Pesantren Mulai Tinggalkan Cara Manual, Hafalan hingga Kesehatan Santri Kini Bisa Dipantau Lewat Sistem Digital
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
“Dalam rangka meningkatkan pelayanan pendidikan, kami bekerja sama dengan platform tersebut untuk meningkatkan pengawasan kinerja SDM, musyrif, dan pengasuh serta pemantauan perkembangan santri secara real-time,” ungkap Pimpinan Kahf Islamic Boarding School, Ustadz Harun Tofik.
Dari Buku Hafalan ke Smartphone
Salah satu perubahan yang paling terasa terjadi pada proses pencatatan hafalan. Sebelum menggunakan sistem digital, musyrif Kahf Islamic Boarding School Ustadz Arifin Ahmad mengatakan pencatatan masih dilakukan menggunakan buku.
Cara tersebut membuat proses rekap membutuhkan waktu sebelum akhirnya informasi dapat disampaikan kepada wali santri.
“Dulu mencatat hafalan santri dilakukan secara manual dengan buku hafalan, lalu laporannya baru bisa kami serahkan kepada wali santri dengan waktu yang lama. Tapi semenjak menggunakan Sakha Platform masalah itu teratasi. Ketika halaqah dimulai saya cukup membuka smartphone lalu menginput hafalan yang disetorkan santri. Cepat, ringkas, tanpa kertas,” tutur Ustadz Arifin.
Perubahan itu membuat pencatatan dapat dilakukan ketika kegiatan berlangsung. Bagi musyrif, digitalisasi bukan hanya mengganti media dari kertas menjadi layar, tetapi juga mengurangi pekerjaan administratif yang sebelumnya membutuhkan waktu tambahan.
Manfaat tersebut kemudian dirasakan oleh orang tua. Melalui portal wali santri, perkembangan anak dapat dipantau dari jarak jauh, termasuk capaian hafalan Al-Qur'an, hafalan matan dan amaliyah sunnah yang telah dilakukan. Salah satu wali santri mengatakan aplikasi tersebut memudahkannya mengetahui perkembangan anak.
“Kabar gembira sekali karena saat ini sekolah sudah memakai aplikasi. Memudahkan kami orang tua di rumah bisa memantau serta mengecek progres kegiatan anak kami, Sultan, hanya melalui HP. Alhamdulillah, aplikasi ini benar-benar membantu sekali,” ujarnya.
Bukan Cuma Hafalan, Kesehatan Santri Ikut Dipantau
Digitalisasi ini tidak berhenti pada pencatatan hafalan dan aktivitas ibadah. Sistem tersebut juga digunakan untuk mendukung pengelolaan fasilitas serta kesehatan santri.
Perwakilan Tim Sarana dan Prasarana KIBS Teguh mengatakan laporan kerusakan fasilitas dapat dipantau berdasarkan tingkat prioritas.
“Dengan adanya modul pengaduan sarpras di sistem digital, setiap laporan kerusakan fasilitas asrama maupun kelas langsung terpantau skala prioritasnya. Proses penanganan jadi lebih cepat, terstruktur, dan transparan, sehingga fasilitas belajar dan tempat tinggal santri selalu dalam kondisi optimal,” jelasnya.
Load more