Nama Dipa Nusantara (DN) Aidit selama ini identik sebagai pucuk pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekaligus tokoh kunci di balik peristiwa berdarah G30S -
DN Aidit seolah punya cerita plot twist meski dia dicap sebagai dalang G30S PKI. Di masa mudanya, ia ternyata dikenal sebagai pemuda yang agamis di kampungnya.
Sebelum dieksekusi, DN Aidit masih sempat meminta kopi dan rokok. Saat interogasi, ia mengakui bertanggung jawab atas tragedi G30S 1965. Bahkan, ia meminta agar
Nama DN Aidit tak bisa dipisahkan dari sejarah kelam Partai Komunis Indonesia (PKI). Sosoknya kerap dikaitkan dengan peristiwa berdarah G30S 1965 yang menewaskan
Selain menjadi algojo DN Aidit ketika menumpas simpatisan G30S PKI, Kolonel Yasir Hadibroto dikenal setia dengan Mayjen Soeharto yang menjabat Pangkostrad.
Jauh sebelum DN Aidit naik menjadi pucuk pimpinan, ternyata ada tokoh lain yang jauh lebih berpengaruh, bahkan disebut sebagai âkaki tangan langsung Uni Sovietâ di Indonesia.
Meskipun selalu diidentikkan dengan meletusnya peristiwa G30S PKI, ternyata banyak yang belum tahu sisi lain dari Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit, ketua PKI.
Meski dikenal sebagai tokoh kontroversial hingga kini, DN Aidit ternyata punya sisi lain dalam keluarganya sebagai anak sulung dari delapan bersaudara.
Konten kreator Herri Pras melaporkan peristiwa dirinya digeruduk hingga diduga mendapat aksi provokasi oleh sekelompok orang tidak dikenal (OTK) ke polisi.
Berikut profil hingga rekam jejak kasus ditangani AKBP Andika Dharma Sena, Kapolres Sukoharjo yang dicopot karena polemik penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran.
Hengki menegaskan larangan vape ini tak hanya berlaku saat dinas di kantor, tetapi juga di luar lingkungan kerja Polri bagi seluruh Pegawai Negeri pada Polri.
Modus perekrutan WNI TPPO sebagai tentara bayaran di Rusia ternyata dipromosikan melalui media sosial TikTok, Facebook, serta grup info loker oleh dua tersangka
AKBP Andika Dharma Sena resmi dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Kapolres Sukoharjo. Penonaktifan tersebut merupakan buntut kasus penggeledahan ponpes putri
Pengusaha Ferry "Boboho" Yanto Hongkiriwang dalam sidang menyebut pernah diperintah Febrie untuk meminta uang senilai Rp50 miliar dari pengusaha Tan Kian.