- Tangkapan layar Youtube @trainspotter_id - ANTARA
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Tabrakan dengan KRL di Bekasi
Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian informasi antarindikator persinyalan.
Menurut KNKT, seharusnya ketika sinyal di depan masih menunjukkan kondisi tidak aman, sinyal keluar dari Stasiun Bekasi menunjukkan aspek hati-hati atau kuning. Namun dalam simulasi, sinyal tersebut dapat menunjukkan aspek aman atau hijau.
Masinis Disebut Kesulitan Melihat Sinyal
Selain persoalan sistem persinyalan, KNKT juga menemukan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pandangan masinis KA Argo Bromo Anggrek.
Soerjanto mengatakan, berdasarkan simulasi yang dilakukan dengan mengikuti kondisi dari dalam kabin lokomotif, masinis mengalami kesulitan melihat sinyal pengulang di petak antara Stasiun Bekasi dan Stasiun Bekasi Timur.
Penyebabnya adalah cahaya dari rumah warga, pasar, dan lampu penerangan di sekitar jalur kereta.
Intensitas dan warna cahaya dari lingkungan sekitar disebut menyerupai aspek pada sinyal pengulang sehingga berpotensi menyulitkan masinis membedakan indikator sinyal.
"Jadi ini kami mengikut di dalam kabin lokomotif, juga di kabin KRL, kita melihat malam situasinya, jadi masinis kesulitan untuk melihat sinyal pengulang, karena adanya pencahayaan dari lampu-lampu pasar dan rumah di sekitar rel," kata Soerjanto dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI pada 21 Mei 2026.
Ada Miskomunikasi antara Pengendali dan Masinis
KNKT juga menemukan persoalan komunikasi antara pengendali perjalanan kereta api atau PK dengan pihak yang berada di lapangan.
Sistem komunikasi dinilai terlalu berbelit karena KA 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada dalam wilayah komunikasi S.27 atau PK Selatan. Sementara KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan radio lokomotif dan berada dalam wilayah komunikasi S.1 atau PK Timur.
Kondisi tersebut membuat informasi harus diteruskan melalui beberapa pihak. PK Selatan perlu menyampaikan informasi kepada chief, kemudian informasi tersebut diteruskan kepada PK Timur.
Menurut KNKT, mekanisme tersebut membuat adanya jeda dalam penyampaian informasi mengenai kondisi perjalanan kereta.
Dalam kejadian tersebut, masinis KA Argo Bromo Anggrek disebut sempat melakukan pengereman dari jarak sekitar 1,3 kilometer setelah mendapatkan informasi bahwa terdapat KRL di depan.
Namun, KNKT menyebut PK tidak dapat mengetahui kondisi sebenarnya di sekitar Stasiun Bekasi Timur karena komunikasi hanya dilakukan melalui suara radio.