Expressway Hi-Pass Pecat Pelatih Kim Jong-min Jelang Final Liga Voli Korea, Imbas Dugaan Kasus Perundungan dan Kekerasan
- Instagram.com/@hipassvolleyclub
Jakarta, tvOnenews.com - Expressway Hi-Pass dikabarkan telah memecat sang pelatih, Kim Jong-min sepekan jelang tampil di babak final Liga Voli Korea 2025-2026.
Melansir dari Yonhap News, Kim Jong-min diberitahu bahwa pihak Expressway Hi-Pass tak akan memperpanjang kontraknya yang efektif akan berakhir pada 31 Maret 2026 pada Kamis (26/3/2026) pagi WIB.
Kabar ini cukup mengejutkan karena Kim Jong-min sudah menjadi pelatih Expressway Hi-Pass selama 10 tahun atau sejak Maret 2016 silam.
"Menurut beberapa sumber pada tanggal 26 Maret, Expressway Hi-Pass memberi tahu pelatih Kim bahwa ia tidak akan memimpin tim di final kejuaraan," tulis Yonhap News.
Laporan tersebut juga menyebutkan salah satu alasan mengapa Hi-Pass enggan memperpanjang kontrak Kim Jong-min ialah karena kasus hukum dugaan kekerasan yang dilakukannya kepada asisten pelatih.
"Rumor mengatakan bahwa keputusan untuk tidak memperpanjang juga dipengaruhi oleh fakta bahwa pelatih Kim didakwa secara singkat atas tuduhan menyerang asisten pelatih A," tambah laporan tersebut.
Saat itu Kim Jong-min dituduh melakukan perundungan dan kekerasan kepada asisten pelatih A di kantor manajer di asrama klub di Gimcheon, Provinsi Gyeongsang Utara, antara akhir 2024 dan awal 2025 lalu.
Kemudian fakta bahwa ia telah dilaporkan ke polisi diketahui pada bulan April 2025 lalu.
- Instagram.com/hipassvolleyclub
Akibat dugaan kekerasaan yang dilakukan oleh pelatih Hi-Pass tersebut, korban bahkan mengaku sampai mengalami gangguan mental, dilansir dari SBS Sports pada April 2025 lalu.
"Saya telah menderita kerugian yang sangat besar, termasuk menderita depresi dan insomnia dalam beberapa bulan terakhir dan menerima perawatan psikiatris," tambahnya.
"Pelatih Kim melakukan gerakan-gerakan yang mengancam, termasuk melempar remote control dan melontarkan kata-kata makian yang tak terucapkan, yang kemudian meningkat menjadi perkelahian fisik dan perilaku kekerasan, termasuk mencekik saya," tambahnya.
"Saya dilarang bekerja mulai hari berikutnya. Sekitar sebulan setelah kejadian, tepatnya pada tanggal 22 Desember, ia memerintahkan saya untuk berkemas dan pergi," jelasnya.
Load more