- Rika Pangesti/tvOnenews.com
Tahu Tak Cocok untuk Daerah 3T, Ini Alasan Nadiem Makarim Tetap Pilih Pengadaan Laptop Chromebook
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) periode 2019-2024 Nadiem Makarim angkat bicara perihal alasan di balik kebijakannya untuk mengadakan sebanyak 1,1 juta laptop Chromebook dalam program pendidikan TIK.
Mulanya, Hotman Paris, kuasa hukum Nadiem Makarim, menjelaskan bahwa sebelum periode Nadiem sebagai menteri, pernah ada penelitian khusus untuk daerah 3T yang tidak memiliki akses internet.
Adapun, daerah 3T adalah daerah yang tertinggal, terdepan dan terluar. Daerah yang kondisi ekonominya kurang berkembang, dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.
- ANTARA FOTO/Ferlian Septa Wahyusa/nz
Tanpa mengesampingkan daerah 3T, Hotman menjelaskan, program pengadaan laptop yang dilakukan oleh Nadiem hanya ditargetkan untuk daerah yang memiliki akses internet lengkap.
Sebab, pada saat itu Tanah Air tengah dilanda wabah Covid-19 dan sekolah membutuhkan laptop untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
"Proyek beliau ini, apalagi waktu itu lagi corona ya, khusus memang untuk daerah yang non 3T. Yang memang ada internetnya lengkap," kata Hotman dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (10/6/2025).
Hotman juga membantah jika Nadiem Makarim disebut mengubah kajian hasil penelitian sebelumnya untuk pembelian laptop.
"Jadi tidak benar bahwa dia sengaja mengubah, walaupun 3T dipaksakan itu tidak benar," tegas Hotman.
Dalam kesempatan sama, Nadiem mengamini bahwa program pengadaan laptop tersebut ditargetkan untuk daerah non-3T (daerah yang tidak tertinggal dan memiliki akses internet lengkap).
Kata Nadiem, pengadaan 1,1 juta laptop Chromebook itu tidak ditargetkan untuk mereka yang berada di wilayah 3T.
Sebab, laptop itu membutuhkan jaringan internet yang stabil.
Dia menjelaskan, 1,1 juta laptop itu dibagikan untuk sekolah yang telah memiliki jaringan internet saja.
"Memang sepengetahuan saya ada narasi bahwa ada kajian yang menyebut bahwa Chromebook itu tidak cocok untuk diaplikasikan di sekolah. Saya ingin klarifikasi memang ada uji coba Chromebook yang terjadi sebelum masa kementerian saya. Dan uji coba tersebut itu dilakukan di daerah 3T," ungkap Nadiem.
"Saya ingin mengklarifikasi bahwa proses pengadaan laptop yang terjadi di masa jabatan saya tidak ditargetkan untuk daerah 3T, yang boleh menerima laptop dari pengadaan ini hanya sekolah-sekolah yang punya akses internet," sambungnya.
Itulah alasannya, kata Nadiem, pengadaan ini bukan hanya laptop, tapi juga ada modem wifi 3G dan juga proyektor, serta lain-lain yang diberikan untuk dapat mengakses internet itu.
"Jadi Kemendikbud Ristek membuat kajian yang komprehensif, tapi targetnya itu adalah bukan daerah 3T dan di dalam petunjuk teknis (juknis) sangat jelas hanya boleh diberikan kepada sekolah yang punya internet," tegas Nadiem.
Perihal alasannya yang memilih laptop Chromebook dibanding laptop dengan sistem operasi lain, Nadiem menjelaskan bahwa harga Chromebook lebih murah dibandingkan dengan laptop lainnya dengan spesifikasi yang sama.
"Chromebook itu kalau speknya sama selalu 10-30% lebih murah," kata Nadiem.
Selain itu, Nadiem menyebutkan bahwa operating system Chrome OS yang digunakan oleh Chromebook adalah gratis, sedangkan operating system lainnya berbayar.
Nadiem juga menekankan bahwa keamanan murid-murid dan guru-guru menjadi prioritas utamanya.
"Kontrol terhadap aplikasi yang bisa ada di dalam Chromebook sangat penting untuk melindungi murid-murid dan guru-guru kita dari pornografi, judi online, dan digunakan untuk gaming dan lain-lain," jelas Nadiem.
"Jadi berbagai macam alasan di dalam kajian ini benar-benar menunjukkan kenapa ada keunggulan dari aspek Chromebook," tandasnya. (rpi/muu)