- Istimewa
Kasus Kanker Melonjak, Pemerintah Genjot Deteksi Dini dan Pemenuhan SDM Medis
Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan angka pengidap kanker di Indonesia saat ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan nasional.
Merespons tantangan tersebut, pemerintah mengambil langkah proaktif dengan memperkokoh sistem pertahanan kesehatan melalui berbagai upaya strategis, mulai dari percepatan deteksi dini, pemenuhan fasilitas infrastruktur medis, hingga transformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Komitmen besar ini ditegaskan dalam pertemuan internasional Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta.
Forum ini menjadi wadah penting untuk menyelaraskan visi dalam menghadapi ancaman kanker yang kian meningkat.
Berdasarkan data epidemiologi, Indonesia mencatat lebih dari 400.000 kasus baru kanker per tahun dengan angka kematian mengkhawatirkan. Tanpa intervensi agresif, beban kesehatan ini diproyeksikan akan melonjak tajam di masa depan
Garda Terdepan: Deteksi Dini Pelayanan Primer
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, kunci utama menekan angka kematian akibat kanker adalah menemukan penyakit ini sejak fase awal.
Kini pemerintah aktif mendorong optimalisasi puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan primer.
Salah satu gebrakan nyata tersebut adalah program cek kesehatan gratis pada hari ulang tahun, terutama bagi warga berusia 40 tahun ke atas dengan riwayat kesehatan risiko tinggi.
"Makin dini kanker ditemukan, makin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif serta meningkatkan angka harapan hidup," tegas Budi.
Selain memperkuat layanan dalam negeri, Indonesia juga memperluas kerjasama lintas negara melalui forum internasional seperti ICCF 2026.
Menurut Budi, forum ini menjadi sarana bertukar informasi, pengalaman, dan praktik terbaik penanganan kanker.
“Setiap negara memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dipelajari bersama, termasuk dalam mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Kolaborasi Internasional Menguatkan Pelayanan
Di samping infrastruktur, penguatan layanan penanganan kanker masih perlu didorong melalui kolaborasi internasional. Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B., Subsp.B.D(K), Dokter Subspesialis Bedah Digestif dan Pakar Transplantasi Hati Dewasa menyatakan, kualitas penanganan kanker hati di Indonesia saat ini mampu bersaing dengan berbagai pusat layanan kesehatan di luar negeri.
"Untuk tindakan operasi kanker hati, kemampuan kita sudah sangat baik dan sejalan dengan perkembangan di berbagai negara. Namun, pada bidang transplantasi hati masih diperlukan peningkatan kapasitas dan kolaborasi yang lebih luas," ujar dr. Wifanto.