Seruan Ustaz Adi Hidayat soal Banyak Musibah dan Bencana Alam, Ajak Taubat Nasional
- Tangkapan layar YouTube Adi Hidayat Official
Jakarta, tvOnenews.com - Pendakwah kondang, Ustaz Adi Hidayat membahas kondisi Indonesia saat ini. Hal tersebut tak lepas bahwa RI dilanda banyak musibah dan bencana alam.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia telah dilanda sebanyak 1.730 kejadian bencana alam dan musibah. Data tersebut berlangsung dari 1 Januari hingga September 2026.
Terbaru, wilayah timur Indonesia di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur diguncang gempa bumi kekuatan magnitudo (M) 7,7. Setelah itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda hampir di seluruh Pulau Kalimantan, serta erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sejak Jumat, 4 September 2026.
Ustaz Adi Hidayat pun mengatakan bahwa, musibah, bencana alam, dan seluruh yang ada di alam semesta merupakan milik Allah SWT. Kehadiran-Nya sebagai yang merawat hingga melindungi alam semesta.
"Allah yang menguasai, merawat, menjaga, melindungi alam semesta ini. Bagian ini tentu memiliki aturan-aturan dan ketentuan yaitu penjagaan ditetapkan, dengan aturan itu perawatan diberikan," ujar Ustaz Adi Hidayat dilansir dari kanal YouTube pribadinya, Rabu (9/9/2026).
- Antara
UAH sapaan akrabnya, kembali mengingatkan kehadiran manusia juga untuk menjaga bumi selalu terawat. Caranya menjalani tugas dan amanah dari Allah SWT, di antaranya menjaganya dengan baik, tidak mengganggu stabilitas, tidak melakukan tindakan merusak lingkungan.
"Seringkali tampak banyak kerusakan di daratan, di lautan karena perilaku manusia itu sendiri yang menyimpang," katanya.
Lebih lanjut, kerusakan lingkungan dan alam yang disebabkan manusia sangat berdampak pada tidak stabilnya lingkungan. Selain itu, kerusakan juga bisa mendorong Sang Pencipta memberikan tanda-tanda seperti bencana alam kepada hamba-Nya.
UAH mengambil situasi saat ini melalui Surat Al-A'raf Ayat 59. Tafsir ayat tersebut berisi tentang kehebatan Allah SWT untuk menunjukkan pada sesuatu yang besar misalnya adanya peringatan bencana.
Peringatan tersebut, kata UAH, tentu sebagai tanda-tanda agar manusia segera bertaubat. Dari situasi saat ini, bencana alam yang terjadi sebagai peringatan keras dari Allah SWT.
"Peringatan itu sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang mengguncang, sesuatu yang harusnya menyadarkan kita semua. Tidak ada yang bisa mencegah kami dengan keagungan-Ku untuk memberikan pelajaran berupa tanda-tanda yang menjadikan seorang hamba seharusnya mengerti untuk memperbaiki diri," jelasnya.
Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Peringatan
Lanjut, UAH menyoroti kehebohan yang terjadi belakangan ini. Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda mulai aktif mengeluarkan abu vulkanik sejak Jumat, 4 September 2026 malam.
Hal ini mendorong Gunung Anak Krakatau erupsi terus-menerus pada 5 September 2026. Dampak letusan ini menyebabkan abu vulkanik tersebar ke sebagian Pulau Jawa, Pulau Sumatera, serta Samudera Hindia.
Pada Rabu (9/9/2026), sekitar pukul 00.47 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali meletus dengan durasi 28 detik dan amplitudo maksimum 51 mm.
Abu vulkanik yang tersebar membuat masyarakat panik. Aktivitas tersebut juga membuat berbagai jadwal penerbangan ditunda bahkan batal.
"Pertanyaannya, dari sekian yang merasa takut itu berapa yang mau evaluasi diri? Berapa yang mau bermuhasabah? Berapa yang mau berintrospeksi diri?," tanya dia.
UAH Ajak Taubat Nasional
UAH mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berbuat kerusakan belum sadar terhadap tindakannya. Pendakwah kondang itu pun ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk selalu introspeksi diri.
Cara introspeksi diri berupa taubat nasional. Menurutnya, hal ini justru bersifat lebih luas karena tidak hanya melihat beragam kesulitan dirasakan seseorang tetapi lebih mengacu pada kesulitan disebabkan fenomena alam.
"Kita punya jiwa spiritual, kita punya karakter berkeTuhanan yang Maha Esa, bahkan ini menjadi filosofi dalam berbangsa dan bernegara. Saya kira saatnya kita menghidupkan kembali algoritma spiritual kita," jelasnya.
Ajakan taubat nasional tersebut tidak hanya untuk situasi erupsi Gunung Anak Krakatau, tetapi juga mengacu pada sikap orang mukmin menghadapi fenomena alam lainnya, mulai dari musim kemarau dan sebagainya.
UAH setidaknya mengajak orang mukmin untuk melakukan tiga hal, di antaranya introspeksi diri, bertaubat, dan memperbanyak istighfar.
"Ayo banyak istighfar. Sungguh Allah itu Maha Penerima ampunan bagi hamba-hamba yang melampaui batas dalam perbuatan penyimpangannya," seru UAH.
(hap)
Load more