Hasil Sementara Pemilu Israel: Walau Menang Pemilu Tak Jamin Netanyahu Jadi PM, Ini Penyebabnya
- Antara
tvOnenews.com, Yerusalem – Penghitungan surat suara Pemilihan Umum (Pemilu) nasional Israel yang digelar pada Selasa (27/10/2026) masih berlangsung ketat.
Berdasarkan laporan Komite Pemilu Pusat hingga Rabu, sekitar 56 persen atau 2,8 juta surat suara telah terhitung.
Hasil sementara mencatat Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu unggul di posisi puncak dengan perolehan 20,7 persen.
Posisi kedua ditempati Partai Yashar milik Gadi Eisenkot dengan 16,7 persen, disusul Aliansi Together besutan Naftali Bennett di urutan ketiga dengan 9 persen.
- YONATAN SINDEL/Pool via REUTERS
Dengan komposisi sementara ini, blok pendukung Netanyahu mengamankan 55 kursi, sementara blok oposisi meraup 49 kursi.
Karena ambang batas untuk membentuk pemerintahan membutuhkan minimal 61 dari 120 kursi Knesset, persaingan merayu partai-partai kecil dipastikan bakal memakan waktu alot hingga berbulan-bulan.
Mengapa Netanyahu Menang Pemilu Belum Tentu Jadi Perdana Menteri?
Sistem parlementer Israel memiliki dinamika unik di mana kemenangan partai terbesar tidak serta-merta menggaransi ketuanya menjadi Perdana Menteri.
Setelah hasil resmi diserahkan, Presiden Israel akan memanggil perwakilan partai yang lolos ambang batas 3,25 persen untuk mendengarkan rekomendasi nama calon PM.
Menurut analisis The Conversation, kandidat seperti Gadi Eisenkot atau Naftali Bennett berpeluang mendapat mandat pertama jika berhasil menggalang rekomendasi terbanyak dari koalisi oposisi.
- REUTERS/Amir Cohen
Sejarah pada Pemilu 2021 membuktikan Naftali Bennett sukses menjadi PM meski Partai Likud memegang kursi terbanyak di parlemen.
Calon PM pilihan presiden nantinya diberikan waktu 28 hari (plus perpanjangan 14 hari) untuk membentuk pemerintahan.
Jika dua putaran pembentukan koalisi gagal dan putaran ketiga di Knesset tidak membuahkan hasil, Israel terancam menggelar pemilu ulang.
Isu Wajib Militer Haredim Jadi Pertaruhan Koalisi
Peneliti dari Council on Foreign Relations (CFR) Elliot Abrams dan Steven A. Cook menilai retaknya koalisi Netanyahu dipicu oleh isu krusial yakni pembebasan wajib militer (wamil) bagi kaum Yahudi Ultra-Ortodoks (Haredim).
Partai berhaluan kanan ekstrem pimpinan Itamar Ben-Gvir—yang sempat keluar dari koalisi pada 2025—berpotensi menyeberang mendukung Eisenkot selama tuntutan perlindungan wamil bagi kelompok Haredim diakomodasi.
Di sisi lain, blok oposisi berada di posisi dilematis. Untuk menembus 61 kursi tanpa Haredim, mereka harus merangkul partai Arab (Ra'am)—sebuah langkah politis yang hingga kini masih dianggap tabu oleh mayoritas lanskap politik Israel.
Load more