- REUTERS/Amir Cohen
Pemilu Israel: Partai Arab Ukir Sejarah Amankan 18 Kursi, Nasib Netanyahu di Ujung Tanduk
tvOnenews.com, Tel Aviv – Konstelasi politik di Israel mendadak membara pascapemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) pada Selasa (27/10/2026).
Partai-partai yang mewakili warga Arab-Israel mengukir sejarah baru dengan meraup perolehan suara tertinggi sepanjang keikutsertaan mereka di parlemen Israel, Knesset.
Berdasarkan hasil jajak pendapat dan proyeksi exit poll, dua wadah utama warga Arab, yakni Joint List dan Ra'am, diproyeksikan sukses mengamankan hingga 18 dari total 120 kursi di Knesset.
Lonjakan kursi signifikan ini dipicu oleh rekor partisipasi pemilih di kalangan warga Arab yang menyentuh angka 80 persen—menumbangkan rekor lama sejak 1999 lalu.
- YONATAN SINDEL/Pool via REUTERS
Di saat yang sama, dua poros kekuatan utama Yahudi justru terkunci dalam posisi imbang.
Blok oposisi pimpinan Partai Yashar milik mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot dan blok pimpinan Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu dari Partai Likud sama-sama tertahan di angka 51 kursi.
Kondisi buntu ini otomatis menempatkan faksi Arab sebagai pemegang kunci untuk menentukan siapa yang berhak memimpin pemerintahan baru.
Mansour Abbas Tegaskan Posisi Tawar Tinggi
Pemimpin Partai Ra'am Mansour Abbas tak membuang waktu untuk menegaskan posisi tawar strategis partainya.
Ia membocorkan bahwa komunikasi intensif sudah dikirimkan oleh kedua blok politik utama kepada partainya, baik sebelum maupun sesudah bilik suara ditutup demi mengamankan mayoritas syarat minimal 61 kursi.
"Dengan jumlah suara yang ada sekarang, tidak ada yang bisa membentuk pemerintahan tanpa bicara dengan kami," tegas Mansour Abbas saat diwawancarai Channel 12 Israel.
- Instagram/@sara.netanyahu
Namun merangkul faksi Arab bukan perkara mudah. Mantan Duta Besar Israel Alon Pinkas menilai kubu oposisi pimpinan Eisenkot kini berada dalam dilema besar mengingat janji kampanyenya yang menolak berkoalisi dengan partai Arab.
"Ada harga mahal yang harus dibayar. Warga Arab tidak bisa terus-menerus diabaikan dan baru dilirik hanya saat suaranya dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan," ulas Pinkas kepada Al Jazeera.
Melihat solidnya pemilih Arab, PM Benjamin Netanyahu merespons dengan melempar narasi ketakutan untuk membakar emosi pendukung sayap kanannya. Ia mengunggah foto antrean warga Arab di TPS lengkap dengan narasi provokatif.