Fabio Quartararo Bawa Kabar Baik untuk Yamaha Setelah Kesulitan di MotoGP 2025: Saya Belajar...
- MotoGP
Jakarta, tvOnenews.com - Fabio Quartararo memberikan kabar baik untuk Yamaha. Meski mengalami musim yang sulit sepanjang MotoGP 2025, El Diabli menilai performanya sebagai pembalap justru mengalami peningkatan.
Seperti diketahui, pada gelaran MotoGP 2025 Fabio Quartararo gagal meraih satu pun kemenangan grand prix dan hanya finis di posisi kesembilan klasemen akhir.

- Facebook/MotoGP
Sudah empat tahun berlalu sejak Quartararo terakhir kali menjadi juara dunia MotoGP. Rentang waktu itu hanya terpaut satu musim lebih singkat dibanding masa paceklik gelar Marc Marquez antara 2019 hingga 2025.
Performa Marquez sendiri sempat terhambat karena cedera serius pada lengan dan mata, ditambah motor Honda yang kurang kompetitif. Kondisi tersebut membuat kariernya sempat berada di titik krusial.
Berbeda dengan Marquez, Quartararo terbebas dari cedera. Ia juga masih jauh lebih menonjol dibanding pembalap Yamaha lainnya.
Terakhir kali pembalap Yamaha selain Quartararo naik podium MotoGP adalah Maverick Vinales di Assen pada 2021. Sejak saat itu, Quartararo menjadi tumpuan utama tim.
Pembalap asal Prancis tersebut telah mengoleksi 16 podium grand prix sejak 2021, termasuk empat kemenangan. Kemenangan terakhir Yamaha sendiri terjadi pada pertengahan musim 2022.
Namun, posisi Quartararo di klasemen dunia terus menurun secara signifikan. Setelah finis juara dunia pada 2021 dan runner-up pada 2022, ia merosot ke posisi 10, lalu 13, dan akhirnya ke urutan 9 pada musim 2025.
Pada musim terakhir Yamaha M1 bermesin inline, Quartararo sempat kembali naik podium di Jerez serta meraih dua podium sprint. Ia juga hampir memenangkan MotoGP Inggris, namun secara keseluruhan musim tersebut jauh dari harapannya.
“Saya tentu ingin menang dan saya yakin masih mampu bersaing untuk banyak hal,” ujar Quartararo di akhir musim.
Pembalap berusia 26 tahun itu juga menegaskan bahwa kemampuannya saat ini lebih baik dibanding sebelumnya, meski hasil di lintasan belum memuaskan.
“Ya, jelas lebih baik. Saya belajar bagaimana menghadapi situasi sulit,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pada musim-musim sebelumnya, saat motor bermasalah, ia tetap memaksakan diri dengan kondisi tersebut. Kini, ia lebih memahami kelemahan motornya dan tahu cara tetap tampil kompetitif meski ada keterbatasan.
“Sekarang saya tahu masalah yang ada dan bisa tetap memacu motor tanpa terlalu terpengaruh. Saya selalu bisa menekan dan itu saya pelajari selama beberapa tahun terakhir,” jelasnya.
Meski merasa tidak sepenuhnya nyaman dengan motornya, Quartararo yakin kemampuannya sebagai pembalap sudah jauh meningkat dibanding masa lalu.
Kecepatan murninya juga terlihat dari raihan lima pole position musim ini. Jumlah tersebut menyamai Marco Bezzecchi dari Aprilia dan hanya kalah dari Marc Marquez yang mengoleksi delapan pole.
Pole position paling mengejutkan diraih Quartararo di seri penutup musim di Phillip Island. Ia mengaku tidak menyangka bisa meraihnya di sirkuit tersebut.
“Ini pole yang tidak saya duga. Mungkin yang terbaik buat saya,” katanya. Ia menilai Phillip Island sebagai salah satu trek paling cepat dan prestisius di kalender MotoGP.
Namun, performa impresif saat kualifikasi sering kali tidak berlanjut di balapan. Quartararo mengaku lebih banyak bertahan dibanding menyerang lawan.
“Di beberapa trek saya bisa sedikit lebih menekan, tapi kebanyakan saya hanya bertahan,” ujarnya.
Ia menyebut minimnya grip dan tenaga motor Yamaha membuatnya sulit melakukan manuver menyerang. Meski begitu, ia merasa telah banyak belajar soal bertahan di lintasan.
Masa depan Quartararo bersama Yamaha kini akan sangat bergantung pada performa motor baru bermesin V4 yang dijadwalkan mulai digunakan pada awal musim 2026.
(ant/aes)
Load more