- Pixabay
MUI Bilang Isu Warga Langkat Murtad Omong Kosong, Justru Klaim Mualaf Bertambah Banyak
Jakarta - Kabar yang menyebutkan bahwa banyaknya umat Islam di Kabupaten Langkat yang keluar dari agama Islam atau disebut dengan istilah murtad membuat geger.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Langkat pun buru-buru menepis isu yang menyebut banyak warga di Langkat yang menjadi murtad.
MUI mengklaim bahwa mereka telah melakukan investigasi ke 23 Kecamatan dengan melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Langkat, melalui Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Langkat.
Hasilnya isu pemurtadan itu nol persen atau tidak ada sama sekali. Sebaliknya, malah banyak warga Langkat non muslim yang masuk ke agama Islam.
Hal ini disampaikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Langkat setelah dilakukan investigasi dan Diketahui dari data Majelis Ulama Islam (MUI) Kabupaten Langkat terhitung dari Januari 2021 - Mei 2022.
Ketua MUI Langkat, H Zulkifli Ahmad Dian saat melaksanakan konferensi pers kepada insan pers Langkat di aula kantor MUI Langkat, Stabat, mengatakan tegas tidak ada pemurtadan di Langkat.
"Jadi isu adanya permutadan di Langkat secara massal maupun masif itu tidak benar. Tidak satu pun warga Muslim di Langkat yang pindah agama atau keluar dari Islam. Data ini terhitung dari Januari 2021 sampai saat ini," ucap Ketua MUI Kabupaten Langkat, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Langkat juga menjelaskan bahwa terkait kasus NB alias Nurhabibah Brutu yang sebelumnya diberitakan telah murtad adalah warga Kabupaten Deli Serdang dan bukan warga Kabupaten Langkat.
Namun kini Nurhabibah juga telah kembali memeluk agama Islam dan sudah kembali bersama keluarganya. "Dari keterangan keluarganya, Nurhabibah keluar dari Islam tanpa disadari dirinya, tapi kini telah kembali setelah diruqyah (diobati) oleh keluarganya," jelas Ketua Mui Kabupaten Langkat. Lebih lanjut, Ketua MUI Langkat didampingi Sekretaris MUI Langkat Ishaq Ibrahim, Kakan Kemenag Langkat H Zulfan Efendi, Kadis Kominfo Langkat dan Kabag Kesra Setdakab Langkat H Syahrizal menjelaskan terkait kronologi isu pemurtadan tersebut.
"Setelah menyelesaikan kuliahnya, Nurhabibah mencoba mencari kerja. Lalu datang JDPH alias Jansen Deni Putra Hutajulu menawarkan sebuah pekerjaan. Mereka saling mengenal melalui WhatsApp (WA). Setelah izin kepada keluarga, Jansen membawa Nurhabibah pergi dengan beralasan mencari kerja. Awalnya sempat kembali pulang. Namun berangkat lagi," kata Ketua MUI Langkat.