- ist
Gen Z Mau Kerja di Industri Teknologi Global? Jago AI, dan Kuasai Bahasa Mandarin Bisa Buka Peluang Karier Internasional
tvOnenews.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan industri teknologi Tiongkok membuka peluang baru bagi generasi muda Indonesia untuk membangun karier di pasar global.
Namun, menguasai teknologi saja belum tentu cukup untuk menembus persaingan internasional. Kemampuan berbahasa Mandarin, memahami budaya kerja, serta membaca dinamika bisnis lintas negara juga menjadi bekal penting bagi talenta yang ingin berkembang di tengah perubahan industri.
Hubungan bisnis Indonesia dan Tiongkok yang mencakup perdagangan, manufaktur, teknologi, hingga ekonomi digital turut memperluas kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi lintas budaya.
Di tengah perkembangan tersebut, perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga profesional dengan kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu berkomunikasi, membangun hubungan bisnis, dan memahami karakteristik pasar di negara mitra.
Peluang ini mendorong dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan kemampuan bahasa, pengetahuan bisnis, dan pengalaman internasional.
AI dan Teknologi Tiongkok Membuka Peluang Baru bagi Talenta Indonesia
Perkembangan industri teknologi menghadirkan peluang yang tidak terbatas pada pekerjaan teknis. Di sektor bisnis internasional, kemampuan memahami kebutuhan mitra, menjembatani perbedaan budaya, serta menyampaikan gagasan secara efektif menjadi kompetensi yang semakin relevan.
Salah satu upayanya hadir melalui program Joint Degree Global Business Chinese hasil kolaborasi dengan South China University of Technology (SCUT), Tiongkok. Program tersebut diperkenalkan di BINUS @Kemanggisan, Kampus Anggrek, Jakarta, Oktober 2026, dengan membawa pendekatan pendidikan yang menghubungkan pembelajaran di Indonesia dan Tiongkok.
Hal tersebut turut menjadi pembahasan dalam sesi diskusi yang menghadirkan Mohamad Rosidi, Director of Huawei Technologies, dan Steven Howard, entrepreneur sekaligus content creator. Dalam diskusi tersebut, Rosidi menyoroti pentingnya kompetensi lintas budaya di tengah perkembangan industri global.
Selain menguasai keterampilan teknis, talenta profesional perlu memiliki kemampuan komunikasi, memahami kebiasaan mitra bisnis, dan membangun hubungan kerja yang baik dengan pihak dari berbagai negara. Kombinasi keterampilan tersebut dapat membantu proses kolaborasi di lingkungan bisnis internasional yang semakin terhubung.
Perspektif lain disampaikan Steven Howard melalui pengalamannya selama 13 tahun tinggal dan menempuh pendidikan di Tiongkok hingga membangun bisnis di negara tersebut. Pengalaman itu memberinya pemahaman langsung mengenai budaya, perkembangan teknologi, serta karakteristik lingkungan usaha di Tiongkok.
Steven juga aktif menghubungkan pengusaha Indonesia dengan ekosistem bisnis Tiongkok melalui kegiatan business trip ke Shenzhen dan Beijing. Pengalamannya membangun bisnis di bidang pemasaran dan AI, termasuk bekerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, memberikan gambaran mengenai peluang yang dapat muncul dari perkembangan teknologi dan inovasi bisnis.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemahaman terhadap pasar internasional tidak hanya diperoleh dari teori. Interaksi langsung dengan lingkungan bisnis, budaya kerja, dan pelaku industri dapat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan global.
Bahasa Mandarin dan Pemahaman Bisnis Jadi Bekal Kompetitif
Di tengah hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok, kemampuan berbahasa Mandarin dapat membantu generasi muda berkomunikasi secara lebih efektif dengan mitra bisnis. Namun, penguasaan bahasa perlu diiringi pemahaman budaya dan pengetahuan bisnis agar dapat diterapkan dalam situasi profesional.
Head of Global Business Chinese, Dr. Jureynolds, S.S., M.Litt., menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa Mandarin perlu dipadukan dengan pemahaman budaya dan bisnis untuk menjawab kebutuhan dunia kerja.
“Melalui Global Business Chinese, kami ingin mempersiapkan mahasiswa yang tidak hanya menguasai bahasa Mandarin, tetapi juga memahami budaya dan bisnis internasional. Kolaborasi Joint Degree bersama South China University of Technology memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung di Tiongkok, memperluas jejaring, serta mendapatkan pengalaman internasional yang menjadi bekal penting untuk membangun karier di masa depan,” ujar Jureynolds.
Pendekatan tersebut menggabungkan kemampuan komunikasi dengan pemahaman terhadap lingkungan bisnis lintas negara. Bagi calon profesional, kombinasi ini relevan untuk berbagai bidang, mulai dari perdagangan internasional, pengembangan bisnis, pemasaran, hingga kerja sama perusahaan di sektor teknologi.
Pengalaman belajar di luar negeri juga dapat membantu mahasiswa mengenali perbedaan budaya profesional, menyesuaikan cara berkomunikasi, serta membangun jejaring dengan lingkungan akademik dan bisnis yang lebih luas.
Program ini terhubung dengan South China University of Technology di Guangzhou. Kota tersebut merupakan salah satu pusat ekonomi Tiongkok dan memiliki kedekatan geografis dengan Shenzhen serta Hong Kong, kawasan yang dikenal memiliki aktivitas bisnis dan teknologi yang dinamis.
SCUT juga tercatat menempati peringkat 342 dunia dalam QS World University Rankings 2027 dan peringkat 119 Asia dalam QS Asian University Rankings 2026. Peringkat tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat dipertimbangkan untuk mengenali posisi institusi mitra dalam lanskap pendidikan internasional.
Kuliah di Dua Negara, Mahasiswa Berkesempatan Mendapatkan Dua Gelar
Untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman internasional, BINUS University bersama SCUT menghadirkan program *Joint Degree* Global Business Chinese dengan skema pembelajaran 2+2.
Melalui skema ini, mahasiswa menjalani dua tahun pertama perkuliahan di Indonesia sebelum melanjutkan dua tahun berikutnya di Guangzhou, Tiongkok. Pada tahap awal, mahasiswa membangun fondasi bahasa Mandarin, pemahaman lintas budaya, serta kompetensi bisnis internasional. Pengalaman belajar di Tiongkok kemudian memberikan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan tersebut melalui interaksi langsung dengan lingkungan akademik dan budaya setempat.
Mahasiswa yang memenuhi persyaratan kedua institusi berkesempatan memperoleh dua gelar akademik, yakni Sarjana Sastra (S.S.) dari BINUS University dan Bachelor of Arts (B.A.) dari South China University of Technology.
Program ini ditujukan bagi mahasiswa aktif Global Business Chinese mulai angkatan BINUSIAN 2029 yang memenuhi ketentuan. Persyaratan yang disebutkan mencakup penyelesaian empat semester dengan minimal 84 SKS di BINUS University serta kemampuan bahasa Mandarin setara HSK Level 5 sesuai ketentuan SCUT.
Skema tersebut memberikan pengalaman pendidikan lintas negara sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasa, pengetahuan bisnis, dan adaptasi budaya. Meski demikian, pengalaman internasional dan dua gelar akademik bukan jaminan otomatis untuk memperoleh pekerjaan di perusahaan global.
Prospek karier tetap dipengaruhi kompetensi individu, kebutuhan industri, pengalaman profesional, serta kemampuan menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Perkembangan AI dan ekosistem teknologi Tiongkok tidak hanya menghadirkan kebutuhan terhadap talenta yang memahami teknologi, tetapi juga individu yang mampu menjembatani bahasa, budaya, dan kepentingan bisnis.
Kolaborasi pendidikan lintas negara menjadi salah satu jalur untuk mengenalkan generasi muda pada lingkungan tersebut.
Bagi mahasiswa yang ingin membangun karier internasional, perpaduan keterampilan digital, kemampuan bahasa Mandarin, pemahaman bisnis, dan pengalaman lintas budaya dapat menjadi bekal untuk menjajaki peluang di pasar global. (udn)