- Antara
Konsumsi Makanan Instan Masih Tinggi, Ahli Soroti Pola Makan Harian Keluarga di Indonesia
Pelaku usaha juga mulai menghadirkan produk dengan kadar gula rendah hingga tanpa gula. Saat ini, produksi minuman tanpa gula sudah mencapai 10 hingga 20 persen dari total produksi.
“Pada dasarnya lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi,” ungkap Dhedy.
Meski begitu, ia optimistis generasi mendatang akan lebih sadar terhadap pentingnya pola konsumsi sehat. “Ini hanya soal waktu,” tambahnya.
Isu lain yang menjadi tantangan adalah anggapan bahwa makanan dan minuman kemasan menjadi penyebab utama gizi buruk, stunting, hingga obesitas. Minuman berpemanis juga kerap dikaitkan dengan risiko diabetes.
“Dalam konteks asupan minuman manis terdiri dari tiga aspek,” jelas Dhedy.
Ia menyebut tiga sumber utama tersebut adalah minuman buatan sendiri, minuman siap saji, dan minuman kemasan berpemanis. Namun, hanya produk kemasan yang mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas sesuai aturan BPOM.
Data Kementerian Kesehatan pada 2014 menunjukkan bahwa konsumsi gula terbesar berasal dari gula pasir, diikuti sirup, sementara minuman kemasan berada di posisi terendah.
Sejalan dengan paparan Andriyanto sebelumnya, maka sangat penting untuk membangun komunikasi mengenai pola makan sehat di lingkungan keluarga. Pendekatan berbasis kebiasaan dan budaya menjadi langkah yang lebih efektif dalam mendorong perubahan. (rpi)