- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Haji Isam Akuisisi Saham BYAN, Gede Sandra Tegaskan Tak Terkait MSCI
"Dengan segala kejutannya MSCI ini, saya melihat pasar di AS ingin menghukum paradigma baru ekonomi pemerintahan Prabowo," imbuhnya.
Dugaan Kepentingan Investor Singapura
Pandangan mengenai kemungkinan adanya kepentingan eksternal juga disampaikan mantan Menteri Perdagangan, M Lutfi. Melalui akun TikTok m.lutfi, ia mengemukakan dugaan bahwa sejumlah kepentingan bisnis besar di Singapura dapat memiliki keterkaitan dengan dorongan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Lutfi menyoroti posisi Singapura sebagai salah satu pusat keuangan global. Data Departemen Statistik Singapura (SingStat) untuk 2024 yang dirujuk dalam pembahasan tersebut menunjukkan investasi asing di negara itu berada pada kisaran US$3,13 triliun hingga US$3,169 triliun. Amerika Serikat disebut sebagai salah satu sumber investasi terbesar, dengan nilai sekitar US$874,9 miliar atau kurang lebih 28 persen dari total yang dilaporkan.
Namun, besarnya investasi AS di Singapura tidak dengan sendirinya membuktikan adanya koordinasi antara investor kedua negara terkait kebijakan MSCI.
Dalam penjelasannya, Lutfi juga menyebut Temasek dan GIC sebagai institusi investasi Singapura yang menurut dugaannya berpotensi memiliki kepentingan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia. Ia menilai perubahan status pasar dapat memengaruhi arus modal serta valuasi saham domestik.
Lutfi mengklaim bahwa sebagian besar dana asing telah meninggalkan pasar Indonesia, tetapi pergerakan tersebut belum membuat harga saham domestik jatuh seperti yang ia perkirakan.
“Dana-dana asing sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia. Namun, bursa kita tidak hancur, harga saham tidak turun," ungkapnya.
Ia menduga perubahan klasifikasi oleh MSCI dapat memperbesar tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan membuka peluang bagi investor untuk membeli saham Indonesia pada valuasi yang lebih rendah. Meski demikian, dugaan mengenai motif tersebut belum disertai bukti yang memastikan adanya strategi terkoordinasi untuk menjatuhkan pasar saham Indonesia.
Lutfi mengakhiri pandangannya dengan mengajak masyarakat menjaga kepercayaan terhadap pasar domestik dan tidak mudah terpengaruh oleh sentimen negatif.
Transparansi dan Respons MSCI Jadi Perhatian
Perdebatan mengenai rencana perubahan klasifikasi pasar Indonesia memperlihatkan adanya perbedaan pandangan dalam menilai faktor yang memengaruhi kebijakan MSCI. Di satu sisi, Gede dan Lutfi menyoroti kemungkinan faktor eksternal. Di sisi lain, dugaan mengenai kepentingan negara atau institusi tertentu perlu dibedakan dari fakta yang dapat diverifikasi.