news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Pertemuan internasional Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta..
Sumber :
  • Istimewa

Kasus Kanker Melonjak, Pemerintah Genjot Deteksi Dini dan Pemenuhan SDM Medis

Lonjakan angka pengidap kanker di Indonesia saat ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan nasional. 
Rabu, 15 Juli 2026 - 15:24 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan angka pengidap kanker di Indonesia saat ini menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan nasional. 

Merespons tantangan tersebut, pemerintah mengambil langkah proaktif dengan memperkokoh sistem pertahanan kesehatan melalui berbagai upaya strategis, mulai dari percepatan deteksi dini, pemenuhan fasilitas infrastruktur medis, hingga transformasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Komitmen besar ini ditegaskan dalam pertemuan internasional Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta. 

Forum ini menjadi wadah penting untuk menyelaraskan visi dalam menghadapi ancaman kanker yang kian meningkat.

Berdasarkan data epidemiologi, Indonesia mencatat lebih dari 400.000 kasus baru kanker per tahun dengan angka kematian mengkhawatirkan. Tanpa intervensi agresif, beban kesehatan ini diproyeksikan akan melonjak tajam di masa depan

Garda Terdepan: Deteksi Dini Pelayanan Primer 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, kunci utama menekan angka kematian akibat kanker adalah menemukan penyakit ini sejak fase awal. 

Kini pemerintah aktif mendorong optimalisasi puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan primer. 

Salah satu gebrakan nyata tersebut adalah program cek kesehatan gratis pada hari ulang tahun, terutama bagi warga berusia 40 tahun ke atas dengan riwayat kesehatan risiko tinggi.

"Makin dini kanker ditemukan, makin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif serta meningkatkan angka harapan hidup," tegas Budi.

Selain memperkuat layanan dalam negeri, Indonesia juga memperluas kerjasama lintas negara melalui forum internasional seperti ICCF 2026. 

Menurut Budi, forum ini menjadi sarana bertukar informasi, pengalaman, dan praktik terbaik penanganan kanker.

“Setiap negara memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dipelajari bersama, termasuk dalam mengatasi keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Kolaborasi Internasional Menguatkan Pelayanan  

Di samping infrastruktur, penguatan layanan penanganan kanker masih perlu didorong melalui kolaborasi internasional. Dr. dr. Wifanto Saditya Jeo, Sp.B., Subsp.B.D(K), Dokter Subspesialis Bedah Digestif dan Pakar Transplantasi Hati Dewasa menyatakan, kualitas penanganan kanker hati di Indonesia saat ini mampu bersaing dengan berbagai pusat layanan kesehatan di luar negeri.

"Untuk tindakan operasi kanker hati, kemampuan kita sudah sangat baik dan sejalan dengan perkembangan di berbagai negara. Namun, pada bidang transplantasi hati masih diperlukan peningkatan kapasitas dan kolaborasi yang lebih luas," ujar dr. Wifanto.

Dalam satu tahun jumlah tindakan transplantasi hati di Indonesia masih relatif terbatas, yaitu sekitar delapan sampai dua belas kasus saja. 

Oleh karena itu, kerjasama internasional diharapkan mampu meningkatkan kapasitas layanan melalui pertukaran ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, dan penguasaan teknologi bedah terkini.

"Kolaborasi ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan pusat transplantasi di Indonesia sehingga makin banyak pasien yang bisa menikmati pelayanan di dalam negeri tanpa harus berobat ke luar negeri," jelas dr. Wifanto.

Apa yang disampaikan dr. Wifanto sejalan dengan pernyataan Profesor Zhang Fu Jun, Director of China Anti-Cancer Association (CACA) Belt and Road International Training & Cooperation Unit. 

Dalam sesinya, Profesor Zhang Fu Jun menjelaskan tentang metode implan partikel radioaktif (brachytherapy) dalam pengobatan kanker, seperti kanker prostat dan paru-paru.

Metode ini membantu mempertahankan fungsi organ vital pada pasien. Bahkan, di Tiongkok teknik tersebut masuk dalam panduan resmi penanganan kanker hati stadium lanjut. 

Dalam sesi diskusi, Profesor Zhang Fu Jun menegaskan kesediaannya untuk berbagi pengalaman terkait standar keamanan, regulasi, dan prosedur pengelolaan pasien pada teknik brachytherapy tadi.

Di sinilah peran Modern Cancer Hospital Guangzhou (MCHG) menjadi penting. Sebagai platform utama pertukaran ilmu kedokteran onkologi antara Indonesia dan Tiongkok, MCHG fokus mengembangkan layanan diagnosis dan pengobatan kanker berskala global. Termasuk teknologi minimal invasif terkini seperti brachytherapy.

Kebutuhan SDM Multidisiplin

Menyikapi kesiapan kolaborasi antarnegara, keberadaan SDM kesehatan sebagai fondasi pelayanan kanker perlu mendapat atensi. Apalagi, penanganan kanker modern tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral. 

Ekosistem kesehatan nasional membutuhkan penguatan dari hulu ke hilir. Mulai dari dokter spesialis, radiografer, fisikawan medis, hingga perawat onkologi. Artinya, tren lonjakan kanker perlu diantisipasi melalui kesiapan SDM yang terlibat.

Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), drg. Arianti Anaya, MKM menyatakan bahwa menghadapi tren lonjakan kanker adalah tugas besar lintas disiplin. 

Untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan ini, KKI menggalakkan program fellowship dan hospital-based training guna mencetak tenaga medis kompeten.

"Jadi, kita bisa memulai, mempercepat, mendeteksi sejak awal, serta memberikan pengobatan paling efisien dan terbaik yang bisa diakses masyarakat," pungkas drg. Arianti.

Melalui kolaborasi internasional, termasuk dengan China Anti-Cancer Association (CACA), Indonesia berkomitmen mendorong riset klinis dan transfer teknologi medis mutakhir. 

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat kesiapan sistem kesehatan nasional demi memberikan akses pengobatan kanker yang merata, cepat, dan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. (dpi)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:12
01:26
05:21
06:10
00:56
04:23

Viral