Bulu Tangkis Indonesia Berduka, Pelatih Legendaris Atik Jauhari Meninggal Dunia
- Erly Bahtiar
Jakarta, tvOnenews.com - Dunia bulutangkis Indonesia tengah berduka karena kehilangan salah satu sosok pentingnya setelah mantan pemain nasional sekaligus pelatih Pelatnas PBSI, Atik Jauhari, meninggal dunia pada Minggu (8/11/2026).Â
Melansir dari PBSI, Atik Jauhari mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota, pukul 02.49 WIB dalam usia 77 tahun setelah berjuang melawan sakit.
Jenazah Atik Jauhari dimakamkan di pemakaman keluarga di Cipondoh, Kota Tangerang, pada Minggu siang. Kepergiannya meninggalkan seorang istri, Hj. Neng Titi, empat anak, serta lima cucu.
Kabar duka tersebut juga telah dikonfirmasi oleh Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI), Hariyanto Arbi, yang menyebut Atik sebagai salah satu tokoh berjasa bagi bulutangkis nasional.Â
"Betul, Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini. Kami keluarga besar KBI ikut berduka cita dan merasa kehilangan dengan berpulangnya salah satu pahlawan bulutangkis nasional tersebut," kata Hariyanto Arbi.
Nama Atik dikenal tak hanya sebagai seorang mantan atlet, namun juga berkat kiprahnya sebagai pelatih. Ia memulai perjalanan sebagai juru latih Pelatnas PBSI pada 1974 dan ikut membentuk sejumlah pemain yang kemudian mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.
Salah satu kontribusi terbesarnya ialah saat dipercaya menangani sektor ganda putra bersama Christian Hadinata. Dari tangan kedua pelatih tersebut, lahir pasangan-pasangan tangguh seperti Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, hingga Candra Wijaya/Tony Gunawan.
Ricky/Rexy menjadi salah satu pasangan paling sukses di era 1990-an setelah merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996. Sementara itu, Candra/Sigit berhasil meraih gelar juara dunia 1997 di Glasgow, sedangkan Candra/Tony kemudian menjuarai All England 1999.
Sosok Atik juga mendapat pengakuan langsung dari para pemain yang pernah merasakan sentuhan kepelatihannya. Candra Wijaya mengenang Atik sebagai pelatih yang mampu membaca potensi atlet dan meracik pasangan ganda yang kompetitif.
"Saya turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Kak Atik. Kak Atik adalah pelatih bertangan dingin yang bekerja dalam senyap, ulet, tekun, dan memiliki instink tajam untuk melihat potensi masing-masing pemain dan kemudian bisa menyatukan menjadi pasangan ganda yang berprestasi. Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia," kenang Candra Wijaya.
Berkat dedikasinya, Atik pernah menerima penghargaan Pelatih Terbaik 2023 versi Daihatsu Yonex-Sunrises Candra Wijaya International Badminton Centre. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang dan kontribusinya bagi bulutangkis Indonesia.
Pengabdian Atik tidak hanya berlangsung di Tanah Air karena ia juga pernah menangani tim nasional Swedia, Thailand, dan India. Setelah sekitar 25 tahun mengabdi di Pelatnas PBSI pada periode 1974-1999, ia melanjutkan karier kepelatihannya ke berbagai negara sebelum kembali beberapa kali menangani atlet Indonesia.
(nad)
Load more