasi.
Astrid tampil di dua panggung utama, yakni sesi publik bertajuk “Youth Engagement in Intercultural and Interfaith Dialogue” di Rathaus Graz dan konferensi internasional “State and Civil Society: Strengthening Social Cohesion” di Universitas Wina.
Delegasi Indonesia sendiri dipimpin oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI R. Heru Hartanto Subolo, serta didampingi oleh Duta Besar RI untuk Austria H.E. Damos Dumoli, serta sejumlah tokoh dari Kementerian Agama dan akademisi terkemuka.
Tak hanya sekadar berdiskusi, Astrid memaparkan langkah nyata OIC Youth Indonesia dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian.
Salah satu program unggulan yang mencuri perhatian adalah Santri Peace Academy di Bali, yang melatih para santri memahami nilai toleransi dan diplomasi sejak dini.
“Kami memulai dari sekolah dan pesantren, karena identitas seorang muda terbentuk jauh sebelum mereka masuk universitas,” tegas Astrid di hadapan para delegasi.
Ia juga menjelaskan pentingnya ekosistem pelatihan kepemudaan berbasis nilai kebangsaan yang dikembangkan bersama Lemhannas dan Kementerian Pertahanan RI.
- Istimewa
Program seperti Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan dan Bela Negara menjadi instrumen penting untuk membekali pemuda dengan pemahaman Pancasila tanpa melibatkan pelatihan militer senjata, melainkan fokus pada kedisiplinan dan tanggung jawab warga negara.
Load more