Melalui interogasi mendalam selama tiga hari terhadap Alvi Maulana (24), penyidik Satreskrim Polres Mojokerto berhasil mengungkap fakta baru kasus mutilasi keji Tiara Angelina Saraswati (25).
Kasus mutilasi yang dilakukan oleh AM (24) dengan membuang jasad di Jalur Pacet-Cangar, menambah rentetan fakta jika jalur tersebut kerap menjadi destinasi pembuangan mayat
Kasus mutilasi seorang perempuan berinisial TAS (25), mahasiswi asal Lamongan tewas ditangan kekasihnya bernama Alvi Maulana alias AM (24) di Mojokerto, Jawa Timur.
Kasus mutilasi di Mojokerto menjadi sorotan publik karena kesadisannya. Pelaku memotong-motong tubuh TAS menggunakan pisau daging, gunting dahan dan alat pengasah.
Terungkap motif Alvi Maulana alias AM (24) yang tega melakukan mutilasi terhadap kekasihnya, TAS (25) dan membuang jasad korban ke daerah Pacet, Mojokerto.
Terkuak fakta mengerikan terkait kasus pembunuhan sekaligus mutilasi TAS (25) oleh kekasihnya sendiri bernama Alvi Maulana alias AM di Mojokerto, Jawa Timur.
Aksi bejat yang dilakukan Kiai Ashari di Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah perlahan terbongkar oleh kesaksian para korban. Kini oknum telah jadi tersangka
Seorang santriwati Ponpes Ndholo Kusumo Pati akhirnya bicara kepada publik terkait modus Kiai Ashari sebelum melancarkan aksinya dengan mencabuli para korban.
Seorang santriwati dari Ponpes Ndholo Kusumo Pati mewakili 50 korban membeberkan alasan kenapa para korban mau menuruti permintaan temani tidur Kiai Ashari.
Oknum Kiai berinisial AS (51) atau Ashari ditetapkan sebagai tersangka. Korban merupakan santriwati Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah
Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo yang diduga mencabuli 50 santriwati sejak 2008 sempat tak akui identitasnya sebagai seorang kiai ketika diringkus polisi.
Gerak-gerik Kiai Ashari pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah ternyata sudah lama dinilai janggal, santriwati sering diajak lakukan ini saat malam.
Langkah unik diambil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), dalam menangani trauma psikologis yang dialami 18 siswi SMKN 2 Garut usai rambut mereka dipotong secara sepihak di sekolah,