Tips Memilih Pasangan Sebelum Menikah Menurut Buya Yahya: Jangan Cari yang Sempurna, Cari yang Mau Berubah
- Freepik/StockSnap
tvOnenews.com - Menikah sering kali dianggap sebagai tujuan yang baru bisa diwujudkan setelah seseorang merasa sudah mapan atau menjadi pribadi yang sempurna.
Padahal, menurut Buya Yahya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Yang terpenting bagi seorang laki-laki bukanlah kesempurnaan, melainkan kesadaran untuk terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam sebuah kajian, Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang laki-laki tidak perlu menunggu menjadi sosok yang istimewa untuk meminang seorang gadis.
Jika terus menunggu hingga merasa sempurna, bisa jadi kesempatan untuk menikah justru tidak pernah datang.
Menurutnya, bekal utama seorang laki-laki adalah memiliki keinsafan, menyadari kekurangan diri, serta memiliki tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebab, seseorang yang merasa dirinya sudah baik justru akan sulit berkembang.
“Tapi kuncinya adalah keinsyafan, ingin membuat perubahan” ucap Buya Yahya menegaskan.
- ChatGPT.com
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa meski saat ini seseorang belum menjadi pribadi yang saleh sepenuhnya, ia tetap boleh memilih wanita salehah apabila memiliki cita-cita yang sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang taat kepada Allah.
Ia mencontohkan banyak laki-laki yang justru belajar setelah menikah. Ada yang sebelumnya belum bisa membaca Al-Quran, namun akhirnya mampu karena belajar bersama istrinya.
Di sisi lain, Buya Yahya mengingatkan agar setiap orang menjauhi sifat sombong.
Menurutnya, kesombongan membuat seseorang mudah merendahkan orang lain, termasuk pasangannya sendiri.
Jika seseorang memiliki sifat demikian, maka ia belum pantas membangun rumah tangga.
Sebab, sebaik apa pun pasangannya, orang yang sombong tetap akan mencari kekurangan dan merendahkannya.
Saat memilih pasangan, Buya Yahya menyebut ada empat hal yang biasanya menjadi pertimbangan, yakni kecantikan, kekayaan, akhlak atau sifat, serta agamanya, yaitu kepatuhan terhadap syariat.
Ia menegaskan bahwa laki-laki yang baik akan cenderung memilih perempuan yang salehah.
Namun, wanita salehah yang dimaksud bukan berarti harus lulusan pesantren.
“Bukan berarti wanita sholehah yang dimaksud adalah jebolan pesantren , bukan, tapi wanita yang patuh terhadap syariat, mudah diingatkan,” ucap Buya Yahya.
- ChatGPT.com
Menurut Buya Yahya, salah satu ciri istri salehah adalah tidak mengungkit atau merendahkan kekurangan suaminya, terlebih kekurangan fisik.
Sebagai contoh, apabila suami memiliki bau keringat yang khas, istri yang salehah tidak akan menjadikannya bahan hinaan. Sebaliknya, ia akan memandangnya sebagai ciri khas suaminya.
“Kalau sudah berani bicara merendahkan fisiknya manusia, maka ia adalah orang yang paling rendah. Karena fisik ciptaan Allah,”kata Buya Yahya
Ia juga mengingatkan agar suami dan istri selalu bersyukur atas pasangan yang telah Allah tetapkan.
Menurutnya, suami maupun istri adalah pilihan Allah. Dengan menutup mata dari kekurangan pasangan dan lebih banyak bersyukur, rasa cinta dan kasih sayang akan tumbuh seiring waktu.
Bahkan, pernikahan yang awalnya tanpa cinta pun bisa berkembang menjadi penuh kasih sayang.
Buya Yahya kemudian mengutip pesan Rasulullah SAW agar orang tua menikahkan anak perempuannya dengan laki-laki yang saleh.
Orang saleh yang dimaksud bukan hanya orang yang berilmu tinggi, tetapi orang yang dekat kepada Allah dan memiliki rasa takut kepada-Nya.
“Karena jika orang shaleh, walau ia tidak mencintai anakmu, maka ia tidak akan merendahkan dan menghina anak perempuanmu. Dan akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami,” kata Buya Yahya
“Dan jika laki-laki itu mencintai anak perempuanmu, niscaya dia akan memuliakannya,”lanjut Buya Yahya.
Di akhir penjelasannya, Buya Yahya juga memberikan nasihat bagi laki-laki yang lamarannya ditolak agar tidak larut dalam kesedihan.
Ia menyarankan untuk tetap berusaha dan mencari pasangan lain dengan cara yang benar.
Menurutnya, jatuh cinta sebelum menikah sering kali membuat seseorang kehilangan objektivitas dalam memilih pasangan karena lebih mengikuti perasaan.
Oleh sebab itu, Buya Yahya mengajak setiap muslim untuk terus memperbaiki diri dan meluruskan niat karena Allah SWT.
Dengan usaha tersebut, Allah akan menghadirkan pasangan yang dapat saling melengkapi dan menyempurnakan dalam kehidupan rumah tangga. (gwn)
Load more